Cerita Sexku Menikmati Kakak Adek. Cerita ini berawal ketika aku pacaran dengan Melisa, Melisa adalah seorang gadis mungil dengan tubuh yang seksi dan dibalut oleh kulit yang putih mulus. Walaupun teteknya tidak terlalu besar, ya.. kira-kira berukuran 34 lah. Selama pacaran, kami belum pernah berhubungan badan. Hanya saja kalau nafsu sudah tidak bisa ditahan, biasanya kami melakukan oral sex
Melisa memiliki dua orang adik perempuan yang cantik. Adiknya yang pertama, namanya Siti, juga mempunyai kulit yang putih mulus. Namun teteknya jauh lebih besar daripada kakaknya. Menurut kakaknya, ukurannya 36B. Inilah yang selalu menjadi perhatianku kalau aku sedang ngapel ke rumah Melisa. teteknya yang berayun-ayun kalau sedang berjalan, membuat kontolku berdiri tegak karena membayangkan betapa enaknya memegang teteknya.
Sedangkan adiknya yang kedua masih kelas 2 SMP. Namanya Friska. Tidak seperti kedua kakaknya, kulitnya berwarna sawo matang. Tubuhnya semampai seperti seorang model cat walk. teteknya baru tumbuh. Sehingga kalau memakai baju yang ketat, hanya terlihat tonjolan kecil dengan puting yang mencuat. Walaupun begitu, gerak-geriknya sangat sensual.
Pada suatu hari, saat di rumah Melisa sedang tidak ada orang, aku datang ke rumahnya. Wah, pikiranku langsung terbang ke mana-mana. Apalagi Melisa mengenakan daster dengan potongan dada yang rendah berwarna hijau muda sehingga terlihat kontras dengan kulitnya. Kebetulan saat itu aku membawa VCD yang baru saja kubeli. Maksudku ingin kutonton berdua dengan Melisa. Baru saja hendak kupencet tombol play, tiba-tiba Melisa menyodorkan sebuah VCD Porno
Hei, dapat darimana sayang? tanyaku sedikit terkejut.
Dari teman. Tadi dia titip ke Melisa karena takut ketahuan ibunya, katanya sambil duduk di pangkuanku.
Nonton ini aja ya sayang. Melisa kan belum pernah nonton yang kayak gini, ya? pintanya sedikit memaksa.
Oke, terserah kamu, jawabku sambil menyalakan TV.
Beberapa menit kemuMelisa, kami terpaku pada adegan panas demi adegan panas yang ditampilkan. Tanpa terasa kontolku mengeras. Menusuk-nusuk pantat Melisa yang duduk di pangkuanku. Melisa pun memandang ke arahku sambil tersenyum. Rupanya dia juga merasakan.
Ehm, kamu udah terangsang ya sayang? tanyanya sambil mendesah dan kemuMelisa mengulum telingaku. Aku hanya bisa tersenyum kegelian. Lalu tanpa basa-basi kuraih bibirnya yang merah dan langsung kucium, kujilat dengan penuh nafsu. Jari-jemari Melisa yang mungil mengelus-elus kontolku yang semakin mengeras.
Lalu beberapa saat kemuMelisa, tanpa kami sadari ternyata kami sudah telanjang bulat. Segera saja Melisa kugendong menuju kamarnya. Di kamarnya yang nyaman kami mulai melakukan foreplay. Kuremas teteknya yang kiri. Sedangkan yang kanan kukulum putingnya yang mengeras. Kurasakan teteknya semakin mengeras dan kenyal. Kuganti posisi. Sekarang lidahku liar menjilati memeknya yang basah. Kuraih klitorisnya, dan kugigit dengan lembut.
Aahh.. ahh.. sa.. sayang, Melisa udah nggak kuat.. emh.. ahh.. Melisa udah mau keluar.. aackh.. ahh.. ahh! Kurasakan ada cairan hangat yang membasahi mukaku. Setelah itu, kudekatkan kontolku ke arah mulutnya. Tangan Melisa meremas batangku sambil mengocoknya dengan perlahan, sedangkan lidahnya memainkan buah pelirku sambil sesekali mengulumnya. Setelah puas bermain dengan buah pelirku, Melisa mulai memasukkan kontolku ke dalam mulutnya.
Mulutnya yang mungil tidak muat saat kontolku masuk seluruhnya. Tapi kuakui sedotannya memang nikmat sekali. Sambil terus mengulum dan mengocok batang kontolku, Melisa memainkan puting susuku. Sehingga membuatku hampir ejakulasi di mulutnya. Untung masih dapat kutahan. Aku tidak mau keluar dulu sebelum merasakan kontolku masuk ke dalam memeknya yang masih perawan itu.
Saat sedang hot-hotnya, tiba-tiba pintu kamar terbuka. Aku dan Melisa terkejut bukan main. Ternyata yang datang adalah kedua adiknya. Keduanya spontan berteriak kaget.
Kak Melisa, apa-apan sih? Gimana kalau ketahuan Mama? teriak Friska. Sedangkan Siti hanya menunduk malu. Aku dan Melisa saling berpandangan. KemuMelisa aku bergerak mendekati Friska. Melihatku yang telanjang bulat dengan penis yang berdiri tegak, membuat Friska berteriak tertahan sambil menutup matanya.
Iih.. Kakak! jeritnya. Itunya berdiri! katanya lagi sambil menunjuk kontolku. Aku hanya tersenyum melihat tingkah lakunya.
Setelah dekat, kurangkul dia sambil berkata, Friska, Kakak sama Kak Melisa kan nggak ngapa-ngapain. Kita kan lagi pacaran. Yang namanya orang pacaran ya.. kayak begini ini. Nanti kalo Friska dapet pacar, pasti ngelakuin yang kayak begini juga. Friska udah bisa apa belum? tanyaku sambil mengelus pipinya yang halus. Friska menggeleng perlahan.
Mau nggak Kakak ajarin? tanyaku lagi. Kali ini sambil meremas pantatnya yang padat.
Mmh, Friska malu ah Kak, desahnya.
Kenapa musti malu? Friska suka nggak sama Kakak? kataku sambil menciumi belakang lehernya yang ditumbuhi rambut halus.
Ahh, i.. iya. Friska udah lama suka ama Kakak. Tapinya nggak enak sama Kak Melisa, jawabnya sambil memejamkan mata.
Tampaknya Friska menikmati ciumanku di lehernya. Setelah puas menciumi leher Friska, aku beralih ke Siti.
Kalo Siti gimana? Suka nggak ama Kakak? Siti mengangguk sambil kepalanya masih tertunduk.
Ya udah. Kalo gitu tunggu apa lagi, kataku sambil menggandeng keduanya ke arah tempat tidur.
Siti duduk di pinggiran tempat tidur sambil kusuruh untuk mengulum kontolku. Pertamanya sih dia nggak mau, tapi setelah kurayu sambil kuraba teteknya yang besar itu, Siti mau juga. Bahkan setelah beberapa kali memasukkan kontolku ke dalam mulutnya, Siti tampaknya sangat menikmati tugasnya itu. Sementara Siti sedang memainkan kontolku, aku mulai merayu Friska. Friska, bajunya Kakak buka ya? pintaku sedikit memaksa sambil mulai membuka kancing baju sekolahnya. Lalu kulanjutkan dengan membuka roknya. Ketika roknya jatuh ke lantai, terlihat CD-nya sudah mulai basah.
Segera saja kulumat bibirnya dengan bibirku. Lidahku bergerak-gerak menjilati lidahnya. Friska pun kemuMelisa melakukan hal yang sama. Sambil tetap menciumi bibirnya, tanganku bermaksud membuka BH-nya. Tapi segera ditepiskannya tanganku.
Jangan Kak, malu. Dada Friska kan kecil, katanya sambil menutupi dadanya dengan tangannya. Dengan tersenyum kuajak dia menuju ke kaca yang ada di meja rias. Kusuruh dia berkaca. Sementara aku ada di belakangnya. Dibuka dulu ya! kataku membuka kancing BH-nya sambil menciumi lehernya.
Setelah BH-nya kujatuhkan ke lantai, teteknya kuremas perlahan sambil memainkan putingnya yang berwarna coklat muda dan sudah mengeras itu. Nah, kamu lihat sendiri kan. Biar dada kamu kecil, tapi kan bentuknya bagus. Lagian kamu kan emang masih kecil, wajar aja kalo dada kamu kecil. Nanti kalo udah gede, dada kamu pasti ikutan gede juga, kataku sambil mengusapkan kontolku ke belahan pantatnya.
Friska mendesah keenakan. Kepalanya bersandar ke dadaku. Tangannya terkulai lemas. Hanxa nafasnya saja yang kudengar makin memburu. Segera kugendong dia menuju ke tempat tidur. Kutidurkan dan kupelorotkan CD-nya. Bulu kemaluannya masih sangat jarang. Menyerupai bulu halus yang tumbuh di tangannya. Kulebarkan kakinya agar mudah menuju ke memeknya. Kucium dengan lembut sambil sesekali kujilat klitorisnya. Sementara Siti kusuruh untuk meremas-remas teteknya adiknya itu. Aahh.. ach.. ge.. geli Kak. Tapi nikmat sekali, aahh terus Kak. Jangan berhenti. Mmh.. aahh.. ahh.
Setelah puas dengan vagina Friska. Aku menarik Siti menjauh sedikit dari tempat tidur. Melisa kusuruh meneruskan. Lalu dengan gaya 69, Melisa menyuruh Friska menjilati memeknya. Sementara itu, aku mulai mencumbu Siti. Kubuka kaos ketatnya dengan terburu-buru. Lalu segera kubuka BH-nya. Sehingga teteknya yang besar bergoyang-goyang di depan mukaku.
Wow, tete kamu bagus banget. Apalagi putingnya, merah banget kayak permen, godaku sambil meremas-remas teteknya dan mengulum putingnya yang besar. Sedangkan Siti hanya tersenyum malu. Ahh, ah Kakak, bisa aja, katanya sambil tangan kirinya mengelus kepalaku dan tangan kanannya berusaha manjangkau kontolku.
Melihat dia kesulitan, segera kudekatkan kontolku dan kutekan-tekankan ke memeknya. Sambil mendesah keenakan, tangannya mengocok kontolku. Karena kurasakan air maniku hampir saja muncrat, segera kuhentikan kocokannya yang benar-benar nikmat itu. Harus kuakui, kocokannya lebih nikmat daripada Melisa. Setelah menenangkan diri agar air maniku tidak keluar dulu, aku mulai melorotkan CD-nya yang sudah basah kuyup.
Begitu terbuka, terlihat bulu kemaluannya lebat sekali, walaupun tidak selebat Melisa, sehingga membuatku sedikit kesulitan melihat memeknya. Setelah kusibakkan, baru terlihat memeknya yang berair. Kusuruh Siti mengangkang lebih lebar lagi agar memudahkanku menjilat memeknya. Kujilat dan kuciumi memeknya. Kepalaku dijepit oleh kedua pahanya yang putih mulus dan padat. Nyaman sekali pikirku.
aahh, Kak.. Siti mau pipiss.. erangnya sambil meremas pundakku.
Keluarin aja. Jangan ditahan, kataku.
Baru selesai ngomong, dari memeknya terpancar air yang lumayan banyak. Bahkan kontolku sempat terguyur oleh pipisnya. Wah nikmat sekali jeritku dalam hati. Hangat.
Setelah selesai, kuajak Siti kembali ke tempat tidur. Kulihat Melisa dan Friska sedang asyik berciuman sambil tangan keduanya memainkan memeknya masing-masing. Sementara di sprei terlihat ada banyak cairan. Rupanya keduanya sudah sempat ejakulasi. Karena Melisa adalah pacarku, maka ia yang dapat kesempatan pertama untuk merasakan kontolku. Kusuruh Melisa nungging. Sayang, Melisa udah lama nunggu saat-saat ini, katanya sambil mengambil posisi nungging. Setelah sebelumnya sempat mencium bibirku dan kemuMelisa mengecup kontolku dengan mesra.
Tanpa berlama-lama lagi, kuarahkan kontolku ke memeknya yang sedikit membuka. Lalu mulai kumasukkan sedikit demi sedikit. memeknya masih sangat sempit. Tapi tetap kupaksakan. Dengan hentakan, kutekan kontolku agar lebih masuk ke dalam. Aachk! Sayang, sa.. sakit! aahhck.. ahhck.. Melisa mengerang tetapi aku tak peduli. kontolku terus kuhunjamkan. Sehingga akhirnya kontolku seluruhnya masuk ke dalam memeknya. Kuistirahatkan kontolku sebentar.
Kurasakan memeknya berdenyut-denyut. Membuatku ingin beraksi lagi. Kumulai lagi kocokan kontolku di dalam memeknya yang basah sehingga memudahkan kontolku untuk bergerak. Kutarik kontolku dengan perlahan-lahan membuatnya menggeliat dalam kenikmatan yang belum pernah dia rasakan sebelumnya. Makin kupercepat kocokanku. Tiba-tiba tubuh Melisa menggeliat dengan liar dan mengerang dengan keras. KemuMelisa tubuhnya kembali melemas dengan nafas yang memburu. Kurasakan kontolku bagai disemprot oleh air hangat. Rupanya Melisa sudah ejakulasi. Kucabut kontolku dari memeknya. Terlihat ada cairan yang menetes dari memeknya.
Kok ada darahnya sayang? tanya Melisa terkejut ketika melihat ke memeknya.
Kan baru pertama kali, balas Melisa mesra.
Udah, nggak apa-apa. Yang penting nikmat kan sayang? kataku menenangkannya sambil mengeluskan kontolku ke mulut Siti. Melisa cuma tersenyum dan setelah kucium bibirnya, aku pindah ke Siti.
Sambil mengambil posisi mengangkang di atasnya, kudekatkan kontolku ke mulutnya. Kusuruh mengulum sebentar. Lalu kuletakkan kontolku di antara belahan teteknya. KemuMelisa kudekatkan kedua teteknya sehingga menjepit kontolku. Begitu kontolku terjepit oleh teteknya, kurasakan kehangatan. Ooh.. Siti, hangat sekali. Seperti vagina, kataku sambil memaju-mundurkan pinggulku. Siti tertawa kegelian. Tapi sebentar kemuMelisa yang terdengar dari mulutnya hanyalah desahan kenikmatan.
Setelah beberapa saat mengocok kontolku dengan teteknya, kutarik kontolku dan kuarahkan ke mulut bawahnya. Dimasukin sekarang ya? kataku sambil mengusapkan kontolku ke bibir kewanitaannya. Kusuruh Siti lebih mengangkang. Kupegang kontolku dan kemuMelisa kumasukkan ke dalam kewanitaannya. Dibanding Melisa, vagina Siti lebih mudah dimasuki karena lebih lebar. Kedua jarinya membuka kewanitaannya agar lebih gampang dimasuki. Sama seperti kakaknya, Siti sempat mengerang kesakitan.
Tapi tampaknya tidak begitu dipedulikannya. Kenikmatan hubungan seks yang belum pernah dia rasakan mengalahkan perasaan apapun yang dia rasakan saat itu. Kupercepat kocokanku. Aahh.. aahh.. aacchk.. Kak terus Kak.. ahh.. ahh.. mmh.. aahh.. Siti udah mau ke.. keluar. Mendengar itu, semakin dalam kutanamkan kontolku dan semakin kupercepat kocokanku. Aahh.. Kak.. Siti keluar! mmh.. aahh.. ahh.. Segera kucabut kontolku. Dan kemuMelisa dari bibir kemaluannya mengalir cairan yang sangat banyak. Siti, nikmat khan? tanyaku sambil menyuruh Friska mendekat. Enak sekali Kak. Siti belum pernah ngerasain yang kayak gitu. Boleh kan Siti ngerasain lagi? tanyanya dengan mata yang sayu dan senyum yang tersungging di bibirnya. Aku mengangguk. Dengan gerakan lamban, Siti pindah mendekati Melisa. Yang kemuMelisa disambut dengan ciuman mesra oleh Melisa.
Nah, sekarang giliran kamu, kataku sambil merangkul pundak Friska. KemuMelisa, untuk merangsangnya kembali, kurendahkan tubuhku dan kumainkan teteknya. Bisa kudengar jantungnya berdegup dengan keras. Friska jangan tegang ya. Rileks aja, bujukku sambil membelai-belai memeknya yang mulai basah. Friska cuma mengangguk lemah. Kubaringkan tubuhku. Kubimbing Friska agar duduk di atasku. Setelah itu kuminta mendekatkan memeknya ke mulutku.
Setelah dekat, segera kucium dan kujilati dengan penuh nafsu. Kusuruh tangannya mengocok kontolku. Beberapa saat kemuMelisa, Kak.. aahh.. ada yang.. mau.. keluar dari memek Friska.. aahh.. ahh, erangnya sambil menggeliat-geliat. Jangan ditahan Friska. Keluarin aja, kataku sambil meringis kesakitan. Soalnya tangannya meremas kontolku keras sekali. Baru saja aku selesai ngomong, memeknya mengalir cairan hangat. Aahh.. aachk.. nikmat sekali Kak.. nikmat.. jerit Friska dengan tangan meremas-remas teteknya sendiri.
Setelah kujilati memeknya, kusuruh dia jongkok di atas kontolku. Begitu jongkok, kuangkat pinggulku sehingga kepala kontolku menempel dengan bibir memeknya. Kubuka memeknya dengan jari-jariku, dan kusuruh dia turun sedikit-sedikit. memeknya sempit sekali.
Maklum, masih anak-anak. kontolku mulai masuk sedikit-sedikit. Friska mengerang menahan sakit. Kulihat darah mengalir sedikit dari memeknya. Rupanya selaput daranya sudah berhasil kutembus. Setelah setengah dari kontolku masuk, kutekan pinggulnya dengan keras sehingga akhirnya kontolku masuk semua ke memeknya. Hentakan yang cukup keras tadi membuat Friska menjerit kesakitan.
aahh, Kak.. Siti mau pipiss.. erangnya sambil meremas pundakku.
Keluarin aja. Jangan ditahan, kataku.
Baru selesai ngomong, dari memeknya terpancar air yang lumayan banyak. Bahkan kontolku sempat terguyur oleh pipisnya. Wah nikmat sekali jeritku dalam hati. Hangat.
Setelah selesai, kuajak Siti kembali ke tempat tidur. Kulihat Melisa dan Friska sedang asyik berciuman sambil tangan keduanya memainkan memeknya masing-masing. Sementara di sprei terlihat ada banyak cairan. Rupanya keduanya sudah sempat ejakulasi. Karena Melisa adalah pacarku, maka ia yang dapat kesempatan pertama untuk merasakan kontolku. Kusuruh Melisa nungging. Sayang, Melisa udah lama nunggu saat-saat ini, katanya sambil mengambil posisi nungging. Setelah sebelumnya sempat mencium bibirku dan kemuMelisa mengecup kontolku dengan mesra.
Tanpa berlama-lama lagi, kuarahkan kontolku ke memeknya yang sedikit membuka. Lalu mulai kumasukkan sedikit demi sedikit. memeknya masih sangat sempit. Tapi tetap kupaksakan. Dengan hentakan, kutekan kontolku agar lebih masuk ke dalam. Aachk! Sayang, sa.. sakit! aahhck.. ahhck.. Melisa mengerang tetapi aku tak peduli. kontolku terus kuhunjamkan. Sehingga akhirnya kontolku seluruhnya masuk ke dalam memeknya. Kuistirahatkan kontolku sebentar.
Kurasakan memeknya berdenyut-denyut. Membuatku ingin beraksi lagi. Kumulai lagi kocokan kontolku di dalam memeknya yang basah sehingga memudahkan kontolku untuk bergerak. Kutarik kontolku dengan perlahan-lahan membuatnya menggeliat dalam kenikmatan yang belum pernah dia rasakan sebelumnya. Makin kupercepat kocokanku. Tiba-tiba tubuh Melisa menggeliat dengan liar dan mengerang dengan keras. KemuMelisa tubuhnya kembali melemas dengan nafas yang memburu. Kurasakan
kontolku bagai disemprot oleh air hangat. Rupanya Melisa sudah ejakulasi. Kucabut kontolku dari memeknya. Terlihat ada cairan yang menetes dari memeknya.
Kok ada darahnya sayang? tanya Melisa terkejut ketika melihat ke memeknya.
Kan baru pertama kali, balas Melisa mesra.
Udah, nggak apa-apa. Yang penting nikmat kan sayang? kataku menenangkannya sambil mengeluskan kontolku ke mulut Siti. Melisa cuma tersenyum dan setelah kucium bibirnya, aku pindah ke Siti.
Bersambung.