Cerita Sex Sisi Gelap Anak Kampus

Cerita Sex Sisi Gelap Anak Kampus
Cerita Sex Sisi Gelap Anak Kampus. Malam itu, seusai rapat organisasi, aku buru-buru menyalakan motor ndigan niat langsung pulang. Di kepala cuma ada tiga hal: makan, rebahan, lalu tidur. Tapi baru saja sampai di gerbang kampus, suara seseorang memanggil namaku. Aku menoleh, dan betapa terkejutnya—itu Linda, mahasiswi fakultas ekonomi. Ia berdiri sendirian di bawah lampu jalan yang temaram, seolah sedang menungguku. Seketika muncul pertanyaan di benakku: apa yang sebenarnya dilakukan Linda di sini, malam-malam begini?
“Belum pulang, Lin?” tanyaku sambil mematikan mesin motor.
“Belum, ndi. Lagi nunggu bis lewat… lama banget,” jawabnya sambil mengedip genit.
“Kalau bis-nya lama, mending gue antar aja, gimana?” ujarku menawarkan.
Linda menoleh cepat, matanya berbinar. “Seriusan mau nganteLin?”
Aku tersenyum miLing. “Ya, tapi nggak gratis, loh. Situ pasti udah tau maksud gue.”
Linda cekikikan kecil. “Ah, bisa aja kamu…
Linda mencubit kecil pinggangku lalu segera naik ke boncengan. Tangannya melingkat erat di pinggangku, lalu melajulah motor di ramainya jalanan. Lama-kelamaan si Linda malah menempelkan dadanya di punggungku. Tau nggak, rasanya benar-benar empuk dan hangat. Wuih, terasa bener kalau dia nggak pake beha. Sebagai laki-laki normal, wajar dong kalo batang kontolku tiba-tiba menegang.
ndi, gimana kalo kita mampir ke taman kota? Aku ndigar ada dangdutan di sana. Bisik Linda dekat di telinga kiriku.
Seleramu dangdut juga ya?
Linda kembali mencubit pinggangku, tapi kemudian mengelus-elus dadaku. Tengkukku mulai meLinding. Ada maunya nih anak, pikirku waktu itu. Mungkin aku sedang dihadapkan salah satu ayam kampus, nih. OK, siapa takut!
Aku segera membelokkan sepeda motor ke taman kota. Lalu mencari tempat yang agak remang tapi cukup strategis untuk menikmati isi panggung yang terletak di tengah taman kota itu. Panggung yang kira-kira berukuran 66 meter itu tampak meriah dikelilingi ratusan pengunjung. Irama dangdut menggema memekakkan telinga.
ndi, sini dong? Sini, duduk sama aku.
Aku duduk di belakang Linda yang masih duduk di boncengan motorku. Gadis itu nampaknya asyik benar mengikuti irama dangdut. Sedang aku lebih tertarik memelototi tubuh penyanyinya dibanding suaranya yang menurutku biasa saja.
Beberapa orang penyayi bergoyang hot membangkitkan gelora birahi para pria yang memandangnya, termasuk aku. Pandanganku beralih kepada Linda. Sayang aku hanya bisa memandang ubun-ubunnya saja. Aroma wangi menebar dari rambutnya yang bisa dibilang bagus, aroma yang eksotik. Kalau saja ada kesempatan, desahku.
ndi, kok diam saja? Belum pernah lihat orang goyang ya?
Bukannya gitu, cuman gila aja mandang tuh cewek. Berani bener joget kayak gitu,
Ah, segitu saja. Coba kemarikan tanganmu!
Aku mengulurkan tangan kananku. Astaga, gadis itu memasukkan tanganku di balik bajunya sehinga tanganku benar-benar bisa merasakan dadanya. KeLingat dinginku tiba-tiba merembes, dadaku bergemuruh.
Lin, apa-apaan kamu ini? Ujarku lirih tanpa menarik kembali tanganku.
Kamu nggak suka ya? Tanya Linda kalem.
Engh.. Bukannya begitu..anu Jawabku tergagap.
Aku tau kamu suka. Aku juga suka ndi, jadi nggak ada masalah kan? Kata Linda menoleh ke padaku.
I..iya sih.
Yah, begitulah. Akhirnya aku punya kesempatan. Tanganku membelai-belai dada Linda ndigan bebasnya. Mempermainkan putingnya ndigan gemas, kupelintir kesana kemari. Gadis itu bukannya kesakitan, tapi malah mendesah-desah kegirangan.
Aku sendiri sudah nggak tahu berapa kali menelan ludah. Rasanya ingin memelintir puting itu ndigan mulutku. Rupanya tangan kiriku mulai iri, lalu segera menyusul tangan kananku menerobos masuk di balik baju Linda. Meremas-remas kedua bukit yang tak terlihat itu.
ndi, Andi.. tangan-tanganmu benar-benar nakal. Hoh.. aduh.. geli ndi, Desah Linda menjambak rambutku yang cukup gondrong.
Lin, aku suka sekali.. bagaimana kalau kita..
Uhg.. heeh, iya.. aku mau. |rayuanjanda.com
Aku segera menghentikan kegiatanku mengobok-obok isi baju Linda. Lalu kami segera menuju sebuah hotel yang tak jauh dari taman kota. Tiada kami peduli ndigan beberapa pasang mata yang memandangi kami ndigan sejuta pikiran. Masa bodoh, yang penting aku segera bisa mengencani Linda.**
Segera aku bayar uang muka sewa kamar, lalu kami melenggang ke kamar 51. Linda yang sedari tadi memeluk tubuhku kini tergeletak di atas spLingbed. Matanya yang sayu bagai meminta, tangannya melambai-lambai. Aku langsung saja membuka kancing bajuku hingga bertelanjang dada.
ndi.. sudah lama aku inginkan kamu,
Oya? Kenapa tak bilang dari dulu? Ujarku sambil melepas kancing baju Linda.
Benarlah kini tampak, dua bukit kenyal menempel di dadanya. Tangan Linda membelai-belai perutku. Rasanya geli dan uh.. lagi-lagi aku meLinding. Kutekan-tekan kedua putingnya, bibir gadis itu mengulum basah. Matanya yang semakin memejam membuat birahiku semakin terkumpul menyesakkan dada.
ndi.. ayo.. kamu tak ingin mengulumnya? Ayo masukkan ke mulutmu.
Heh.. iya, pasti!
Aku segera mengangkangi Linda lalu berjongkok diatasnya, lalu menunduk mendekati dadanya. Kemudian segera memasukkan bukit kenyal itu ke dalam mulutku. Aku hisap putingnya perlahan, tapi semakin aku hisap rasanya aku pingin lebih sehingga semakin lama aku menghisapnya kuat-kuat. Seperti dalam haus yang sangat. Ingin rasanya aku mengeluarkan isi tetek  Linda, aku tekan dan remas-remas bukit gemuk itu penuh nafsu. Linda meLintih-Lintih kesakitan.
ndi.. hati-hati dong, sakit tahu! Perlahan.. perlahan saja Ok? Heh.. Yah, gitu.. eeh hooh..
Busyet, baru menghisap tetek  kiri Linda saja spermaku sudah muncrat. Batang kontolku terasa berndiyut-ndiyut sedikit panas. Linda bergelinjangan memegangi jeans yang aku pakai, seakan ingin aku segera melorotnya. Tapi aku belum puas mengemut tetek  Linda. Aku pingin menggilir tetek  kanannya.
Tapi ketika pandanganku mengarah pada bukit kanan Linda, wuih! Bengkak sebesar buah semangka. Putingnya nampak merah menegang, aku masih ingin memandanginya. Tapi Linda ingin bagian yang adil untuk kedua propertinya itu. Ayo ndi, yang adil dong.. Katanya sambil menyuguhkan tetek  kanannya ndigan kedua tangannya.
Aku memegangi tetek  kanan Linda, mengelusnya perlahan membuat Linda si ayam kampus tersenyum-senyum geli. Ia mendesah-desah ketika aku pelintir putingnya ke kanan dan ke kiri. Lalu segera mencomot putingnya yang tersipu ndigan mulutku. Puting itu tersendal-sendal oleh lidahku.
Andi.. dahsyat banget, uaohh.. enak.. ayo ndi.. teruss..
Linda menceracau tak karuan, tangannya menjambak-jambak rambut gondrongku. Kakinya bergelinjang-gelinjang kesana kemari. Binal juga gadis ini, pikirku. Aku berpindah menyamping, menghindari sepakan kaki Linda. Jangan sampai kontolku terkena sepakan kakinya, bisa kalah aku nanti.
Justru ndigan menyamping itulah Linda si ayam kampus semakin bebas. Bebas membuka resleting jeans yang dipakainya. Tapi dasar binal! Gerakannya yang tak karuan membuat kami berguling jatuh di lantai kamar. Dan tetek  kanannya lolos dari kulumanku.
Gimana sih, Lin? Jangan banyak gerak dong! Ujarku sedikit kesal.
Habis kamu ganas banget sih.. Hiburnya ndigan tatapan menggoda.
Untuk mengobati kekesalan hatiku Linda si ayam kampus segera membuka semua pakaiannya tanpa kecuali. Jelaslah sudah tubuh mungil Linda yang mempesona. Air liurku segera terbit, inginnya mengganyang tubuh mungil itu.
Tubuhnya yang meliuk-liuk semampai, dua tetek nya yang nampak ranum bengkak sebesar buah semangka, perutnya yang langsing bagai berstagen tiap hari, ahh.. Lalu, bagian kewanitaannya! Uhh, pussy itu cukup besar ndigan bulu-bulu basah yang menghiasinya. Pahanya yang sekal membuatku ingin mengelusnya, dan betisnya yang mulus nan langsat.. ehmm.. Maka ndigan tergesa-gesa aku melucuti pakaianku, tanpa terkecuali!
Wah! Pistolmu besar ndi! Kata Linda yang segera berjongkok dan meremas gemas batang kontolku yang sudah sangat tegang.
Auh.. jangan begitu, geli kan? Jawabku menepis tangannya.
Jangan malu-malu, pistol sebesar ini, pasti ampuh.
Linda terus saja membelai-belai batang kontolku yang ukurannya bisa dibilang mantap. Semakin lama batang kontolku semakin menegang, rasanya mau meledak saja. Tubuhku bagai tersiram air hangat yang kemudian mengalir di setiap sendi darahku. Engh, auh.. Aku berdehem-dehem asyik saat Linda si ayam kampus asyik memainkan jemari tangannya pada batang kontolku.
Telunjuk dan ibu jaLinya membentuk lingkaran yang kemudian digerak-gerakkan keluar masuk batang kontolku. Layaknya kontolku bermain hula hop. Spermaku mencoba meyeruak keluar, tapi aku tahan ndigan sekuat tenaga. Aku remas-remas rambut panjang Linda. Tapi kemudian Linda yang semakin gemas segera memasukkan batang keperkasaanku itu ke dalam liang mulutnya. Lalu dia mengemutnya bagai mengemut es lilin.
Ehg.. ehmm..
Terndigar suara desisan Linda bagai sangat menikmati batang kontolku, begitupun aku. Bagaimana tidak, bibir tebal Linda segera melumat kulit kontolku, lalu lidah Linda si ayam kampus menjilat-jilat ujungnya. Nafasku serasa putus, keLingatku merembes dari segala arah. Sedang Linda bagai kesetanan, terus saja menciptakan sejuta keindahan yang siap diledakkan.
Crot.. crot.. Tak ada yang bisa menahannya lagi. Spermaku keluar menyembur ke liang mulut Linda. Gadis itu nampak sedikit tersedak, beberapa sperma muncrat keluar mulutnya dan kemudian membasahi pangkal kontolku.
Ehmm.. ehmm.. keluarkan teruss.. ehmm, Ujar Linda ndigan mulut yang penuh ndigan cairan spermaku. Srup, srup, ia meminumnya ndigan semangat sambil tangannya menggelayut di pahaku. Ujung kontolku dikenyot-kenyot membuat geloraku makin berndiyut-ndiyut.
Karena tak tahan maka tak ayal lagi aku segera menubruknya. Menindih tubuh mungilnya lalu melahap bibir nakalnya. Lidah kami bergelut di dalam, menggigit-gigit gemas dan penuh nafsu. Tak peduli Linda si ayam kampus meLintih-Lintih. Entah karena aku terlalu rakus mengganyang bibirnya, atau berat menahan tindihanku. Yang pasti Lintihan Linda terndigar sangat merdu di telingaku.
BACA JUGA : https://rayuanjanda.com/cerita-sexku-berawal-bermain-dokter-dokteran/
Maka setelah puas mencumbui bibirnya aku segera beralih kepada pussy-nya. Benda keramat itu entah sudah berapa kali kebobolan, aku tak peduli. Kali ini ganti kau yang kukerjain, pikirku.
Langsung saja aku lebarkan paha Linda sehingga jelas pussy berumput yang sangat basah itu. Jemariku memainkan daging gemuk itu. menyusuri perbukitan yang berlorong. Lalu memelintir klitorisnya ke kanan dan ke kiri. Surr.. menyembur lagi cairan kewanitaan Linda. Bening menetes diantara jemariku.
ndi.. tunggu apa.. ayo dong..
Aku datang sayang.
Wajahku segera mendekat ke pussy Linda si ayam kampus . Lalu tanganku sedikit membuka si pussy sehingga aku bisa menikmati goa kenikmatan itu ndigan mataku walau hanya sebentar. Srup, srup, aku jilati pussy basah itu. Lidahku sengaja mencari-cari lubang yang mungkin bisa kutembus.
Lidahku semakin ke dalam. Mempermainkan klitorisnya yang kenyal. Tanganku pun menyempurnakan segalanya. Bermain-main di tetek  Linda yang semakin tegang, mengeras. Sayup-sayup terndigar suara erangan Linda. Aku harap gadis itu juga menikmatinya.
Ayouhh ndi, masukk, aku tak tahan lagi..
Suara gadis itu terndigar lemah, mungkin sudah keletihan. Aku pun sudah cukup puas beranal ria. So, tunggu apa lagi?? Aku meminta Linda untuk menungging. Gadis itu menurut ndigan wajah letih namun penuh semangat. Kemudian aku segera memasukkan kontolku ke lubang kawinnya. Mudah. Sekali hentakan sudah masuk. Lalu kucabut dan kumasukkan berkali-kali. Lalu kubiarkan terbenam di dalam beberapa menit.
Eghh.. Linda si ayam kampus menahan rasa nikmat yang kemudian tercipta.
Tubuhnya sedikit mengejang tapi kemudian bergoyang-goyang mengikuti gerakan kontolku. Aku segera mengocok kontolku ndigan kekuatan penuh. Dan kemudian.. kembali spermaku muncrat keluar memenuhi lubang kawin Linda.
Beberapa saat kami saling menikmati kenikmatan itu. darahku seakan berhenti mengalir seperti ada hawa panas yang menggantikan aliran darahku. Seluruh persendian terasa tegang, tapi kemudian seperti ada rasa kepuasan yang tak bisa terucapkan.
Hingga kemudian aku mencabut kembali batang kontolku dari pussy Linda si ayam kampus . Gadis itu kembali terlentang di lantai kamar hotel. Sedang aku segera menghempaskan tubuhku di atas kasur. Dinginnya lantai kamar yang menyentuh jemari kakiku tak bisa mengalahkan panasnya suasana kamar itu. Bau keLingat kami berbaur.
Namun tiba-tiba batang kontolku yang sudah mulai mengendur tersentuh kulit halus wanita. Ketika aku mendongakkan wajah ternyata Linda yang telah duduk di depan kakiku sambil mengelus-elus batang kontolku.
ndi, kamu hebat banget. Aku benar-benar puas.
Ehng.. kamu juga. Sekarang kamu mau minta apa??
Gadis itu masih diam sambil terus mempermainkan batang kontolku. Gawat, bisa-bisa bangun lagi batang kontolku. Bisa perang lagi nih, dobel dong tarifnya.

Kamu minta apa? HP? Duit? .. Aku minta.. minta lagi deh, Kata Linda si ayam kampus yang kemudian kembali mengenyot batang kontolku. Waduh, bisa-bisa lembur nih!, pikirku.

Bersambung