Cerita Sex Memperkosa Anak Karyawan

Cerita Sex Memperkosa Anak Karyawan

Cerita Sex Memperkosa Anak Karyawan. Monalisa adalah gadis manis berusia 21 tahun yang sama sekali tidak menyadari bahaya bekerja sebagai kasir di toko serba ada yang buka 24 jam di Batam. Meskipun orang tuanya sering menganut agama, semangatnya untuk mandiri membuatnya tidak mempedulikan nasihat itu. Ia malah lebih suka bekerja di shift malam karena suasanan

Malam itu, seperti biasa, ia berjaga sendirian. Toko AC membuat udara terasa dingin, namun Monalisa tetap asyik membaca buku di balik meja kasir. Bibir mungilnya sesekali tersenyum tipis, jemarinya memainkan pena sambil

Dua sosok pria masuk dengan langkah berat. Monalisa mendongak, dan seketika jantungnya berdegup kencang. Salah satunya berambut gondrong — sebut saja Rehan — langsung menodongkan pistol ke wajahnya. Satunya lagi, tubuhnya kurus — sebut saja Rudi — buru-buru mencabut semua kabel kamer

“Cepat keluarkan uangnya, manis,” suara Rehan berat dan dingin. Monalisa tertegun, tangannya langsung gemetar saat meraih kunci laci kasir. Napasnya berburu, keringat dingin mengalir di pelipisnya. Saking paniknya kunci itu sampai jatuh beberapa kali ke lantai. Rehan mendekat, mendekatkanku

Setelah beberapa saat Monalisa berhasil membuka laci itu dan memerikan semua uang yang ada di dalamnya, sebanyak 100 ribu kepada si Rehan , Monalisa tidak diperkenankan menyimpan uang lebih dari 100 ribu di laci tersebut.

Karena itu kelebihannya setiapnya langsung dimasukkan ke lemari besi. Setelah si Rehan merampas uang itu, Monalisa langsung mundur ke belakang, ia sangat ketakutan kakinya lemas, hampir jatuh.

“Masa cuma segini?!” bentak si Rehan.

“Buka lemari besinya! Sekarang!” Mereka berdua menggiring Monalisa masuk ke kantor manajernya dan mendorongnya hingga jatuh pingsan di hadapan lemari besi. Monalisa mulai menangis, ia tidak tahu nomor kombinasi lemari besi itu, ia hanya menyelipkan uang masuk ke dalam lemari besi melalui celah pintunya.

“Cepat!!!” bentak si Rudi,

Monalisa merasakan pistol menempel di belakang kepalanya. Monalisa berusaha menjelaskan kalau ia tidak mengetahui nomor lemari besi itu. Untunglah, melihat mata Monalisa yang ketakutan, mereka berdua percaya.

“Brengsek!!!! Nggak sebanding sama risikonya! Ayo…Iket dia, biar dia nggak bisa manggil polisi!!!” Monalisa di dudukkan di kursi manajernya dengan tangan terikat ke belakang. Kemudian kedua kaki Monalisa juga diikatkan ke kaki kursi yang ia duduki. si Rudi kemudian mengambil plester dan menempelkannya ke mulut Monalisa.

“Beres! Ayo cabut!”

“Tunggu! Tunggu dulu rud! Liat dia, dia boleh juga ya?!”.

“Cepetan! Ntar ada yang tau! Kita cuma dapat 100 ribu, cepetan!”.

“Aku pengen liat bentar aja!”.

Mata Monalisa terbelalak ketika si Rehan mendekat dan menarik kaos merah muda yang dikenakannya. Dengan satu tarikan keras, kaos yang robek membuat BH-nya terlihat. Payudara Monalisa yang berukuran sedang, bergoyang-goyang karena Monalisa meronta-ronta dalam ikatannya.

“Wow, oke banget!” si Rehan berseru kagum.

“Oke, sekarang kita berangkat!” ajak si Rudi, tidak begitu tertarik pada Monalisa karena sibuk memperhatikan keadaan di depan toko.

Tapi si Rehan tidak peduli, ia sekarang meraba-raba puting tetek Monalisa lewat BH-nya, setelah itu ia memasukkan perkakas ke bagian payudara Monalisa. Dan tiba-tiba, dengan satu tarikan BH Monalisa ditariknya, tubuh Monalisa ikut tertarik ke depan, namun akhirnya tali BH Monalisa terputus dan sekarang payudara Monalisa bergoyang bebas tanpa menutupi selembar benangpun.

“Jangan!” teriak Monalisa . Tapi yang tedengar cuma suara gumaman. Terasa oleh Monalisa mulut si Rehan menghisapi puting teteknya pertama yang kiri lalu sekarang pindah ke kanan. Kemudian Monalisa menjerit ketika si Rehan mengigit puting teteknya.

“diam! Jangan berisik!” si Rehan menampar Monalisa, hingga berkunang-kunang. Monalisa hanya bisa menangis.

“Aku bilang diam!”, Sambil berkata itu si Rehan menampar buah dada Monalisa , sampai sebuah cap tangan berwarna merah terbentuk di payudara kiri Monalisa .

Kemudian si Rehan bergeser dan menampar uang sebelah kanan. Monalisa terus menjerit-jerit dengan mulut diplester, sementara si Rehan terus memukuli buah dada Monalisa sampai akhirnya bulatan buah dada Monalisa berwarna merah.

“Ayo, cepetan !”, si Rudi menarik tangan si Rehan .

“Kita musti cepet minggat dari sini!” Monalisa bersyukur ketika melihat si Rehan diseret keluar ruangan oleh si Rudi.

Payudaranya terasa sangat sakit, tapi Monalisa bersyukur ia masih hidup. Melihat sekelilingnya, Monalisa berusaha menemukan sesuatu untuk membebaskan dirinya. Di meja ada gunting, tapi ia tidak bisa bergerak sama sekali.

“Hey, Brooo! Tokonya kosong!”.

“Masa, cepetan ambil permen!”.

“Goblok Banget lo, cepetan ambil bir tolol!”.

Tubuh Monalisa menegang, mendengar suara beberapa anak-anak di bagian depan toko. Dari suaranya ia mengetahui bahwa itu adalah anak-anak berandal yang ada di lingkungan itu. Mereka baru berusia sekitar 12 sampai 15 tahun. Monalisa mengeluarkan suara minta tolong.

“ssssstt! Lo denger nggak?!”.

“Cepetan kembaliin semua!”.

“Ayooo….lari, lari! Kita ketauan!”.

Tiba-tiba salah seorang dari mereka menjengukkan kepalanya ke dalam kantor manajer. Ia terperangah melihat Monalisa , terikat di kursi, dengan t-shirt robek membuat buah dadanya mengacung ke arahnya.

“Buset!” berandal itu tampak terkejut sekali, tapi sesaat kemudian ia menyeringai.

“Hei, liat nih! Ada kejutan!”

Monalisa berusaha menjelaskan pada mereka, menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia berusaha menjelaskan bahwa dirinya baru saja dirampok. Ia berusaha minta tolong agar mereka memanggil polisi.

Ia berusaha memohon agar mereka melepaskan dirinya dan menutupi dadanya. Tapi yang keluar hanya suara gumanan karena mulutnya masih tertutup plester. Satu demi satu berandalan itu masuk ke dalam kantor. Satu, kemudian dua, lalu tiga. Empat. Lima!

Lima wajah-wajah dengan senyum menyeringai sekarang mengamati tubuh Monalisa , yang terus meronta-ronta berusaha menutupi tubuhnya dari pandangan mereka. Berandalan, yang berumur sekitar 15 tahun itu terkagum-kagum dengan penemuan mereka.

“Gila! Cewek nih!”.

“Dia telanjang!”.

“Tu liat teteknya ! tetek!”.

“Mana, mana Aku pengen liat!”.

“Aku pengen pegang!”.

“Pasti alus tuh!”.

“Bawahnya kayak apa yaaa?!”.

Mereka semua berkomentar bersamaan, kegirangan menemukan Monalisa yang sudah terikat erat. Kelima berandal itu maju dan merubung Monalisa , tangan-tangan meraih tubuh Monalisa .

Monalisa tidak tahu lagi, milik siapa tanga-tangan tersebut, semuanya berebutan mengelus pinggangnya, meremas buah dadanya, menjambak rambutnya, seseorang menjepit dan menarik-narik puting teteknya. Kemudian, salah satu dari mereka menjilati pipinya dan memasukan ujung lidahnya ke lubang telinga Monalisa.

“Ayooo, kita lepasin dia dari kursi!” Mereka kemudian melepaskan ikatan pada kaki Monalisa , tapi dengan tangan masih terikat di belakang, sambil terus meraba dan meremas tubuh Monalisa .

Melihat ruangan kantor itu terlalu kecil mereka menyeret Monalisa keluar menuju bagian depan toko. Monalisa meronta-ronta ketika merasa ada yang berusaha melepaskan kancing jeansnya.

Mereka menarik-narik celana jeans Monalisa sampai akhirnya turun sampai ke lutut. Monalisa terus meronta-ronta, dan akhirnya mereka berenam jatuh tersungkur ke lantai.

Sebelum Monalisa sempat membalikkan badannya, tiba-tiba terdengar suara lecutan, dan sesaat kemudian Monalisa merasakan sakit yang amat sangat di pantatnya. Monalisa melihat salah seorang berandal tadi memegang sebuah ikat pinggang kulit dan bersiap-siap mengayunkannya lagi ke pantatnya!

“Hei….Bangun! Bangun!” ia berteriak. Monalisa berusaha berguling melindungi pantatnya yang terasa sakit sekali. Tapi berandal tadi tidak peduli, ia kembali mengayunkan ikat pinggang tadi yang sekarang menghajar perut Monalisa .

“Bangun! naik ke sini!” berandal tadi menyapu barang-barang yang ada di atas meja layan hingga berjatuhan ke lantai. Monalisa berusaha bangun tapi tidak berhasil. Lagi, sebuah pukulan menghajar buah dadanya. Monalisa berguling dan berusaha berdiri dan berhasil berlutut dan berdiri.

Berandal tadi memberikan ikat pinggang tadi kepada temannya. “Kalo dia gerak, pukul aja!” Langsung saja Monalisa mendapat pukulan di pantatnya. Berandal-berandal yang lain tertawa dan bersorak. Mereka lalu mendorong dan menarik tubuhnya, membuat ia bergerak-gerak sehingga mereka punya alasan lagi buat memukulnya.

Berandal yang pertama tadi kembali dengan membawa segulung plester besar. Ia mendorong Monalisa hingga berbaring telentang di atas meja. Pertama ia melepaskan tangan Monalisa kemudian langsung mengikatnya dengan plester di sudut-sudut meja, tangan Monalisa sekarang terikat erat dengan plester sampai ke kaki meja.

Selanjutnya ia melepaskan sepatu, jeans dan celana dalam Monalisa dan mengikatkan kaki-kaki Monalisa ke kaki-kaki meja lainnya. Sekarang Monalisa berbaring telentang, telanjang bulat dengan tangan dan kaki terbuka lebar menyerupai huruf X.

“Waktu Pesta!” berandal tadi lalu menurunkan celana dan celana dalamnya. Mata Monalisa terbelalak melihat penisnya menggantung, setengah keras sepanjang 20 senti. Berandal tadi memegang pinggul Monalisa dan menariknya hingga mendekati pinggir meja. Kemudian ia menggosok-gosok penisnya hingga berdiri mengacung tegang.

“Waktunya masuk!” ia bersorak sementara teman-teman lainnya bersorak dan tertawa. Dengan satu dorongan keras, penisnya masuk ke memeknya Monalisa . Monalisa melolong kesakitan. Air mata meleleh turun, sementara berandal tadi mulai bergerak keluar masuk.

Temannya naik ke atas meja, menduduki dada Monalisa , membuat Monalisa sulit bernafas. Kemudian ia melepaskan celananya, mengeluarkan penisnya dari celana dalamnya. Plester di mulut Monalisa ditariknya hingga lepas. Monalisa berusaha berteriak, tapi mulutnya langsung dimasuki oleh penis berandal yang ada di atasnya.

Langsung saja, penis tadi mengeras dan membesar bersamaan dengan keluar masuknya penis tadi di mulut Monalisa . Pandangan Monalisa langsung berkunang-kunang dan merasa akan pingsan, ketika tiba-tiba saja mulutnya dipenuhi cairan kental, yang terasa asin dan pahit sekali.

Semprotan demi semprotan masuk ke mulut Monalisa , tanpa bisa dimuntahkan lagi oleh Monalisa . Ia terus menelan cairan tadi agar bisa terus bernafas. Tiba-tiba saja Berandal yang duduk di atas dada Monalisa turun, lalu berandal memasukkan penisnya ke memeknya Monalisa dan mendorong Monalisa di pinggir meja lalu menggenjot memek Monalisa Dengan tempo makin cepat.

Ia juga memukuli perut Monalisa , membuat Monalisa mengejang dan memeknya berkontraksi menjepit penisnya. Ia kemudian memegang buah dada Monalisa sambil terus bergerak makin cepat, ia mengerang-erang mendekati klimaks.

Tangannya langsung meremas dan menarik buah dada Monalisa ketika tubuhnya bergetar dan sperma tiba-tiba menyemprot keluar, terus-menerus mengalir masuk di memeknya Monalisa . Sedangkan berandal yang lainnya berdiri di samping meja dan melakukan masturbasi,

Dan ketika pimpinan mereka mencapai puncaknya mereka juga mengalami ejakulasi bersamaan. Sperma mereka menyemprot keluar dan jatuh di muka, rambut dan dada Monalisa .

Beberapa saat berlalu dan Monalisa tidak tahu apa yang terjadi selanjutnya, ketika tahu-tahu ia kembali sendirian di toko tadi, masih terikat erat di atas meja. Ia tersadar ketika menyadari dirinya terlihat jelas, jika ada orang lewat di depan tokonya.

Monalisa meronta-ronta membuat buah dadanya bergoyang-goyang. Ia menangis dan meronta berusaha melepaskan diri dari plester yang mengikatnya. Setelah beberapa lama mencoba Monalisa berhasil melepaskan tangan kanannya. Kemudian ia melepaskan tangan kirinya, kaki kanannya. Tinggal satu lagi nih.

“Wah, wah, waaaaah!!!” terdengar suara laki-laki yang berdiri di pintu depan. Monalisa sangat terkejut dan berusaha menutupi buah dada dan memeknya dengan kedua tangannya.

“Tolong saya!” ratap Monalisa .

“Tolong saya Pak! Toko saya dirampok, saya diikat dan diperkosa Pak! Tolong saya Pak, cepat panggilkan polisi!”

“Nama lu Monalisa kan?” tanya laki-laki tadi.

“Ba…bagaimana bapak tahu nama saya?” Monalisa bingung dan takut.

“Aku Aldo . Orang yang dulunya kerja di toko ini sebelum kau rebut!”.

“Tapi saya tidak merebut pekerjaan bapak. Saya tahunya dari iklan di koran. Saya betul-betul tidak tahu pak! Tolonglah saya pak!”.

“Gara-gara kamu ngelamar ke sini Aku jadi dipecat! Aku nggak heran kamu diterima kalo liat bodi mu”.

Monalisa kembali merasa ketakutan saat melihat Aldo , seseorang yang belum pernah dilihat dan dikenalnya tapi sudah membencinya. Monalisa kembali berusaha melepaskan ikatan di kaki kirinya, membuat Raoy naik pitam.

Ia menyambar tangan Monalisa dan menekuknya ke belakang dan kembali diikatnya dengan plester, dan plester itu terus dilitkan sampai mengikat ke bahu, hingga Monalisa betul-betul terikat erat. Ikatan itu membuat Monalisa kesakitan, ia menggeliat dan buah dadanya semakin membusung keluar.

“Lepaskannnn!! Sakittt!! adhh!! Saya tidak memecat kamu!!!! Tapi kenapa saya diikat ?!!”

“Sebenarnya Aku tadinya mau ngerampok nih toko, cuma kayaknya Aku udah keduluan. Jadi baiknya Aku rusak aja deh nih toko”.

Ia kemudian melepaskan ikatan kaki Monalisa sehingga sekarang Monalisa duduk di pinggir meja dengan tangan terikat di belakang. Dan diikatnya lagi dengan plester.

Dan Aldo mulai menghancurkan isi toko itu, etalase dipecahnya, rak-rak ditendang jatuh. Lalu Aldo juga menghancurkan kotak pendingin es krim yang ada di kanan Monalisa . Es krim beterbangan dilempar oleh Aldo . Beberapa di antaranya mengenai tubuh Monalisa , kemudian meleleh mengalir turun, melewati punggungnya masuk ke belahan pantatnya.

Di depan, Es tadi mengalir melalui belahan buah dadanya, turun ke perut dan mengalir ke memeknya Monalisa . Rasa dingin langsung menempel di buah dada Monalisa , membuat putingnya mengeras san mengacung. Ketika Aldo selesai, tubuh Monalisa bergetar kedinginan dan lengket karena es krim yang meleleh.

“Kamu keliatannya kedinginan!” ejek si Aldo sambil menyentil puting tetek Monalisa yang mengeras kaku.

“Aku harus ngasihh kamu sesuatu yang anget.”

Aldo kemudian mendekati wajan untuk mengoreng hot dog yang ada di tengah ruangan. Monalisa melihat Aldo mendekat membawa beberapa buah sosis yang berasap.

“Jaaaangaann!” Monalisa berteriak ketika Aldo membuka bibir memeknya dan memasukan satu sosis ke dalam memeknya yang terasa dingin karena es tadi. Kemudian ia memasukan sosis yang kedua, dan ketiga.

Sosis yang keempat putus ketika akan dimasukan. memeknya Monalisa sekarang diisi oleh tiga buah sosis yang masih berasap. Monalisa menangis karena kesakitan akibat uap panas dari sosis tersebut.

“Keliatannya nikmat Nih….Ha..Ha…!” Aldo tertawa.

“Tapi Aku lebih suka bermain dengan mustard!” Kemudian Ia mengambil botol mustard dan menekan botol itu.

Cairan mustard langsung keluar menyemprot ke memek Monalisa . Monalisa menangis terus, melihat dirinya disiksa dengan cara yang tak terbayangkan olehnya.

Sambil tertawa Aldo melanjutkan usahanya dengan menghancurkan isi toko itu. Monalisa berusaha melepaskan diri, tapi tak berhasil. Nafasnya sangat tersengal-sengal, ia tidak kuat menahan semua ini. Tubuh Monalisa bergerak lunglai jatuh.

“Hei!! Kamu kalo kerja jangan tidur!” bentak Aldo sambil menampar pipi Monalisa .

Kamu tau nggak, daerah sini nggak aman jadi perlu ada alarm.”

Monalisa meronta ketakutan melihat Aldo yang memegang dua buah jepitan buaya. Jepitan itu bergigi tajam dan jepitannya sangat keras sekali. Aldo segera mendekatkan satu jepitan ke puting tetek kanan Monalisa , menekannya hingga terbuka dan melepaskannya hingga menutup kembali menjepit puting teteknya Monalisa.

Monalisa menjerit dan melolong kesakitan, gigi jepitan tadi menancap ke puting teteknya . Kemudian Aldo juga menjepit puting tetek yang ada di sebelah kiri. Air mata Monalisa bercucuran di pipi.

Kemudian Aldo mengikatkan kawat halus di kedua jepitan tadi, lalu mengulurnya dan kemudian mengikatnya ke pegangan pintu masuk. Ketika pintu itu didorong Aldo hingga membuka keluar, Monalisa merasa jepitan tadi tertarik oleh kawat, dan membuat buah dadanya tertarik dan ia menjerit kesakitan.

“Nah…..,Hmmm… udah jadi. sekarang pintu depan ini bisa buka ke dalem ama keluar, tapi bisa juga disetel cuma bisa dibuka dengan cara ditarik bukan didorong.

Jadi Aku sekarang pergi dulu, terus nanti Aku pasang biar pintu itu cuma bisa dibuka kalo ditarik. Nanti kalo ada orang dateng, pas dia dorong pintu kan nggak bisa, pasti dia coba buat narik tuh pintu, nah, pas narik itu alarmnya akan bunyi!”

“Jaaaaaangan! saya mohoon! Jangan! jangan! jangan! ampun!

Aldo tidak peduli, ia keluar dan tidak lupa memasang kunci pada pintu itu hingga sekarang pintu tadi hanya bisa dibuka dengan ditarik. Monalisa menangis ketakutan, Dan puting teteknya sudah hampir rata, dijepit.

Ia terlihat meronta-ronta berusaha melepaskan ikatan. Tubuh Monalisa berkeringat setelah berusaha melepaskan diri tanpa hasil. Beberapa saat kemudian terlihat sebuah bayangan di depan pintu, Monalisa melihat ternyata bayangan itu milik gelandangan yang sering lewat dan meminta-minta.

Gelandangan itu melihat tubuh Monalisa, telanjang dengan buah dada mengacung. Segera saja Gelandang itu mendorong pintu masuk. Pintu itu tidak terbuka. Si Gelandangan langsung meraih pegangan pintu dan mulai menariknya.

Monalisa langsung menjerit “Jangan! jangan! jangan buka! jangaann!”, tapi gelandangan tadi tetap menarik pintu, yang kemudian menarik kawat dan menarik jepitan yang ada di puting teteknya.

Gigi-gigi yang sudah menancap di daging puting teteknya tertarik, merobek puting teteknya. Monalisa menjerit keras sekali sebelum jatuh di atas meja. Pingsan. Tapi Monalisa tersadar dan menjerit. Sekarang ia berdiri di depan meja kasir. Tangannya terikat ke atas di rangka besi meja kasir.

Dan kakinya juga terikat terbuka lebar pada kaki-kaki meja kasir. Ia merasa kesakitan. Puting teteknya sekarang berwarna ungu, dan menjadi sangat sensitif. Udara dingin saja membuat puting teteknya mengacung tegang.

Memar-memar menghiasi seluruh tubuhnya, mulai pinggang, dada dan pinggulnya. Monalisa merasakan sepasang tangan berusaha membuka belahan pantatnya dari belakang.

Sesuatu yang dingin dan keras berusaha masuk ke liang anusnya. Monalisa menoleh ke belakang, dan ia melihat gelandangan tadi berlutut di belakangnya sedang memegang sebuah botol bir.

“Ja…Jangan, ampun! Lepaskan saya pak! Saya sudah diperkosa dan dipukuli! Saya tidak tahan lagi.”

“Habisnya pantat Mbak kan belom diituin.” gelandangan itu berkata tidak jelas.

“Jangaaaaan!” Monalisa meronta, ketika penis si gelandangan tadi mulai berusaha masuk ke anusnya.

Setelah beberapa kali usaha, gelandangan tadi menyadari penisnya tidak bisa masuk ke dalam anusnya Monalisa. Lalu ia langsung berlutut lagi, mengambil sebuah botol bir dari rak dan mulai mendorong dan memutar-mutarnya masuk ke liang anus Monalisa.

Monalisa menjerit-jerit dan meronta-ronta ketika leher botol bir tadi mulai masuk dengan keadaan masih mempunyai tutup botol yang berpinggiran tajam. Liang anus Monalisa tersayat-sayat ketika gelandangan tadi memutar-mutar botol dengan harapan liang anus Monalisa bisa membesar.

Setelah beberapa Lama tiba-tiba gelandangan tadi mencabut botol tersebut. Tutup botol bir itu sudah dilapisi darah dari dalam anus Monalisa , tapi ia tidak peduli. Gelandang itu kembali berusaha memasukan penisnya ke dalam anus

Monalisa yang sekarang sudah membesar karena dimasuki botol bir. Gelandangan tadi mulai bergerak kesenangan, rasanya sudah lama sekali ia tidak meniduri perempuan, ia bergerak cepat dan keras sehingga Monalisa merasa dirinya akan terlepar ke depan setiap gelandangan tadi bergerak maju.

Monalisa terus menangis melihat dirinya disodomi oleh gelandangan yang mungkin membawa penyakit kelamin, tapi gelandangan tadi terus bergerak makin makin cepat, tangannya meremas buah dada Monalisa, membuat Monalisa menjerit karena puting teteknya yang terluka ikut diremas dan dipilih-pilin.

Akhirnya dengan satu erangan, gelandang tadi orgasme, dan Monalisa merakan cairan hangat mengalir dalam anusnya, sampai gelandangan tadi jatuh terduduk lemas di belakang Monalisa.

“Makasih yaaa Mbak, saya puas banget malam ini,” ucap pembawa acara itu dengan tawa serak. Setelah melepaskan ikatan Monalisa ia mendorong tubuh gadis itu duduk lalu kembali mengikat kedua tangannya ke belakang dan mengikat kakinya dengan kuat. Dengan kasar tubuh Monalisa diseret dan didorong ke bawah meja kasir sampai tidak terlihat dari luar. Gelandangan itu terus menggumamkan kata terima kasih sambil berjalan sempoyongan keluar

Monalisa hanya bisa menangis, tubuhnya gemetar hebat, merintih pelan saat merasakan cairan hangat itu mengalir keluar dari tubuhnya. Napasnya terengah-engah, matanya berat, kepalanya pusing, hingga akhirnya ia pingsan karena shok.

Saat sinar matahari pagi mulai menembus kaca depan toko, rekan kerjanya masuk untuk menggantikan shift. Pemandangan yang ia lihat membuatnya terperangah, Monalisa terbaring lemah di bawah meja dengan tubuh yang kotor dan masih terikat. Perlahan-lahan terbuka, menatap kosong ke arah rekan kerjanya. Campuran rasa malu, takut, dan tak percaya membuat air matanya

Malam itu menjadi malam yang tidak akan pernah ia lupakan. Malam yang merenggut kepolosannya sekaligus meninggalkan rasa aneh di hatinya, sebuah rasa yang membuatnya bertanya-tanya apakah.

Bersambungg