Cerita Sex Bercinta Dengan Guru Privatku

 

Cerita Sex Bercinta Dengan Guru Privatku

Seseorang waNurul dengan hijab hijau lumut nampak berjalan terburu- buru mengarah ruang guru, belahan rok yang lumayan kecil memforsir waNurul itu mengayun langkah kecil nan kilat. Tetapi dikala dirinya datang diruangan yang dituju, disitu cuma didapatinya Bu Nurul yang padat jadwal mengoreksi hasil tes setiap hari para siswa.

“ Bu.. apa Pak Iqbalsudah kembali?”

“ Bisa jadi telah,” jawab Bu Nurul, memandang Riana dengan wajah penuh curiga, setau Bu Nurul ikatan antara Riana serta Iqbalmemang tidak sempat akur, walaupun bersama guru muda, pemikiran Riana serta Iqbalselalu bersebrangan. Riana yang idealis serta Iqbalyang liberal.

“ Memangnya terdapat apa Bu?” lanjut waNurul itu, penasaran.

“ Oh… tidak.. cuma terdapat butuh sebagian perihal,” elak Riana.

“ Apa itu tentang pengajuan peningkatan pangkat serta kalangan?” tambah Nurul yang malah terus menjadi penasaran.

“ Bukan.. eh.. iya.. aku pamit duluan ya Bu,” ucap Riana bergegas pamit.

“ Mudah- mudahan saja SMS itu hanya canda,” ucapnya penuh harap, bergegas mengarah parkir, mengacuhkan pemikiran satpam sekolah yang memandang liar badan semampai dibalut seragam hijau lumut khas PNS, ketat membalut badannya.

Mobil Avanza, Riana, membelah jalur pinggiran kota lebih kilat dari umumnya. Hatinya masih belum tenang, pikirannya terus terpaku pada SMS yang dikirimkan Rivan, sementara itu lelaki itu cuma memohon tolong buat membantunya menyusun persyaratan pengajuan pangkat, tetapi rasa permusuhan begitu lekat dihatinya.

Jantung Riana terus menjadi berdebar dikala mobilnya merambah taman rumah, di situ sudah terparkir Ninja 250 warna hijau muda,“ tidak salah lagi itu tentu motor Rivan,” bisik hati Riana. Di sofa beranda sudut mata waNurul muda itu menangkap wujud seseorang lelaki, asyik dengan tablet ditangannya.“ Kamu…” ucap Riana dengan nada suara tidak suka.

Iqbalmembalas dengan tersenyum.

“ Masuklah, tetapi ingat suamiku tidak terdapat dirumah, jadi sehabis seluruh berakhir kalian dapat langsung kembali,” ucap Riana ketus, meninggalkan lelaki itu diruang tamu.

Berkegiatan seharian disekolah memforsir Riana buat mandi, dikala memilah pakaian, waNurul itu terbuat bimbang wajib menggunakan pakaian semacam apa, apakah lumayan daster rumahan ataukah memilah baju yang lebih resmi.

“ Apa yang terdapat diotak mu, Rey?!.. Ia merupakan musuh bebuyutan mu disekolah,” umpat hati Riana, melontarkan gaun ditangannya ke bagian dasar lemari.

Kemudian mengambil daster putih tanpa motif. Tetapi sayangnya daster dari bahan katun yang lembut itu sangat ketat serta berhasil mencetak liuk badannya dengan sempurna, memamerkan bongkahan buah dada yang menggantung menggoda.

Riana kembali terbuat bimbang dikala memilah penutup kepala, apakah dirinya senantiasa wajib menggunakan kain itu ataukah tidak, toh ini merupakan rumahnya. Tetapi tidak urung tangannya senantiasa mengambil kain putih dengan motif renda yang buatnya nampak terus menjadi anggun, badan indah dalam balutan serba putih yang mempesona.

Jam bilik telah menampilkan jam 5 petang serta buat yang kedua kalinya Riana sediakan teh buat Rivan. Sedangkan lelaki itu masih nampak sungguh- sungguh dengan laptop serta berkas- berkas yang wajib disiapkan, sesekali Riana membagikan arahan.

Tanpa sadar mata Riana mengamati wajah Iqbalyang memanglah menarik.“ Sesungguhnya laki- laki ini giat serta baik, tetapi mengapa kerap sekali perilakunya membuatku emosi,” gumam Riana, teringat permusuhannya dilingkungan sekolah.

Pemuda yang mempunyai selisih usia 4 tahun lebih muda dari dirinya. Perilaku keras Riana selaku wakil kepala sekolah bidang kesiswaan berbanding terbalik dengan perilaku Iqbalyang sering membela murid- murid yang melaksanakan pelanggaran disiplin.

“ Tidak harus terburu- buru, minum dahulu teh mu, lagipula diluar lagi hujan,” tegur Riana yang bernazar buat berlagak lebih ramah.

“ Hujan?… Owwhh Shiiit.. Ibuku tentu menungguku buat makan malam,” umpat Rivan.

Riana tertawa geli mendengar penuturan Rivan,“ makan malam bersama ibumu? Tetapi kalian tidak nampak semacam seseorang anak mami,” celetuk Riana usil, membuat Iqbalikut tertawa, tetapi tangannya terus bergerak seolah tidak tergoda buat meladeni ejekan Riana.

“ Bereeesss..” ucap Iqbaltiba- tiba mengagetkan Riana yang asyik membalas BBM dari suaminya.

“ Jadi apa saya wajib kembali saat ini?” tanya Rivan, mukanya tersenyum kecut dikala mengalami hujan diluar masih sangat rimbun.

“ Di garasi terdapat jas hujan, tetapi apabila kalian mau menunggu hujan teduh tidak apa- apa,” tawar Riana yang percaya motor Iqbaltidak bisa jadi menaruh jas hujan.

“ Saya memilah berteduh saja, sembari menemani bu guru menawan yang lagi kesepian, hehehe…”

“ Sialan, sebentar lagi suamiku kembali lhoo,”

Sesaat sehabis kata itu terucap, Blackberry ditangan Riana menerima panggilan masuk dari suaminya, tetapi sayangnya suaminya malah berikan berita kalau dirinya sedikit terlambat buat kembali, dengan wajah cemberut Riana menutup panggilan.

“ Terdapat apa, Rey..”

“ Gara- gara kalian suamiku terlambat kembali,”

“ Lhoo, mengapa gara- gara saya? Hahaha…” Iqbaltertawa penuh kemenangan, dengan gregetan Riana melontarkan bantal kursi. Percakapan kembali bersinambung, tetapi lebih banyak berkutat pada dinamika kehidupan disekolah serta perihal itu lumayan berhasil mencairkan atmosfer.

Riana seolah memandang wujud Iqbalyang lain, lebih supel, lebih bersahabat serta lebih humoris. Jauh berbeda dari kacamatanya sepanjang ini yang memandang guru laki- laki itu seperti perusuh untuk dirinya, selaku penegak disiplin para siswa.

“ Saya heran, mengapa kalian malah mendekati kanak- kanak semacam Junot serta Darko, kedua anak itu tidak lagi bisa diatur serta telah masuk dalam catatan merah guru BK,” tanya Riana yang mulai nampak santai.“ Seandainya bukan keponakan dari owner yayasan, tentu anak itu telah dikeluarkan dari sekolah,” sambungnya.

“ Yaa, saya tau, tetapi petualangan mereka itu seru lho, mulai dari nangkring di Mangga Besar hingga ngintipin anak wanita dikamar mandi, guru pula terdapat lho yang mereka intipin,”“ Hah? yang benar? gilaaa, itu betul- betul perbuatan amoral,” Riana hingga meloncat dari duduknya, berpindah ke samping Rivan.

“ Tetapi tunggu, bukankah itu maksudnya kalian menunjang kenakalan mereka, serta siapa guru yang mereka intip?” tanya Riana dengan was- was, khawatir dirinya jadi korban kenakalan kedua siswa nya.

“ Sebanarnya mereka anak yang pintar serta kreatif, bay

angkan saja, cuma dengan pipa ledeng serta kaca mereka dapat membuat periskop yang biasa digunakan oleh kapal selam,” ucap Iqbalserius, memutar badannya berhadapan dengan Riana yang penasaran.

“ Awal mulanya mereka hanya mengintip para siswi tetapi bagiku itu tidak menarik, sebab itu saya mengajak mereka mengintip di wc guru, apa kalian tau siapa yang kami intip?”

Wajah Riana mengencang, menggeleng dengan kilat.“ Siapa?,,,”

“ kami mengintip guru sangat menawan disekolah, Bunda Riana Raihani!”

“ Apa? gilaaa kalian Van, kurang ajar,” Riana terkaget serta langsung melanda Iqbaldengan bantal kursi.

“ ampuun Reeeey, Hahahaa,,”

“ Sesungguhnya kalian ini guru ataupun bukan sih? Berikan contoh mesum ke murid- murid, esok saya hendak memberi tahu mu ke kepala sekolah,” sembur Riana penuh emosi.

Iqbalberusaha menahan serbuan dengan mencekal lengan Riana.

“ Hahahaa, saya bohong koq, saya malah mengerjai mereka, saya tau yang lagi terletak di wc merupakan Pak Tigor serta apa kalian tau efeknya? Mereka langsung shock memandang batang Pak Tigor yang mengerikan, Hahaha,” Riana kesimpulannya turut tertawa, tanpa sadar bila lengannya masih digenggam oleh Rivan.

“ Tu kan, kalian itu sesungguhnya lebih menawan bila lagi tertawa, jadi jangan dirahasiakan dibalik wajah galakmu,” ucap Iqbalyang menikmati tawa renyah Riana yang memamerkan gigi gingsulnya. Mendadak Riana terdiam, mukanya terus menjadi malu dikala menyadari tangan Iqbalmasih menggenggam kedua tangannya.

Tetapi tidak berselang lama bentakan dari bibir tipisnya kembali terdengar,“ Hey!.. Kalo memiliki mata dilindungi ya,” umpat Riana akibat jelajah mata Iqbalyang menyatroni gundukan buah dada dibalik gaun ketat yang tidak tertutup oleh hijab, Riana beranjak serta duduk menghindar, merapikan jilbabnya.

“ Punyamu besar pula ya,” balas Rivan, tidak hirau hendak peringatan Riana yang jadi terus menjadi jengkel kemudian kembali melontarkan bantalan kursi.“ Ga harus sok kagum gitu, lagian kalian tentu telah kerap mengintip buah dada siswi disekolah?,,”

“ Tetapi punyamu istimewa, kepunyaan seseorang guru tercantik disekolah,”

“ Sialan..” dengus Riana merapikan jilbabnya, tetapi sudut bibirnya malah tersenyum, sebab tidak terdapat waNurul yang tidak suka apabila dipuji. Wajah Riana memerah, kalimat Iqbalbegitu vulgar seolah itu merupakan perihal yang biasa.

“ Rey… liat dong,”

“ Heh? Kalian ingin liat payudaraku, gilaa… Barang ini seluruhnya jadi hak kepunyaan suamiku,” WaNurul itu memeletkan lidahnya, tanpa sadar mulai terbawa watak Iqbalyang cuek.

“ Mari dooong, penasaran banget nih,”

“ Nanti, kalo saya masuk kamar mandi intipin aja pake piroskop ciptaan kamu itu, hahaha..” Riana tertawa terpingkal menutup mukanya, tidak yakin dengan apa yang baru saja diucapkannya.

“ Yaaa, sangat ngga jangan ditutupin hijab keq,” sungut Rivan, keqi atas ulah Riana yang menertawakannya.

“ Hihihi… Liat aja ya, jangan dipegang,” Ucap guru menawan itu dengan mata tertuju ke Televisi, kemudian mengikat jilbabnya kebelakang.

“ Kurang..”

“ Terlebih? Bugil?” matanya melotot seolah- olah lagi marah, namun jantungnya malah berdebar kencang, menantang hatinya sepanjang mana keberanian dirinya.

“ satu kancing aja,”

“ Bawah guru mesum,” Riana lagi- lagi memeletkan lidahnya kemudian kembali menolehkan mukanya ke Televisi, tetapi tangannya bergerak melepas kancing atas.

Tetapi tidak menyudahi hingga disana, sebab tangannya terus bergerak melepas kancing kedua kemudian menyibak kedua sisinya sampai terus menjadi terbuka, membiarkan bongkahan berbalut bra itu jadi santapan penasaran mata Rivan. Entah apa yang membuat Riana seberani itu, buat awal kalinya dengan terencana menggoda lelaki lain dengan badan nya.

“ Punyamu tentu lebih kencang dibandingkan kepunyaan ANurul,” sambung Rivan, matanya terus terpaku ke dada Riana sembari mengusap- usap dagu yang tumbuhi jambang tipis, seakan menerawang seberapa besar daging empuk yang dipunyai waNurul menawan itu. Tetapi perkata Iqbaljustru membuat Riana kaget, bimbang sekalian penasaran.“ Hhmmm.. Terdapat ikatan apa antara dirimu serta Bu Nurul?”

“ Tidak terdapat, saya cuma menemani waNurul itu, menemani malam- malamnya yang hening,”

“ Gilaaa.. Apa kamu… eeeenghhh,,,”

“ Maksudmu saya selingkuhan Bu ANurul kan? Hahaha…” Iqbalmemotong kalimat Riana sehabis tau iktikad kalimat yang susah diucapkan waNurul itu.“ Dapat dikatakan semacam itu, hehehe.. Tetapi kami telah mengakhirinya pas seminggu yang kemudian,”

“ Mengapa?” sambar Riana yang seketika penasaran atas isu skandal yang memanglah sudah menyebar digolongan para guru mesum. Iqbalmenghela napas kemudian menyandarkan badannya.“ Suaminya curiga dengan ikatan kami, walaupun ANurul menolak buat mengakhiri saya senantiasa wajib mengambil keputusan itu, resikonya sangat besar,”

“ Apa kalian menyayangi Bu ANurul?”

Iqbaltidak langsung menanggapi tetapi malah mengambil rokok dari kantongnya, sehabis 3 jam lebih menahan diri buat tidak menghirup lintingan tembakau dikantongnya, kesimpulannya lelaki itu memohon izin,“ Boleh saya merokok?”

“ Silahkan..” jawab Riana kilat.

“ Saya tidak tau tentu, ANurul waNurul yang menawan, tetapi ia bukan waNurul yang kuidamkan,” beber lelaki itu sehabis menghembuskan asap pekat dari bibirnya. Tetapi wajah waNurul didepannya masih menampilkan rasa penasaran,“ kemudian apa saja yang telah terjalin antara dirimu serta ANurul?” cecarnya.

“ Hahahaha.. Maksudmu apa saja yang telah kami jalani?”

Wajah Riana memerah sebab malu, Iqbaldengan telak memecahkan kekakuannya selaku seseorang waNurul berusia.“ ANurul merupakan waNurul bersuami, maksudnya kau tidak berhak buat menjamah badannya,” ucap Riana berupaya membela keluguan berfikirnya.

Iqbaltersenyum kecut, mengakui kesalahannya,“ Tidak terhitung lagi berapa kali kami melaksanakannya, mulai dari dirumahku, dirumahnya, apalagi kami sempat melaksanakan diruang lab kimia, desah suaranya selaku waNurul yang kesepian betul- betul menggoda diriku, rindu pada saat- saat saya menghamburkan spermaku diwajah cantiknya.”

Mendadak wajah Riana terasa panas membayangkan petualangan, ANurul,“ Mengapa kalian tidak menikah saja?” tanya Riana berupaya menetralkan debar jantungnya.“ Belum terdapat yang sesuai,” jawab Iqbaldengan sederhana, membuat Riana menggeleng- gelengkan kepala, waNurul itu mengambil teh dimeja serta meminumnya.

“ Rey.. selingkuhan sama saya ayo..”

Brruuuuuffftttt…

Bibir tipis Riana mendadak menghambur air teh dimulutnya.

“ Bawah guru mesum,” umpat Riana membuang mukanya, yang menunjukkan ekspresi tidak terbaca, kejendela yang masih mempertontonkan rinai hujan yang malah turun terus menjadi deras.

“ Saya masak dahulu, lapar nih,” ucap Riana, beranjak dari kursi berupaya menjauh dari tatapan Iqbalyang begitu sungguh- sungguh, jantungnya berdegub keras masih tidak yakin dengan apa yang diucapkan Rivan.

“ Rey…” Panggilan Iqbalmenghentikan langkah waNurul itu.

“ Mengapa wajahmu jadi pucat begitu, tidak butuh khawatir saya hanya bercanda koq,” ucap lelaki itu sembari terkekeh.

“ Siaaal, ni laki- laki berhasil mengerjai saya,” umpat hati Riana.

“ Saya tau koq, kalian tidak bisa jadi mempunyai nyali buat menggoda guru luar biasa galak semacam saya,” ucapnya sembari memeletkan lidah. Diam- diam bibirnya tersenyum dikala Iqbalmengikuti ke dapur. Hatinya berupaya berapologi, paling tidak lelaki itu bisa menemaninya dikala memasak.

Riana dengan bangga memamerkan keahliannya selaku seseorang waNurul, tangannya bergerak kilat mempersiapkan serta memotong bumbu yang dibutuhkan, sedangkan Iqbalduduk dikursi meja makan serta kembali berceloteh tentang kenakalan serta kegeNuruln para siswi disekolah yang kerap menggoda dirinya selaku guru mesum jomblo tampan.

“ Awas aja kalo kalian hingga berani memegang siswi disekolah,” Riana menegaskan Iqbalsambil mengacungkan pisau ditangan, serta itu membuat Iqbaltertawa terpingkal.

“ Ckckckck, mahir pula tangan mu Rey,” Iqbalmengkomentari kecepatan tangan Riana dikala memotong bawang bombay.

“ Hahaha… mari mari saya ajarin..” tawar Riana tanpa menghentikan aksinya.

Tetapi Riana kaget kala Iqbalmemeluknya dari balik, bukan.. laki- laki itu bukan memeluk, sebab tangannya mengambil alih pisau serta bawang yang terdapat ditangannya.“ Ajari saya ya..” bisik Iqballembut pas ditelinganya.

Kepala waNurul itu mengangguk, tersenyum tersipu. Tangannya nampak ragu dikala memegang serta menggenggam tangan Iqbalyang ditumbuhi rambut- rambut halus. Lama- lama pisau bergerak membelah daging bawang.

“ tangan mu sangat kaku, Hahahaa,”

“ Ya maaf, tanganku memanglah tidak terlatih melaksanakan ini, tetapi sangat terlatih buat pekerjaan yang lain.”

“ Oh ya? Contohnya semacam apa? Membuat periskop buat mengintip siswi dikamar mandi? Hahaha,,,”

“ Bukan, tetapi tanganku sangat terampil buat memanjakan waNurul menawan semacam mu,” ucap lelaki itu, membebaskan pisau serta bawang, bergeser mengusap perut Riana yang datar serta lama- lama merambat mengarah buah dada yang membusung.

“ Hahaha, tidaak tidaaak, saya bukan selingkuhanmu, ingat itu,” tolak Riana berupaya menahan tangan Rivan.

“ Rey, bila begitu jadilah sahabat yang mesra buat diriku, serta perkenankan temanmu ini sesaat mengangumi badanmu, apabila tanganku sangat bandel kalian dapat menghentikanku dengan pisau itu, Deal?…”

Badan Riana gemetar, kemudian mengangguk dengan pelan,“ Ya, Deaaal.” ucap bibir tipisnya, serak. Riana kembali mencapai pisau serta bawang serta membiarkan tangan perkasa Iqbaldengan jari- jarinya yang panjang menggenggam buah dada nya secara utuh. Membagikan remasan yang lembut, memainkan sejoli bongkahan daging dengan gemas.

Mata Riana terpejam, kepalanya terangkat bersamaan cumbuan Iqbalyang lama- lama merangsek keleher yang masih terbalut hijab. Romansa yang ditawarkan Iqbaldengan kilat mengambil alih kewarasan Riana.

“ Owwhhhh,” bibir Riana mendesah, kakinya seolah kehabisan tenaga dikala jari- jari Iqbalberhasil menciptakan puting buah dada yang membeku.

“ Rivaaaan,” ucap waNurul itu sesaat saat sebelum bibirnya menyongsong lumatan bibir yang panas.

Membiarkan lelaki itu menikmati serta bercanda dengan lidahnya, menari serta membelit lidahnya yang masih berupaya menjauh.“ Eeeemmhhh…” mukanya terkaget, Iqbaldalam hisapan yang lembut membuat lidah nya berpindah masuk menjelajahi mulut lelaki itu serta merasakan kehangatan yang ditawarkan.

Menggelinjang dikala lelaki itu menyeruput ludah dari lidahnya yang menari. Bila Riana mengira game ini sebatas game pertautan lidah, hingga waNurul itu salah besar, sebab jemari dari lelaki yang saat ini memeluknya penuh hasrat itu mulai menyelusup kebalik kancingnya.

“ Boleh?”

WaNurul berbalut hijab itu tidak berani menanggapi, cuma memejamkan matanya serta menunggu keberanian silelaki buat menikmati badannya. Begitu juga dikala tangan Iqbalberusaha menarik keluar bongkahan daging padat yang membusung menantang dari bra yang membekap.

“ Oooowwwhh, eemmppphhh,” badan Riana mengejang mendadak, tangan lentiknya tidak sanggup mengusir tangan Rivan, cuma mencengkram supaya jemari lelaki itu tidak bergerak sangat lincah memelintir puting mungilnya.

“ Rey.. Mengapa kalian dapat sepasrah ini?.. Benarkah kalian menggemari lelaki ini?.. Bukan.. Ini bukan hanya pertemanan Rey.. Walaupun kau tidak menyadari saya dapat merasakan bibit rasa suka dihatimu hendak lelaki itu, Rey…” hati kecil Riana berupaya menyadarkan. Tetapi waNurul itu malah berupaya memungkiri penghianatan cinta yang dilakoninya, berupaya mengenyahkan bisikan hati dengan memejamkan matanya lebih erat.

Mukanya mendongak ke langit rumah, berupaya lari dari batinnya yang berteriak berikan peringatan. Pasrah menunggu dengan hati berdebar dikala tangan Iqbalmulai mengangkut dasternya keatas serta dengan tentu menyelinap kebalik kain kecil, menyelipkan jari tengah kecelah kemaluan yang mulai basah.

“ Ooowwwhhhhhhh,” bibirnya mendesah panjang, berupaya membuka kaki lebih lebar seolah melepaskan jari- jari Iqbalbermain dengan klitorisnya.

Kurihiiiing…

Kurihiiiing…

Dering HP mengagetkan keduanya, membuat pergumulan birahi itu terlepas. Pemahaman Riana mengambil alih mendadak, dirinya terus menjadi shock memandang nama yang tertera dilayar HP,‘ Mas Anggara’.

“ Hallo mas, halloo,,” sambut Riana diantara usahanya mengkondisikan jantung yang berdegup kencang.

“ Mas lagi dimana, mengapa belum kembali?” ucap Riana kalut dengan rasa khawatir serta bersalah yang begitu besar, seakan suaminya saat ini berdiri pas didepannya.

“ Mas masih dirumah sakit, bisa jadi tidak dapat kembali malam ini,” jawab suara besar diujung telpon.

“ Iya.. Iya tidak apa- apa, Mas kerja saja yang tenang,”

Sehabis mengucap salam, sambungan telpon dimatikan. Riana berdiri bersandar dimeja, menghela napas panjang kemudian meneguk liur buat membasahi kerongkongannya yang terasa sangat kering.

“ Rivan, terimakasih buat seluruhnya, tetapi kau dapat kembali saat ini,”

“ Tidak Rey, kita wajib menuntaskan apa yang telah kita mulai,”

“ Apa maksudmu?… Tidak.. Saya bukan semacam ANurul yang kesepian, saya tidak mempunyai permasalahan apapun dengan suamiku, keluarga yang kumiliki dikala ini merupakan keluarga yang memanglah kuidamkan…” wajah Riana jadi pucat dikala Iqbalmendekat melekat ketubuhnya, mengangkut dasternya lebih besar, memeluk serta meremas pantat yang padat berisi.

“ Rivan, ingat!.. Kalian seseorang guru, bukan pemerkosa..” didorongnya badan lelaki itu, tetapi pelukan tangan Iqbalterlalu erat.

“ Yaa.. Saya memanglah bukan pemerkosa, saya cuma mau menuntaskan apa yang telah kita mulai,”

“ Edan kalian Rivan, saya merupakan istri yang setia, tidak semacam waNurul- waNurul yang sempat kau tiduri”

“ Ohh ya?,,” Iqbaltersenyum sembari merendahkan celananya serta memamerkan batang yang sudah membeku, batang besar yang membuat Riana terhenyak.

Seketika dengan agresif Iqbalmencengkram badan Riana serta mendudukkan waNurul itu diatas meja, dengan gerakan yang kilat menyibak celana dalam Riana, batang besar itu sudah terletak didepan bibir senggama Riana.

“ Jangan Rivaaan, saya dapat berbuat nekat,” Riana mulai menangis ketakutan, mencapai garpu yang terdapat disampingnya, mengecam Rivan.

“ Mengapa mengambil garpu, bukankah disana terdapat pisau?” Iqbalterkekeh, wajah yang tadi dihias senyum menghanyutkan saat ini berganti begitu menakutkan.

“ Aaaaaaaaaaaggghh…” Iqbalberteriak kesakitan dikala Riana menusukkan garpu ke lengan lelaki itu.

Lelaki itu menepis tangan Riana, merebut garpu serta melemparnya jauh, darah nampak merembes dikemeja lelaki itu.“ Apabila mau mengakhiri ini sepatutnya kau tusuk pas di ulu hatiku,” ucapnya dengan wajah menggerenyotkan bibir sekalian menahan sakit.

“ Tidaaak Rivaaaan, hentikaaan,” Riana sukses berontak mendesak badan besar Iqballalu berlari kearah kamar, tetapi belum pernah waNurul itu menutup kamar Iqbalmenahan dengan tangannya.

“ Aaaaagghh…” Iqbalmengerang kesakitan akibat tangannya yang terjepit daun pintu, kemudian dengan agresif mendesak sampai membuat Riana terjengkal.

“ Dengar Rey.. Telah lama saya menggemari mu, serta saya berupaya menarik perhatianmu dengan menentang tiap kebijakan mu,”

Dengan agresif Iqbalmendorong waNurul itu kelantai serta melucuti pakaiannya, Riana berteriak memohon tolong sambil mempertahankan kain yang tersisa, tetapi derasnya hujan mengubur usahanya. Lelaki itu berdiri mengangkangi badan Riana yang terbaring tidak berdaya, memamerkan batang besar yang membeku sempurna, kejantanan yang jelas lebih besar dari kepunyaan suaminya.

WaNurul itu menangis dikala Iqbaldengan agresif menepis tangan yang masih berupaya menutupi selangkangan yang tidak lagi dilindungi kain.“ Cuu.. Lumayan Rivan, sadarlaaah..” sembari terus menangis Riana berupaya menyadarkan, tetapi usahanya percuma, mata lelaki itu terhiptonis pada lipatan Miss V dengan rambut kemaluan yang terpelihara apik.

Dengan kekuatan yang tersisa Riana berupaya merapatkan kedua pahanya, tetapi terlambat, Iqbaltelah lebih dahulu menempatkan badannya diantara paha sekal itu serta bersiap menghujamkan kejantanannya buat mengecap suguhan nikmat dari waNurul secantik Riana.

“ Ooowwhhh… Miss V mu lebih kecil dibandingkan kepunyaan ANurul,” desah Iqbalseiring kejantanan yang menyelusup masuk ke liang sang betina.

“ Oohhkk.. Oohhkk..” bibir Riana mengerang menerima hujaman yang dicoba dengan agresif, terus menjadi keras batang besar itu menghujam terus menjadi kokoh pula jari- jari Riana mencakar tangan Rivan, air matanya tidak henti mengalir.

Badannya terhentak bergerak tidak beraturan, Iqbalmenyetubuhinya dengan sangat agresif. Wajah lelaki itu menggerenyotkan bibir dikala melipat kedua paha Riana keatas, berikan suguhan indah dari batang besar yang bergerak kilat menghujam celah kecil Miss V Riana.

“ Sayang, saya dapat merasakan lorong vaginamu terus menjadi basah, nyatanya kalian pula menikmati pemerkosaan ini, hehehe”

Plak…

Persoalan Iqbalberbuah tamparan dari tangan Riana, tetapi lelaki itu malah tertawa terpingkal, lidahnya menjilati jari- jari kaki Riana yang terangkat keatas dengan pinggul yang terus bergerak menghujamkan batang pusakanya. Puas bermain dengan kaki Riana, tangan lelaki itu bergerak melepas bra yang masih tersisa.

“ Ckckckck… Sempurna, semenjak dahulu saya telah percaya payudaramu lebih kencang dari kepunyaan ANurul,”

Badan Riana melengkung dikala putingnya dihisap lelaki itu dengan kokoh.“ Oooooouugghh..”

“ Tentu ANurul malam ini tidak dapat tidur sebab menunggu batang kejantanan yang saat ini lagi kau nikmati, Oowwhhh kecantikan, keelokan badan serta nikmatnya vaginamu betul- betul membuatku kurang ingat pada beringasnya game ANurul,” ucap Rivan, membuat Riana kembali melayangkan tangannya kewajah lelaki itu.

“ Bajingan kalian, Van..” umpat waNurul itu, tetapi tidak berselang lama bibirnya malah mendesah dikala lidah Iqbalbermain ditelinganya.“ Oooowwwhhhhh….”

“ Hehehe…akuilah, bila kalian pula menikmati pemerkosaan ini, rasakanlah besarnya penisku divagina kecil mu ini,”

Mata waNurul itu terpejam, air matanya masih mengalir dengan suara terisak ditingkahi lenguhan yang sesekali keluar tanpa sadar. Hatinya berkecamuk, susah memanglah memungkiri kenikmatan yang tengah dialami segala inderanya.

“ Reeeey… Sadarlah, kalian waNurul baik- baik, seseorang istri yang setia, paling tidak tutuplah mulut bandel mu itu,” teriak hatinya berupaya menegaskan, membuat airmata Riana terus menjadi deras mengalir.

Yaa.. walaupun hatinya berontak, tetapi badannya sudah berkhianat, pinggulnya tanpa dimohon bergerak menyongsong hentakan batang yang menggedor bilik rahim. Iqbaltersenyum penuh kemenangan.

“ Berbaliklah, sayang,” pintanya.

Badan Riana bergerak lemah membelakangi Rivan, pasrah dikala lelaki itu menarik pantatnya menungging lebih besar, menawarkan kenikmatan dari liang senggama yang terus menjadi basah. Jari- jari lentiknya mencengkram sprei dikala lelaki dibelakang badannya menggigiti bongkahan pantatnya dengan gemas.

“ Oooowwwhhhh… Eeeeeenghhh..” pantat indah yang membulat sempurna itu terangkat terus menjadi besar kala lidah yang panas membagikan sapuan panjang dari bibir Miss V sampai keliang anal.

 

BACA JUGA : Cerita Sex Tubuh Melisa Yang Menawan

 

Rasa khawatir serta birahi tidak lagi sanggup dikenali, matanya yang sendu berupaya mengintip pejantan yang membenamkan wajah tampannya dibelahan pantat yang bergetar menikmati game lidah yang lincah menari, menggelitik liang Miss V serta anusnya, sesuatu sensasi kenikmatan yang tidak sempat diberikan oleh suaminya.

Isak tangis bercampur dengan rintihan. Hati yang berontak tetapi badannya tidak sanggup berdusta atas lenguhan panjang yang mengalun dikala batang besar Iqbalkembali merambah badannya, menghantam bongkahan pantatnya dengan bibir menggeram penuh nafsu.

Demikian juga dikala Iqbalmeminta Riana buat menaiki badannya, walaupun airmatanya jatuh menetes diatas wajah sipejantan tetapi pinggul waNurul itu bergerak luwes dengan indahnya menikmati batang besar yang dituntut buat masuk lebih dalam.

“ Aaaawwhhhh Rey… Boleh saya menghamilimu?” ucap Iqbalsaat letaknya kembali terletak diatas badan Riana, menunggangi badan indah yang baru saja meregang orgasme.

WaNurul itu membuang mukanya, bibirnya terkatup rapat tidak berani menanggapi cuma gerakan kepala yang menggeleng menolak, matanya begitu khawatir beradu pandang dengan mata Iqbalyang penuh birahi.

Batang besar Iqbalbergerak kilat, orgasme yang diraih siwaNurul membuat lorong senggamanya jadi sangat basah. Hentakan pinggul lelaki itu begitu kilat serta kokoh seolah mau membobol bilik rahim, memforsir Riana berpegangan pada besi ranjang penikahannya buat meredam kenikmatan yang didustakan.

“ Reeeeey.. Boleh saya menghamilimuuu?.. Aaaagghhh, cepaaaaat jawaaaaaaaab,” teriak Iqbalyang menggerakkan pinggulnya terus menjadi kilat.

Riana memandang Iqbaldengan kepala yang menggeleng.“ Jangaaan.. kumohooon jangaaaan… Iqbaltersenyum menggerenyotkan bibir“ Kalian percaya? Tidak mau merasakan sensasi gimana mani lelaki lain menghambur dirahim mu?”

Plaaak..

Riana kembali menampar wajah Iqbaluntuk yang berulang kalinya, tetapi kali ini jauh lebih keras. WaNurul menjerit terisak, tetapi kaki jenjangnya malah bergerak melingkari pinggul silelaki, tangannya memeluk erat seolah mau menyatukan 2 badan.

Tangis Riana terus menjadi jadi, menangisi kekalahannya. Tangannya menyusuri punggung Iqbalyang berkeringat kemudian meremas pantat yang berotot seolah menunjang gerakan Iqbalyang menghentak batang terus menjadi dalam. rayuanjanda.com

“ Kalian jahaaaaat Rivaaaan.. jahaaaaat..” teriak Riana bersamaan lenguh kenikmatan dari bibir silelaki.

Menghambur bermili- mili mani dilorong senggama, menghantar ribuan benih kerahim siwaNurul yang mengangkut pinggulnya menyongsong kepuasan silelaki dengan lenguh orgasme yang kembali menyapa, badan keduanya mengejat, menggelinjang, menikmati suguhan puncak dari suatu senggama tabu.

“ Mengapa kau mempermainkan saya semacam ini,” isak Riana dengan napas memburu, tangannya masih meremasi pantat berotot Iqbalyang sesekali mengejat buat menghantar mani yang tersisa kerahim sang waNurul.

“ Sebab saya mencintaimu,” bisik lembut sang penjantan ditelinga betina yang membuat pelukannya terus menjadi erat, membiarkan badan besar itu berlama- lama diatas badan indah yang terbaring pasrah. Membisu dalam benak tiap- tiap.

“ Apa kalian bersedia jadi sahabat selingkuhku?”

Riana menggeleng dengan kilat,“ Saya tidak berani, Rivan, Ooooowwhhhhhh..” waNurul itu membebaskan pagutan kakinya serta mengangkang lebar, membiarkan silelaki kembali menggerakkan pingulnya serta memamerkan kehebatan kejantanannya dicelah kecil Miss V Riana.

“ Tetapi gimana apabila saya memforsir?..”

“ Itu tidak bisa jadi Oooowwhhh… Saya telah bersuami serta mempunyai anak, aaaahhhhhh…” Riana menggelengkan kepala, berupaya kukuh atas pendirian, walaupun pinggul indahnya bergerak liar, tidak lagi malu buat menyongsong tiap hentakan yang menghantar batang penis kedalam badannya.

Riana tidak mau berdebat, tangannya menjambak rambut Iqbalsaat bibir lelaki itu kembali berupaya merayu, membekap wajah Iqbalpada kebongkahan buah dada dengan puting yang membeku.

“ Kalian jahat, Van.. Tidak sepatutnya saya membiarkan lelaki lain menikmati tubuhku.. Ooowwwhh.. Ooowwwhhh…”

Setelahnya tidak terdapat lagi kalimat lagi yang keluar tidak hanya desahan serta lenguhan serta deru napas yang memburu. Sampai kesimpulannya bibir Iqbalbersuara serak memanggil nama sang waNurul.

“ Reeeeey… Boleeeehkaaan?”

Riana memandang sendu wajah birahi Rivan, dengan pemahaman yang penuh waNurul itu mengangguk kemudian merentang kedua tangan serta kakinya, berikan izin kepada silelaki buat kembali menghambur mani kedalam rahimnya. rayuanjanda.com

“ Reeeey..” panggil lelaki itu kembali, membuat siwaNurul bimbang, sedangkan badannya sudah pasrah jadi pelampiasan dari puncak birahi Rivan.

Dengan wajah memelas tangan Iqbalbergerak mengusap wajah Riana, telunjuknya membelah bibir tipis siwaNurul.

“ Bawah guru mesum,” ucap Riana sembari menampar pipi Iqbaltapi kali ini dengan lembut,

“ kalian menang banyak hari ini, Van..” ucapnya lirih dengan mata sembap oleh air mata.

“ Boleeeh?..”

Riana memalingkan mukanya, kemudian mengangguk ragu. Iqbalbangkit mencabut batangnya kemudian mengangkangi wajah guru menawan itu. Sudut mata Riana menangkap wajah tampan silelaki yang menggeram sembari memainkan batang besar pas didepan wajah nya.

Jemari lentiknya gemetar dikala mengambil alih batang besar itu dari tangan Rivan. Memberanikan diri buat memandang lelaki yang mengangkangi mukanya, kepasrahan wajah seseorang waNurul atas lelaki yang menikmati tualang birahi atas badannya.

“ Aaaaaaaagghhh.. Aaaaagghhh.. Reeeeey..” wajah Iqbalmemucat bersamaan mani yang menghambur kewajah menawan yang menyongsong dengan mata memandang sendu.“ Aaaaaagghhhh.. Sayaaaaaang..”

Tidak sempat sekalipun Riana melihat seseorang pejantan yang begitu histeris memperoleh orgasmenya, serta tidak sempat sekalipun Riana membiarkan seseorang pejantan menghamburkan mani diwajah cantiknya. Dengan ragu Riana membuka bibirnya, membiarkan tetesan mani menyapa lidahnya. Batang itu terus berkedut dikala jari lentik Riana yang gemetar menuntun kedalam mulutnya.

Menikmati keterkejutan wajah Iqbalatas keberaniannya. Bibirnya bergerak lembut menghirup batang Rivan, mempersilahkan lelaki itu meluangkan benih birahi didalam bibir tipisnya.

“ Ooooooowwwhhhhh.. Reeeeeeeey…” Iqbalmengejat, menyongsong tawaran Riana dengan sebagian semburan yang tersisa.

“ Cepatlah kembali.. Saya tidak mau suamiku tiba serta mengalami dirimu masih disini,” pinta Riana sehabis Iqbalsudah menggunakan kembali segala pakaiannya.

“ Masih belum puas?.. bawah guru mesum,” ucapnya ketus dikala Iqbalmemeluk dari balik. rayuanjanda.com

“ saya tidaklah selingkuhan mu, catat itu,” Riana menepis tangan Rivan.

“ Yaa.. Saya hendak mencatatnya disini, disini, serta disini..” jawab Iqbalsambil menunjuk bibir tipis Riana, kemudian bergeser meremas buah dada yang membusung serta berakhir dengan remasan digundukan Miss V.

“ Bawah edan ni laki- laki,” umpat hati Riana, yang jengkel atas ulah Iqbaltetap nampak cuek sehabis apa yang terjalin.

Riana memandang punggung Iqbalsaat lelaki itu melangkah keluar, hujan masih mengguyur bumi Jakarta dengan derasnya, dibibir pintu lelaki itu menyudahi serta membalikkan badannya, menunjukkan wajah sungguh- sungguh.

“ Maaf Rey, sangat ini diluar dugaanku, seluruh tidak lepas dari khayalku hendak dirimu, tetapi saya memanglah salah sebab menyayangi waNurul bersuami, Love you Rey..” ucap Iqballalu melangkah keluar kepelukan hujan. GAME ONLINE TERBAIK 

“ Rivaaan.. Love u too,” teriak Riana dengan suara serak, membuat langkah Iqbalterhenti

“ Tetapi maaf saya tidak dapat jadi selingkuhanmu.” lanjutnya.

“ Mamaaaaaa, Elminaaaa pulaaaaang,” teriak seseorang bocah dengan riang, coba mengagetkan waNurul yang padat jadwal merapikan tempat tidur yang berhamburan, wanita kecil itu langsung menghambur memeluk badan Riana, ibunya.

Usaha wanita itu lumayan sukses, Riana sama sekali tidak menebak, Ermina, gadis kecilnya yang sebagian hari menginap ditempat kakeknya dijemput oleh suaminya.

“ Ini buat mama dari Elmina,” ucapnya cadel, menyerahkan balon gas berupa amor yang melayang pada seutas tali.“ Elmina kangen mamaa, selamat valentine ya, ma, Mudah- mudahan mama terus menjadi menawan serta sehat senantiasa..”

 

BACA JUGA : Cerita Sex Semua Berawal dari Film Bokep

 

Wajah mungil itu tersenyum riang, senyum yang begitu tulus hendak kerinduan wujud seseorang bunda. Riana tidak lagi sanggup membendung air mata, memandang mata bening tanpa dosa yang menampilkan kasih sayang seseorang anak. Sedangkan dibelakang wanita itu berdiri suaminya, Anggara, sembari menggenggam balon yang sama.

“ Selamat valentine, sayang,” ucap Anggara, tersenyum dengan gayanya yang khas, senyum lembut yang malah mencabik- cabik hati Riana.

Mendadak seluruh sumpah serapah tertumpah dari hatinya, atas ketidaksetiaannya selaku seseorang istri, atas ketidak becusannya menyandang istilah seseorang bunda.

“ Maafin Mama, sayang,” ucap Riana tanpa suara, memeluk erat badan mungil Ermina, terisak dengan badan gemetar.“ Maafin mama, Pah,”

Tengah malam, Riana berdiri dibalik jendela, memandang gulita dengan gundah. Suaminya serta Ermina sudah terlelap. rayuanjanda.com

PING!…

Tanpa hasrat waNurul itu membuka BBM yang nyatanya menunjukkan pesan dari Rivan.

“ Esok jam 12 saya tunggu di lab kimia,”

Jemari kiri Riana erat menggenggam tangan suaminya yang tengah pulas tertidur, sedangkan tangan kanannya menulis pesan dengan gemetar.“ Ya, saya hendak kesitu,”