Cerita Dewasa Bertemu Dengan Tante Lily

 

 

Cerita Sex Bermula kenalan yang tidak terencana di atas bis patas AC, tiap pagi saya naik bis dari halte di kawasan Jakarta Timur. Hingga sesuatu hari terdapat seseorang perempuan yang naik bertepatan denganku. Jika dicermati perempuan ini nampak biasa saja umurnya, kuperkirakan dekat 35- an, namun dengan setelan blazer serta rok mini yang ketat warna biru tua, sangat kontras dengan warna kulitnya yang putih. Hari itu ia naik bersamaku serta di luar dugaanku ia duduk di sampingku, sementara itu terdapat bangku lain yang kosong, tetapi okelah kuanggap itu merupakan normal. Tetapi sangat saya tidak berani menegur, kadangkala kala saya melirik ke arah pahanya yang putih serta sedikit di tumbuhi bulu- bulu halus dipermukaannya.

Perihal ini membuatku betah duduk bersamanya tidak hanya pula wanginya membuatku sangat bangga dapat duduk berdampingan dengannya. Begitulah sampai hari ketiga perihal yang sama terjalin lagi serta kali ini kucoba, ingin iseng- iseng berhadiah, hingga kutegur ia,“ Selamat pagi Mbak..!”“ Pagi pula..” sang Mbak menanggapi dengan senyum yang menawan di mataku, kemudian kubuka pembicaraan“ Kayaknya telah 3 hari berturut- turut kita bersama terus.. ya? Mbak ingin turun dimana sih..?” ia jawab“ Di Sarinah Mas..” serta saya bertanya,“ Apa Mbak kerja disitu..?” kemudian dijawab,“ Oh tidak, saya kerjanya dekat Sarinah..

Kemudian terjadilah obrolan biasa meliputi kemacetan kemudian lintas hingga ia tanya balik, saya bekerja dimana, kemudian kubilang di pc, serta ia bilang kalau kantornya banyak gunakan pc. Kemudian ia mengatakan,“ Boleh dong memohon kartu nama”, hingga kuberikan suatu kartu nama, tetapi waktu kuminta kartu namanya, ia tidak kasih dengan alibi tidak memiliki. Warnanya hari ini hari baikku serta lekas kutahu namanya“ Lili”( bukan sesungguhnya), berikutnya kami senantiasa bersama- sama tiap pagi serta telepon juga mulai berdering dengan seluruh basa basi. Sesuatu kala saya tidak memandang ia sepanjang 5 hari berturut- turut. Saya pernah menunggu, hingga telat datang di kantor. Kuhubungi telepon di kantornya pula tidak masuk, kesimpulannya ia telepon pula, katanya sakit.

Tepatnya hari Senin saya kembali berjumpa, kali ini tanpa menggunakan seragam cuma mengenakan celana jean’ s serta kaos T- shirt sehingga dadanya yang montok itu nampak jelas membuat atensi orang- orang di dekat kami, kali ini ia mengajakku buat bolos,“ Mas saya perlu dorongan nih”, katanya. Kemudian saya tanya,“ Apa yang dapat saya bantu..?”“ Mas, jika dapat hari ini tidak harus ke kantor temenin saya ke Bogor ayo.. jika Mas tidak keberatan lho..?” Saya berpikir sejenak, kemudian saya tanya lagi,“ Memanglah kalian ingin tidak kerja hari ini?”“ Saya lagi terdapat permasalahan nih, ya.. agak individu sih, kira- kira dapat tidak Mas.” Saya tidak pikir lagi kemudian kujawab,“ Ya.. dech saya temenin..”, dalam hati sih, wah kasihan ini customer saya yang telah pada janjian. Dengan alibi keperluan keluarga saya ijin tidak masuk, saya jalan- jalan sama Lili ke rumah temannya di kota Bogor.

Setiba disitu saya dikenalkan sama temannya namanya Nia, mereka bicara berdua di balik, sedangkan saya di ruang depan seseorang diri, sehabis itu mereka kembali lagi serta kita mengobrol bersama- sama. Warnanya sang Nia memiliki janji dengan temannya jika ingin berangkat jadi kita tinggal berdua saja di rumah itu. Sembari mengobrol di karpet serta nonton Televisi, dengan manja Lili berbaring di pahaku, sembari menceritakan macam- macam serta saya jadi pendengar yang baik, hingga ia bertanya,“ Letih tidak Mas ditidurin pahanya ini..?” Kemudian saya jawab,“ Ah tidak apa- apa kok Mbak!” dalam hati sih pegel pula nih telah itu batang kemaluan saya agak sedikit bangun gara- gara saya mengintip dadanya yang montok serta putih. Ia gunakan BH yang hanya setengah( atas lebih terbuka) jadi gundukan daging di dadanya agak menonjol, di luar dugaan ia tanya lagi.

Tetapi kali ini tanyanya tidak ketahui lagi, iseng barangkali,“ Burungnya tidak keganggu kan ditidurin sama saya?” kemudian saya jawab sekenanya saja,“ Keganggu sih tidak, cuman agak bangun”, eh ia tersenyum, sembari memegang batang kemaluanku,“ Biarin deh bangunin saja, pengen ketahui, seperti apa sih!”“ Ya telah bangunin saja”, jawabku pasrah sembari berharap perihal itu beneran,“ Ah yang benar Mas? jika gitu buka dong supaya saya bangunin”,“ Jangan di mari Mbak, nanti jika Mbak Nia tiba gimana kita”,“ Oh tenang saja sang Nia pulangnya baru ntar sore, ia sahabat baik saya, saya kerap nginap disini, ia pula suka nginap dirumah saya”, terus saya diam saja.“ Mari dong di buka, katanya burungnya pengen dibangunin!” Dalam kondisi duduk serta menyandar di bilik di tambah lagi Lili yang berbaring tengkurap di kakiku, jadi agak repot pula saya buka jeansku, hanya saya ploroti hingga batasan paha saja. Begitu ia amati batang kemaluanku, langsung di genggamnya sembari mengatakan,“ Ini sih masih tidur, ya? supaya saya bangunin!” Kemudian mulai dikocok serta tangan yang sebelah lagi mengelus bagian kepala, membuatku merasa geli tetapi nikmat.

Kemudian kala batang kemaluanku mulai membeku, ia terus menjadi mendekatkan mukanya serta mulai menjilat dengan ujung lidahnya di dekat bagian dasar kepala kemaluanku. Sekali- kali ia gigit- gigit kecil, perihal ini membuat saya merem melek, kesimpulannya kukatakan,“ Mbak buka T- shirnya dong!”“ Lho mengapa Mas?” katanya. Saya menanggapi,“ Pengen amati saja!” Kemudian sembari tersenyum ia bangun serta mulai membuka ikat pinggang, kancing celana serta retsleting celana jeansnya, sehingga perut bagian bawahnya nampak putih serta sedikit nampak batasan celana dalamnya, kemudian ia tarik T- shirt ke atas serta dilepaskan, sehingga dengan jelas saya amati panorama alam indah dari dadanya yang montok( BH nomor 36), serta berikutnya ia mulai merendahkan celana jeansnya, saat ini tinggal gunakan BH serta celana dalam saja. Oh.. CD- nya yang mini sekali, betapa indah badan perempuan ini montok serta sekel sehabis itu kembali ia berbaring ke posisi semula. Tetapi kali ini ia tidak cuma memainkan batang kemaluan saya namun telah mulai dimasukkan ke dalam mulutnya.

Terasa lidahnya bermain di atas kepala kemaluan saya serta oh.. nikmatnya. Sembari membuka pakaian, saya berupaya mengangkut pantatku supaya lebih masuk, warnanya ia ketahui maksudku, ia masukan full hingga ke tenggorokannya, saya tidak sempat mengukur batang kemaluanku sendiri tetapi di dalam mulutnya batang kemaluanku terasa telah mentok serta masih tersisa di luar kira kira 2 ruas jari orang berusia, hingga Lili pernah tersendak sesa’ at. saya juga lekas berbalik kemudian merebahkan tubuh sehingga posisi saat ini semacam 69. Kubiarkan ia mempermainkan kemaluanku, sedangkan saya ciumi paha bagian dalam Lili yang lembut serta putih, sembari meremas bagian pantatnya yang masih tertutup celana dalam. Pelan pelan kutarik celana dalamnya, hingga nampak dengan jelas bulu rimbun di dekat kemaluannya sehingga kontras dengan warna kulitnya yang putih, begitu lebatnya hingga terdapat bulu yang berkembang di dekat lubang duburnya.

Oh, indah sekali panorama yang terdapat di depanku, serta saya juga mulai menjilat vaginanya yang wangi karena kelihatannya ia giat gunakan shampo spesial buat Miss V. Pada sa’ at itu terdengar suara merintih yang lirih.“ Oh Mas saya tidak tahan nih.. ah”, serta ia nampak bergairah. Lubang kemaluannya mulai berdahak, buah dadanya membeku, kesimpulannya saya bangun serta kubalikkan badannya serta kulepas BH- nya, sehingga nampak badannya yang montok dalam kondisi bugil. Kuperhatikan dari atas hingga dasar nampak sempurna sekali, putih, lembut, bulu kemaluannya nampak rimbun. Waktu kuperhatikan itu, tangannya terus memegang batang kemaluanku, kesimpulannya kurenggangkan kedua pahanya serta kuangkat sehingga nampak jelas lubang Miss V serta anusnya. Kemudian kutarik pelan- pelan batang kemaluanku dari mulutnya serta merubah posisi.

Kupeluk ia sembari menciumi bibir, leher, dan telinganya. Perihal ini membuat ia terangsang sembari mengatakan lirih,“ Mas masukin saja Mas..!” kemudian saya bangun serta saya pandang ia, serta kuatur posisi kedua kakinya dilipat sehingga pahanya melekat di dadanya. Kemudian saya berjongkok serta kupegang batanganku serta kuarahkan ke vaginanya kemudian kutempelkan kepala kemaluanku. Kutekan sedikit demi sedikit, serta ia mulai merintih, tangannya mencekram tanganku dengan kokoh, matanya memejam, kepalanya bergoyang kiri serta kanan serta vaginanya basah hebat. Ini membuat kepala kemaluanku basah, serta saya mulai berirama keluar masuk, namun cuma sebatas kepalanya saja. Saat ini dia mulai berupaya menggoyangkan pinggangnya serta berupaya memencet supaya batang kemaluanku masuk total tetapi saya pertahankan posisi semula serta mempermainkannya terus.

Kesimpulannya sebab tidak tahan ia juga meminta,“ Mas.. oh.. masukin saja Mas, tidak kokoh nih.. ohh.. Mas”, pintanya. Kesimpulannya saya mulai mendesak batang kemaluanku lama- lama tetapi tentu. Dengan posisi jongkok serta kedua kakinya terletak di atas pundakku, saya mulai menciumi dengkulnya yang halus itu, Mbak Lili juga mulai menggoyangkan pinggangnya ke atas serta ke dasar, kira- kira 10 menit setelah itu ia mulai melemas serta gerakannya tidak normal sembari merintih.“ Mas.. ooh.. Sstt”, dadanya dibusungkan, nampak putingnya menonojol.“ Mari Mas.. akhh.. terus.. Mas..” saya juga mulai memompa dengan irama lebih kilat, sesekali dengan putaran sehingga bulu kemaluanku menimpa bagian klitorisnya. Perihal ini yang menimbulkan Mbak Lili“ Orgasme” ataupun klimaks, serta terasa cairan hangat menyiram batang kemaluanku, badannya melemas hebat.“ Mas Ohh.. psstt.. akh..” nafasnya memburu, sesa’ at setelah itu ia terdiam serta saya juga menghentikan goyanganku.

Kutarik pelan- pelan batang kemaluanku serta sehabis dicabut nampak terdapat sisa cairan yang meleleh membasahi permukaan vaginanya. Nafasnya nampak ngos- ngosan semacam orang habis lari. Saya juga duduk terdiam dengan kemaluan masih tegang berdiri, Mbak Lili juga tersenyum. Sembari berbaring kembali di atas kedua pahaku serta rambutnya terurai sembari ia pandangi batang kemaluanku yang masih berdiri. Tangannya memegang sembari mengatakan,“ Mas ini nikmat sekali, diapaiin sih kok dapat segede begini.” Lali kujawab, cerita sex 13“ Ah ini sih dimensi wajar orang asia”, serta ia bilang,“ Tetapi ini tercantum besar pula lho Mas.” saya cuma terdiam sembari mengambil sebatang rokok, kemudian menyulutnya, serta kulihat Mbak Lili senantiasa mempermainkan batang kemaluanku serta mengatakan,“ Kasih peluang 5 hingga 10 menit lagi ya Mas, supaya saya dapat nafsu lagi”, saya terdiam cuma menganggukan kepala. Ronde kedua diawali, di rebahkan badanku kemudian ia ambil posisi di atas badanku, ia kangkangin kedua pahanya, dipegangnya batang kemaluanku yang masih keras serta tegang kemudian dimasukan ke dalam lubang vaginanya, serta ia juga mulai melaksanakan gerakan naik serta turun, semacam penunggang kuda. Kedua buah dadanya berayun- ayun kemudian secara reflek kupegang kedua putingnya serta kupilin pilin, membuat Mbak Lili terangsang hebat.

Kira- kira nyaris separuh jam setelah itu saya merasakan spermaku hendak lekas keluar. Lekas saya balikkan badannya serta kupompa kembali vaginanya dengan nafsu, Mbak Lili merasakan saya hendak membebaskan spermaku, ia lekas mengatakan,“ Mas keluarin di luar saja, saya mau amati”, saya diam saja sesa’ at setelah itu Mbak Lili mulai merintih,“ Aduh Mas ohh.. nikmat.. Mas.. akhh.. mass”, kesimpulannya Mbak Lili kembali orgasme membuat vaginanya basah. Perihal ini membuat saya terus menjadi nikmat. Kesimpulannya saya tidak ingin menahan lebih lama spermaku, terasa telah di ujung tidak bisa kutahan lagi. Lekas kutarik batang kemaluanku, tangan kananku mengocok batang kemaluanku sendiri serta tangan kiri memencet pangkal batang kemaluanku sendiri.

Pada sa’ at itu Mbak Lili memasukan salah satu jarinya kelubang anusku membuat spermaku muncrat banyak sekali berantakan di atas dada, perut, serta diatas rambut kemaluannya. Akupun lekas tiduran di sampingnya, rehat sebentar, kemudian kekamar mandi buat mandi bersama. Dikamar mandi kami silih menyabuni, sembari kuremas kedua buah dadanya yang basah oleh sabun. Mbak Lili juga memainkan batang kemaluanku yang masih separuh tidur tetapi masih saja membeku. Lambat- laun saya tegang lagi sebab game tangan Mbak Lili dengan sabunnya, waktu saya tanya,“ Mbak tadi kok memohon dikeluarin di luar mengapa?” ia cuma bilang bahagia memandang kemaluan laki laki lagi keluar spermanya.“ Mas ini bangun lagi ya?” Saya cuma mengangguk sembari tanya,“ Boleh dimasukin lagi tidak?” Ia mengangguk sembari mengatakan,“ Dari balik ya Mas!” sembari membalikan tubuh yang masih penuh sabun serta posisi separuh membungkuk.

Kedua tangannya berpegang di sisi bak kamar mandi serta kedua kakinya direnggangkan sehingga nampak jelas sekali lubang vaginanya, pula lubang anusnya. saya jongkok dibelakangnya sembari mempermainkan lidahku di dekat Miss V serta kedua pantatnya, lamat- lamat kudengar desahan suara diantara gemericik air yang mengalir ke bak mandi. Lekas kuambil sabun sebanyak bisa jadi kugosok di batang kemaluanku, kemudian kugenggam batang kemaluanku serta kepala kemaluanku kutempel di permukaan lubang vaginanya. Terdengar desahan serta saya mulai menggerakkan batang kemaluanku maju mundur, nikmat sekali serta Mbak Lili juga nampak menikmati dengan menggerakkan pinggulnya ke kanan serta ke kiri. Kurang lebih 10 menit Mbak Lili kembali ke puncak kenikmatan. Lendir hangat kembali membasahi batang kemaluanku.

Saya bertanya,“ Keluar lagi Mbak?” dia cuma menganggukkan kepalanya, kemudian pelan- pelan kembali kugerakkan batang kemaluanku maju mundur sembari menunggu Mbak Lili terangsang lagi, kulihat lubang duburnya yang agak mencuat keluar, kemudian kucoba masukan jari telunjukku ke dalam duburnya sehabis saya beri sedikit sabun, terdengar sedikit rintihan,“ Sstt.. ah Mas pelan- pelan”, rintihan yang membuat saya terus menjadi nafsu, datang datang saya mau sekali berupaya buat menikmati lubang duburnya yang kelihatannya masih“ Perawan” itu, kutarik pelan batang kemaluanku yang masih basah serta licin itu akibat lendir dari lubang kemaluan Mbak Lili. Ku tempelkan kepala kemaluanku yang membeku di permukaan duburnya, kupegang batang kemaluaku sehingga kepalanya membeku. Saya berupaya memencet batang kemaluanku, sebab licin oleh sabun hingga kepala kemaluanku lekas melesak ke dalam, ia juga meringik,“ Akhh aduh mass.. sstt ohh!” saya menyudahi sea’ at, serta ia bertanya,“ Kok dimasukin di sana Mas?” kemudian kujawab dengan persoalan,“ Sakit tidak Mbak?” Mbak Lili diam saja, serta saya melanjutkan sembari berdiri agak membungkukkan tubuh, tangan kiriku melingkar di perutnya menahan tubuhnya yang ingin maju, serta tangan kananku berupaya memegang vaginanya mencari klitorisnya.

Perihal ini membuat ia terangsang hebat, serta kutekan terus hingga masuk penuh. Terasa olehku otot anusnya menjepit batang kemaluanku, game ini berlangsung 1/ 2 jam lamanya, serta kembali saya tidak sanggup menahan spermaku di dalam duburnya sembari kupeluk badannya dari balik, kutekan batang kemaluanku sedalam bisa jadi, tubuhku bergetar serta menghasilkan cairan mani dalam duburnya, kubiarkan sesaat batang kemaluanku di dalam anusnya sembari senantiasa memeluk badannya dari balik, serta badan kami masih berlumuran dengan sabun., Kami membebaskan napas sebab kecapaian kemudian kami selesaikan dengan silih menyirami badan kami, kemudian berpakaian serta duduk kembali menunggu Mbak Nia kembali, Mbak Lili juga tertidur di kursi sebab kecapaian.

Kala mulai senja kulihat Mbak Nia kembali serta saya membukakan pintu, ia bertanya,“ Mana sang Lili?” saya tunjukan serta ia mengatakan,“ Oh lagi tidur, letih kali ya?” saya cuma diam saja serta Mbak Nia masuk kamarnya, seketika saya mau berkemih serta saya ke kamar mandi melewati kamar Mbak Nia. Secara tidak terencana saya memandang dari antara daun pintu yang tidak rapat, Mbak Nia lagi ubah pakaian, kulihat ia cuma menggunakan celana dalam saja. Badannya bagus, putih bersih serta sangat berupa. Sesa’ at saya terpana serta kala dia menggunakan pakaian saya buru- buru ke kamar kecil buat berkemih, serta waktu keluar dari kamar mandi, Mbak Nia tengah menunggu di depan pintu, sembari tersenyum ia bilang,“ Tadi ngintip ya?” saya cuma tersenyum serta mengatakan,“ Boleh amati seluruhnya tidak?” ia menanggapi,“ Boleh saja tetapi tidak saat ini, tidak lezat sama..” sembari menampilkan tangannya ke arah ruang tamu.

Saya mengerti artinya, kemudian ia masuk kamar mandi sembari tangannya menyempatkan meremas kemaluanku, saya lekas kembali ke ruang tamu serta membangunkan Mbak Lili. Kesimpulannya saya serta Mbak Lili kerap melaksanakan ikatan seks dengan bermacam gaya di motel, villa kadang- kadang di rumahku sendiri, serta kala saya mau ke rumahnya dia senantiasa melarang dengan bermacam alibi. Nyatanya Mbak Lili ini telah bersuami serta mempunyai seseorang anak, ini membuatku sangat kecewa. Di sa’ at saya mulai benar benar mencintainya, serta Mbak Lili juga sesungguhnya menginginkan perihal yang sama, tetapi dia telah terikat oleh tali pernikahan.

Cuma saja ia tidak sempat merasakan nikmatnya ikatan seks dengan si suami, serta sa’ at jumpa dengan diriku ia lumayan lama mengambil keputusan buat menjadikan diriku selaku pacarnya( Kapsul), katanya bersamaku ia menciptakan apa yang ia mau( kata ia lho). Ikatan kami berlangsung setahun lebih hingga ia pindah bersama suaminya ke Surabaya. Tetapi saya percaya sesuatu hari saya tentu ketemu lagi. Oh Mbak Lili sayangku, nyatanya kalian kepunyaan orang lain. Sampai sa’ at ini saya masih berharap ketemu lagi, tiap pagi saya masih setia menunggu kalian, walaupun tidak ketemu tetapi kenanganmu masih tersisa dalam hatiku. GAME ONLINE TERBAIK 

Saya memanglah ketagihan bermain cinta dengan perempuan separuh baya alias STW, Terdapat lagi pengalaman nyata yang kualami. Pengalamanku menaklukkan kakak iparku yang pendiam serta agak religius. Entah setan mana yang merasuki diriku sebab saya menjerumuskan orang baik- baik kedalam neraka nafsu. Kejadiannya begini, sesuatu hari rumahku kehadiran tamu dari Padang. Uni Ranti kakak tertua istriku. Ia tiba ke Jakarta sebab tugas kantor turut seminar di kantor pusat suatu bank pemerintah. Uni merupakan kepala cabang di Padang, Uni menginap dirumah kami. Dari pada menginap di hotel, mendingan pula duit hotel ditaruh buat beli oleh- oleh. Sepanjang seminggu ia tinggal dirumahku. Dari istriku kutau jika Uni Ranti berumur 40 tahun. Suaminya telah meningal 2 tahun kemudian sebab musibah. Orangnya menawan, putih, besar semampai. Lebih tepatnya kubilang anggun sebab orangnya cenderung diam serta sangat religius. Sepanjang di Jakarta, tiap terdapat peluang saya serta istriku mengajak Uni jalan- jalan, maklum ini kunjungan pertamanya ke Jakarta, umumnya ke mal sebab waktunya kecil. Kami telah berencana cocok hari Sabtu hendak jalan- jalan ke Halaman Safari

Pagi- pagi banget istriku telah berangkat naik KRL dari stasiun Pondok Ranji. Rumahku yang didaerah Bintaro lumayan jauh dari Mangga 2 serta Ancol. Sedangkan menunggu Uni yang lagi jalan- jalan pagi saya sendirian dirumah menyeruput kopi serta merokok. Kami berencana jalur jam 10 pagi. Sehabis ngopi serta merokok, saya kembali tidur- tiduran di kamarku menunggu jam. Pikiranku melayang membayangkan kakak istriku ini. Uni Ranti sangat menarik perhatianku secara sexual. Jeleknya saya, mulia keluar. Saya tertantang menaklukkan perempuan baik- baik, saya tertantang menaklukkan Uni. Mumpung terdapat peluang. Bawah setan senantiasa mencari peluang menggoda. Kuatur jebakan buat memancing Uni. Saya buru- buru mandi membilas tubuh serta keramas. Dengan berlilit handuk saya menunggu kepulangan Uni dari berolahraga paginya. Dekat 10 menit saya menunggu dibalik horden serta kulihat Uni merambah pagar depan dengan pintu besi yang agak berderit. Terencana pintu rumah saya tutup tetapi dibiarkan tidak terkunci. Saya lalu mengarah kamarku serta lekas memasang jebakan buat mengejutkan Uni. Saya masuk kamarku serta lekas bertelanjang bundar. Pintu kamar kubuka lebar- lebar, jendela kamar pula kubuka supaya isi kamar menemukan penerangan jelas. Kudengar pintu depan berbunyi semacam ditutup. Akupun mulai beraksi. Dengan bertelanjang bundar saya menunggu Uni melewati kamarku dengan harapan ia memandang badan serta juniorku yang sedari tadi berdiri tegak membayangkan petualangan ini. Handuk kututupkan ke kepala seolah- olah lagi mengeringkan rambut yang basah sehabis keramas. Saya berpura- pura tidak memandang serta tidak menyadari kedatangan Uni. Dari bakik handuk yang kusibak sedikit, kulihat sejoli sepatu kets melintas kamarku. Saya percaya Uni tentu memandang tubuhku yang polos dengan junior yang tegak berdiri. Nafsuku terus menjadi menggeliat kala kuamati dari balik handuk sejoli sepatu yang sebelumnya nyaris melewati kamarku saat ini semacam terpaku menyudahi didepan kamar tanpa beranjak.

Saya terus menjadi aktif menggosok- gosok rambutku serta berpura- pura tidak tau kalo terdapat orang. Sebagian detik saya berbuat begitu serta saya merancang sensasi berikut. Dengan seketika kuturunkan handuk serta menengok ke arah pintu kamar. Saya pura- pura kaget menyadari terdapat orang.“ E.. eee…maaf Uni, saya kira tidak terdapat orang,” kataku seraya mendekati pintu seolah- olah mau menutup pintu. Saya tidak berupaya menutup kemaluanku yang menantang. Malah kubiarkan Uni terdiam memandangi tubuhku yang polos mendekat kearahnya. Dengan tenagnya seakan saya berpakaian lengkap kudekati Uni serta sekali lagi meminta maaf. rayuanjanda.com

“ Maaf ya Uni, saya terbiasa semacam ini. Saya tidak sadar jika terdapat tamu dirumha ini,” kataku sembari berdiri didepan pintu ingin menutup daun pintu. Seketika semacam tersadar Uni bergegas meninggalkanku sembari mengatakan“ i…i…iya, tidak apa- apa…..”. Ia langsung masuk ke kamar balik yang diperuntukkan kepadanya sepanjang tingal dirumahku. Saya setelah itu mengenakan celana pendek tanpa CD serta menggunakan kaos oblong lalu smengetok pintu kamar Uni.“ Terdapat apa Randy,” ucap Uni sehabis membuka pintu. Kulihat ia tidak berani menatapku. Bisa jadi malu. Membaca suasana semacam itu, saya tidak menyiakan peluang.“ Uni, maafkan Randy ya…aku kurang ingat jika terdapat tamu dirumah ini,” kataku merangkai percakapan supaya nyambung. cerita sex 18“ Nggap apa- apa, hanya Uni malu hati, sangat Uni malu memandang kalian telanjang tadi,” balasnya tanpa ingin memandang saya.“ Mengapa musti malu? Kan tidak terencana, apa lagi Uni kan telah sempat menikah jadi telah biasa memandang yang tegak- tegak semacam itu,” kataku memancing reaksinya.“ Sejujurnya Uni tadi kaget separuh mati memandang kalian begitu. Yang Uni malu, tanpa sadar Uni terpaku didepan kamarmu. Jujur aja Uni telah lama tidak memandang semacam itu jadi Uni semacam terpana,” katanya sembari berlari ketempat tidurnya serta mulai sesenggukan. Saya jadi ngak tega.

Kudekati Uni serta kuberanikan memegang pundaknua seraya menenangkannya.“ Sudalah tidak harus malu, kan hanya kita berdua yang tau.” Memandang reaksinya yang diam saja, saya mulai berani duduk disampingnya serta merangkul pundaknya. Kuusap- usap rambutnya agak lama tanpa mengatakan apa- apa. Kala kurasa telah agak tenang kusarankan buat mandi aja. Kutuntun tangannya serta sekonyong- konyong setan mendorongku buat memeluk dikala Uni telah berdiri didepanku. Lama kupeluk erat, Uni diam saja. Wajahnya diselusupkan didadaku. Payudaranya yang masih kencang serasa melekat didadaku. Sangat terasa debar jantungnya. Lama- lama tangaku kuselusupkan ke balik kaos bagian balik berbarengan dengan ciumanku yang mendarat dibibirnya.“ Jangan Ndy…dosa,” katanya sembari membebaskan diri dari pelukanku. Tetapi pelukanku tidak ingin membebaskan badan sintal yang lagi didekapnya. Daam usaha kedua Uni telah menyerah. Bibirnya dibiarkan kulumat walaupun masih tanpa perlawanan. Ucoba lagi menyelusupkan tangan dibalik kaosnya, kali ini bagian depan. Tangan kanan yang menggerayang langsung pada sasaran…putting susu sebelah kiri. Uni menggeliat. Pilinan jariku di payudaranya membuat nafsunya naik. Saya tau dari desiran nafasnya yang mulai memburu. Saya heran pula dengan perempuan ini, senantiasa diam tanpa perlawanan. Bisa jadi ini gaya perempuan baik- baik. Bagusnya, seluruh apa yang kulakukan tidak terdapat penolakan. Semacam dicocok hidungnya Uni bagi saja dengan apa yang kulakukan terhadapnya. Lama- lama kubuka kaosnya, kubukan celana panjang trainings pack- nya, kubuka Bh nya, kubuka CD- nya, Uni diam saja. Kubopong badannya ketempat tidur. Kubuka kaosku, kubuka celana pendekku…….. Uni masih diam. Lidahku mulai bermain disekujur badannya.

Dari ujung kepala, turun ke kuping, ke bibir, ke leher…perlahan kusapu dadanya, payudaranya kulumat dengan gigitan kecil…turun lagi kebawah, pusarnya kukorek dengan lidahku…. turun lagi ke sekumpulan rambut serta kedua pahanya hujilat- jilat terus hingga keujung jempol kaki. Saya tidak merasa jijik sebab badan Uni yang putih bersih sangat membangkitkan gairah. Kukangkangkan kakinya, uni masih diam saja. Tetapi kuamati matanya terpejam menikmati sentuhan masing- masing jengkal ditubuhnya. Baru kala kudaratkan sapuan lidahku di bibuir Miss V serta klitorisnya Uni seketika berteriak,” Ahhhhhhhh……..”“ Mengapa Uni…. Sakit?,” tanyaku. Uni cuma menggeleng. Serta kegiatan jilat menjilat Miss V itu kulanjutkan. Uni menggelinjang dahsyat serta seketika ia meraung..” Randyyyyyyy… mari Randy…. jangan siksa saya dengan nikmat…ayo Randy tuntaskan…. Uni udah tidak tahan,” katanya. Saya tidak ingin berlama- lama. Tanpa banyak alterasi lagi langsung kunaiki kedua pahanya serta kutusukkan juniorku kelobah surganya yang telah basah kuyup. Dengan sekali sentak seluruh batangku yang panjang melesak kedalam. Agak seret kurasakan, bisa jadi sebab telah 2 tahun nganggur dari kegiatan. Kugenjot pantatku dengan irama senantiasa, keluar serta masuk. Uni terus menjadi menggelinjang. Saya pikir tidak harus lambat- laun bersensasi, tuntaskan saja.

Lain waktu baru lama. Memandang reaksinya tanda- tanda ingin orgasme, gerakan pantatku terus menjadi kilat serta kencang. Uni meronta- ronta, menarik seluruh apa yang dapat ditariknya, bantal, sepre. Tubuhku tidak luput dari tarikannya. Seluruh itu dicoba dengan lebih banyak diam. Serta seketika badannya mengejang,“ Ahhhhhhhhhhhhhhhh…….,” lolongan panjangnya menunjukkan ia menggapai puncak. Saya memesatkan kocokanku diatas badannya. Seketika saya didikejutkan dengan hentakan badannya dibarengi tanganya yang mendesak tubuhku.“ Jangan keluarin didalam…. saya lagi produktif,” suaranya tresengal- sengal ditengah gelombang kenikmatan yang belum mereda.

 

BACA JUGA : Cerita Dewasa Tante Girang Itu Lagi

 

Kekagetanku lenyap sehabis tau reaksinya.“ Baik Uni menawan, Randy keluarin diluar ya,” balasku sembari kembali memasukkan Junior ku yang pernah terlepas dari vaginanya sebab dorongan yang lumayan keras. Kembali kupompa pinggulku. Saya rasa kali ini Uni agak rileks. Tetapi senantiasa dengan diam tanpa banyak respon Uni menerima enjotanku. Cuma mukanya yang kadang- kadang meringis keenakan. Serta sampailah saatnya, kala punyaku terasa mulai berkedut- kedut, cepat- cepat kucabut dari Miss V Uni serta kugencet batang juniorku sembari menyemprotkan mani. Kuhitung terdapat 5 kali juniorku meludah. Sekujur badan Uni yang lembut ketumpahan spermaku. Apalagi wajahnyapun belepotan cairan putih kental. Serta saya terkulai lemas penuh kenikmatan. Kulihat Uni bagkit mengambil tisu serta meneyka tubuh dan wajahnya.

“ Randy…kamu telah membagikan apa yang belum sempat Uni rasakan,” kata perempuan menawan itu sembari rebahan disampingku. Dengan persetujuan Uni, kami menelpon istriku mengabarkan jika batal ke Ancol sebab Uni tidak lezat tubuh. Sementara itu kami melanjutkan skenario cinta yang menyesatkan. Kami masih 3 kali lagi melaksanakan persetubuhan. Dalam 2 sessi berikut sangat nampak pertumbuhan yang terjalin sama Uni. Kalo game awal ia banyak diam, game kedua mulai melawan, game ketiga jadi dominan, game keempat jadi buas…. buas…sangat buas. Saya pernah mengenakan kondom supaya dapat dengan bebas menumpahkan mani dikala punyaku terdapat didalam vaginanya.“ Saya sadar ini dosa, tetapi saya pula menikmati apa yang belum sempat saya rasakan sepanjang bersuami. Suamiku itu merupakan opsi orang tua serta selisih 20 tahun dengan Uni. Hingga Uda wafat, Uni tidak sempat merasakan kenikmatan sexual semacam ini. Sesungguhnya Uni masih kepengen nikah lagi tetapi tidak sempat ketemu orang yang pas. Bisa jadi posisi Uni selaku kepala bagian membuat banyak laki- laki menghindar.” Cerita Uni saat sebelum kami bersama tertidur pulas.