Cerita Sex Ketagihan Dengar Desahan Tante Lia

 

 

Cerita Sex Ketagihan Dengar Desahan Tante Lia

Saya menemukan cerita yang tidak dapat terlupakan sementara itu cerita itu terjalin kira kira 1 tahun yang kemudian tetapi rasanya baru kemarin Saya rasakan, cerita ini berkisah tentang istri dari pamanku dimana pamanku baru saja melakukan pernikahannya meski dapat dikata telat, sebab usianya suah rada tua

Pamanku terbilang orang berhasil sebab dalam bisnisnya lancer seluruh, bisa jadi karena itu pamanku padat jadwal ke bisnisnya hingga kurang ingat pasangan hidupnya, telah dianjurkan kepada keluarganya serta dipilihakn perempuan tetapi senantiasa saja terdapat pertimbangan yang spesial dari paman sendiri, memohon ini memohon itu serta pada sesuatu dikala paman bawa perempuan yang sangat menawan.

Namanya Lia semacam namanya ia pula menawan, tidak menawan pula ia pula supel kepada kami, ia berumur 24 tahun serta dikala itu dia bekerja selaku sekretaris di industri sahabat pamanku itu.

Setelah itu kami bercakap- cakap, nyatanya Lia memanglah lezat buat diajak ngobrol. Serta Saya memandang kayaknya pamanku tertarik sekali dengannya, sebab Saya ketahui matanya tidak sempat lepas memandang wajah Lia.

Tetapi tidak demikian halnya dengan Lia. Dia lebih kerap memandangku, paling utama kala Saya berdialog, tatapannya dalam sekali, seolah- olah bisa menembus pikiranku. Saya mulai berpikir jangan- jangan Lia lebih mendikaiku.

Tetapi Saya tidak bisa berharap banyak, soalnya bukan Saya yang hendak dijodohkan. Tetapi Saya senantiasa saja memandangnya kala dia lagi berdialog, kupandangi dari ujung rambut ke kaki, rambutnya panjang semacam wanita di iklan sampo, kulitnya putih bersih, kakinya pula putih lembut, tetapi kayaknya dadanya agak rata, tetapi Saya tidak sangat memikirkannya.

Tidak terasa hari telah mulai malam. Setelah itu sebkamum mereka kembali, pamanku mentraktir mereka makan di suatu restoran chinese food di dekat rumahnya di wilayah Sunter. Kala hingga di restorant tersebut, Saya langsung berangkat ke toilet dahulu sebab Saya telah kebelet. Sebkamum Saya menutup pintu, seketika terdapat tangan yang menahan pintu tersebut. Nyatanya merupakan Lia.

“ Eh, terdapat apa di?”

“ Enggak, Saya pengen kasih kartu nama Saya, esok jangan kurang ingat telpon Saya, terdapat yang ingin Saya omongin, oke?”

“ Mengapa enggak saat ini aja?”

“ Jangan, terdapat paman kalian, pokoknya esok jangan kurang ingat.”

Sehabis kegiatan makan malam itu, Saya juga kembali ke rumah dengan seribu satu persoalan di otakku, apa yang ingin diomongin sama Lia sih. Tetapi Saya tidak ingin pikir panjang lagi, lagipula nanti Saya bisa- bisa sulit tidur, soalnya kan esok wajib masuk kerja.

Besoknya dikala rehat makan siang, Saya meneleponnya serta bertanya langsung padanya.

“ Eh, apa sih yang ingin kalian omongin, Saya penasaran banget?”

“ Eeee, penasaran ya, hen?”

“ Iya lah, mari dong buruan!”

“ Eh, slow aja lagi, napsu amet sih kalian.”

“ Baru ketahui yah, napsu Saya emang besar.”

“ Napsu yang mana nih?” Lia kayaknya memancingku.

“ Napsu makan dong, Saya kan bkamum pernah makan siang!”

Saya pernah emosi pula rasanya, kayaknya dia tidak ketahui Saya ini orang yang sangat menghargai waktu, paling utama jam makan siang, soalnya Saya sembari makan bisa sekalian main internet di tempat kerjAku, sebab dikala itu tentu bosku berangkat makan kkamuar, jadi Saya leluasa surfing di internet, free lagi.

“ Yah udah, Saya hanya ingin bilang dapat enggak kalian ke apartment Saya sore ini abis kembali kerja, soalnya Saya pengen ngobrol banyak sama kalian.”

Saya tidak habis pikir, nih orang mengapa tidak bilang kemarin saja.

Kemudian katAku,“ Mengapa enggak kemarin aja bilangnya?”

“ Sebab Saya ingin kasih surprise buat kalian.” katanya manja.

“ Ala, gitu aja pake surprise seluruh, yah udah entar Saya ke tempat kalian, kira- kira jam 6, alamat kalian di mana?”

Kemudian Lia bilang,“ Nih catet yah, apartment XXX, lantai XX, pintu nomor. XXX), jangan kurang ingat yah!”” Oke deh, tunggu aja nanti, bye!”

“ Bye- bye hen.”

Sehabis telepon terputus, kemudian Saya mulai membayangkan apa yang hendak dibicarakan, kemudian benak nakalku mulai bekerja. Apa dapat Saya menyentuhnya nanti, namun langsung Saya berpikir tentang pamanku, gimana jika nanti ketahuan, tentu tidak lezat dengan pamanku. Kemudian Saya juga mulai tenggelam dalam banyak aktivitas pekerjaanku.

Tidak lama juga waktu telah menampilkan jam 17. 00, telah waktunya nih, pikirku. Kemudian Saya juga mulai mengendarai motorku ke tempatnya. Cukup dekat dari tempat kerjAku di Roxymas. Sesampainya di situ, Saya juga langsung menaiki lift ke lantai yang diberitahukan. Begitu hingga di lantai tersebut, Saya juga langsung melihatnya lagi membuka pintu ruanganya

Langsung saja kutepuk pundaknya,“ Hai, baru sampe yah, di..”

Lia tersentak kaget,“ Wah Saya kira siapa, pake tepuk seluruh.”

“ Kalian khan kasih surprise buat Saya, jadi Saya pula mesti kasih surprise pula buat kalian.”

Kemudian dia mencubit lenganku,“ Bandel kalian yah, awas nanti!”

Kujawab saja,“ Siapa khawatir, emang Saya pikirin!”

“ Mari masuk hen, santai aja, anggap aja rumah sendiri.” katanya sehabis pintunya terbuka.

Kala Saya masuk, Saya langsung terpana dengan apa yang terdapat di dalamnya, kulihat temboknya berbeda dengan tembok rumah orang- orang pada biasanya, temboknya dilukis dengan gambar- gambar panorama alam di luar negara. Ia kayaknya orang yang berjiwa seniman, pikirku. Tetapi hebat pula jika hanya kerja selaku sekretaris sanggup menyewa apartment. Jangan- jangan ini wanita simpanan, pikirku.

Sembari Saya berkelana, Lia mengatakan,“ Ingin minum apa Hen?”

“ Apa saja lah, asal bukan toksin.” katAku bercanda. rayuanjanda.com

“ Oh, jika gitu nanti aku campurin obat tidur deh.” kata Lia sembari tertawa.

Sedangkan dia lagi membuat minuman, matAku secara tidak terencana tertuju pada rak VCD- nya, kala kulihat satu persatu, nyatanya lebih banyak film yang berbau porno. Saya tidak sadar kala dia telah kembali, tahu- tahu dia nyeletuk,“ Hen, kalo kalian ingin nonHen, setel aja langsung..!”

Saya tersentak kala dia ngomong semacam itu, kemudian kubilang,“ Apa Saya enggak salah denger nih..?”

Kemudian katanya,“ Kalo kalian merasa salah denger, yah Saya setelin aja saat ini deh..!”

Kemudian dia juga mengambil sembarang film setelah itu disetelnya. Wah, edan pula nih wanita, pikirku, apa dia tidak ketahui jika Saya ini pria, baru tahu satu hari saja, telah seberani ini.

“ Duduk mari Hen, jangan bengong aja, khan udah Saya bilang anggap aja rumah sendiri..!” kata Lia sembari menepuk kursi mendiruhku duduk.

Setelah itu Saya juga duduk serta nonHen di sampingnya, agak lama kami terdiam melihat film panas itu, hingga kesimpulannya Saya juga buka mulut,“ Eh di, tadi di telpon kalian bilang ingin ngomong suatu, apa sih yang ingin kalian ngomongin..?”

Lia tidak langsung ngomong, tetapi dia setelah itu menggenggam jemariku, Saya tidak menyangka hendak tindakannya itu, tetapi Saya juga tidak berupaya buat melepaskannya.

Agak lama setelah itu baru dia ngomong, pelan sekali,“ Kalian tau Hen, semenjak kemarin berjumpa, kayaknya Saya merasa pengen memandang kalian terus, ngobrol terus. Hen, Saya suka sama kalian.”

“ Tetapi khan kemarin kalian dikenalkan ke Paman Saya, apa kalian enggak merasa kalo kalian itu dijodohin ke Paman Saya, apa kalian enggak amati respon Paman Saya ke kalian..?”

“ Iya, tetapi Saya enggak ingin dijodohin sama Paman kalian, soalnya usianya aja beda jauh, Saya pikir- pikir, mengapa hari itu bukannya kalian aja yang dijodohin ke Saya..?” kata Lia sembari mendesah. GAME ONLINE TERBAIK 

Saya juga menanggapi,“ Saya sesungguhnya pula suka sama kalian, tetapi Saya enggak lezat sama Paman Saya, entar dikiranya Saya kurang ajar sama yang lebih tua.”

Lia diam saja, demikian pula Saya, sedangkan itu film terus menjadi meningkat panas, tetapi Lia tidak membebaskan genggamannya.

Kemudian secara tidak sadar otak pornoku mulai bekerja, soalnya kupikir saat ini kan tidak terdapat orang lain ini. Kemudian mulai kuusap- usap tangannya, kemudian dia menoleh padAku, kutatap matanya dalam- dalam, sembari mengatakan dengan pelan,“ Lia, Saya cinta kalian.”

Dia tidak menanggapi, tetapi memejamkan matanya. Kupikir ini saatnya, kemudian pelan- pelan kukecup bibirnya sembari lidahku menerobos berjumpa lidahnya. Lia juga kemudian membalasnya sembari memkamukku erat- erat.

Tanganku tidak tinggal diam berupaya buat meraba- raba buah dadanya, nyatanya agak besar pula, meski tidak sebesar punyanya bintang film porno. Lia menggeliat semacam cacing kepanasan, mendesah- desah menikmati rangsangan yang diterima pada buah dadanya.

Setelah itu Saya berupaya membuka satu persatu kancing bajunya, kemudian kuremas- remas pLiadara yang masih terbungkus BRA itu.

“ Aaaaahhh, buka aja BH- nya Hen, kilat.., oohh..!”

Kucari- cari pengaitnya di balik, kemudian kubuka. Wah, nyatanya cukup pula, masih padat serta kencang, meski tidak begitu besar. Langsung kusedot- sedot putingnya semacam anak balita kehausan.

“ Esshh.. ouww.. aduhh.. Hen.. nikmat sekali lidahmu.., teruss..!”

Sehabis bosan dengan pLiadaranya, kemudian kubuka skamuruh pakaiannya hingga bugil total. Dia pula tidak ingin kalah, kemudian membebaskan seluruh yang kukenakan. Buat sesaat kami silih berpandangan mengagumi keelokan tiap- tiap. Kemudian dia menarik tanganku mengarah ke kamarnya, tetapi Saya membebaskan pegangannya kemudian menggendongnya dengan kedua tanganku.

 

BACA JUGA : Cerita Sex Nikmatnya Ngewe 

 

“ Aouww Hen, kalian romantis sekali..!” katanya sembari kedua tangannya menggel Lia manja melingkari leherku.

Setelah itu kuletakkan Lia pelan- pelan di atas ranjangnya, kemudian Saya menindih badannya dari atas, buat sesaat mulut kami silih pagut memagut dengan mesranya sembari berpkamukan erat. Kemudian mulutku mulai turun ke buah dadanya, kujilat- jilat dengan lembut, Lia mendesah- desah nikmat. Tidak lama Saya bermain di dadanya, mulutku pelan- pelan mulai menjilati turun ke perutnya, Lia menggeliat kegelian.

“ Aduh Hen, kalian ngerjain Saya yah, awas kalian nanti..!”

“ Tetapi kalian suka khan? Geli- geli nikmat..!”

“ Udah ah, jilati aja memek Saya Hen..!”

“ Oke boss.., siap laksanakan perintah..!”

Langsung saja kubuka paha lebar- lebar, tanpa menunggu lagi langsung saja kujilat- jilat klitorisnya yang sebesar kacang kedele. Lia menggoyang- goyangkan pinggulnya dengan liar seakan- akan tidak ingin kalah dengan game lidahku ini.

“ Oohh esshhh aaouuw uuhh teeruss.., lebih dalemm, oohhh.. nikmat sekali..!”

Agak lama pula Saya bermain di klitorisnya sampai- sampai nampak banjir di dekat vaginanya.

“ Hen, masukkin aja titit kalian ke lobang Saya, Saya udah enggak tahan lagi..!”

Dengan lekas kuposisikan diriku buat menembus kemaluannya, tetapi kala kutekan ujung penisku, nyatanya tidak ingin masuk. Saya baru ketahui nyatanya ia masih perawan.

“ Lia, apa kalian tidak menyesal perawan kalian Saya tembus..?”

“ Hen, Saya rela jika kalian yang ngambil perawan Saya, untuk Saya di dunia ini hanya terdapat kita berdua aja.”

Tanpa ragu- ragu lagi langsung kutusuk penisku dengan kokoh, rasanya semacam terdapat suatu yang robek, bisa jadi itu perawannya, pikirku.

“ Aduh sakit Hen, tahan dahulu..!” katanya menahan sakit.rayuanjanda.com

Saya juga diam sejenak, kemudian kucium mulutnya buat meredakan rasa sakitnya. Sebagian menit setelah itu dia terangsang lagi, kemudian tanpa buang waktu lagi kutekan pantatku sehingga batang kemaluanku masuk seluruhnya ke dalam lubangnya.

“ Pelan- pelan Hen, masih sakit nih..!” katanya meringis.

Kugoyangkan pinggulku pelan- pelan, lama kelamaan kulihat ia mulai terangsang lagi. Kemudian gerakanku mulai kupercepat sembari menyedot- nyedot puting susunya. Kulihat Lia sangat menikmati sekali game ini.

Tidak lama setelah itu dia mengejang,“ Hen, aa.. Akuu.. ingin kkamuarr.., teruss.. terus.., aahh..!”

Saya juga mulai merasakan perihal yang sama,“ di, Saya pula ingin kkamuar, di dalam ataupun di luar..?”

“ Kkamuarin di dalem aja Sayang… ohhh.. aahh..!” katanya sembari kedua pahanya mulai dijepitkan pada pinggangku serta terus menggoyangkan pantatnya.

Seketika ia menjerit histeris,“ Oohh… sshh… sshh… sshh…”

Nyatanya ia telah kkamuar, Saya terus menggenjot pantatku terus menjadi kilat serta keras sampai memegang ke bawah liang senggamanya.

“ Sshh.. aahh..” serta,“ Aagghh.. crett.. crett.. creet..!”

Kutekan pantatku sampai batang kejantananku melekat ke bawah liang kenikmatannya, serta kkamuarlah spermAku ke dalam liang surganya.

Dikala terakhir air maniku kkamuar, Saya juga merasa lemas. Meski dalam kondisi lemas, tidak kucabut batang kemaluanku dari liangnya, melainkan menaikkan lagi kedua pahanya sampai dengan jelas Saya bisa memandang gimana rudalku masuk ke dalam sarangnya yang dikelilingi oleh bulu kemaluannya yang menggoda. Kubelai bulu- bulu itu sembari sesekali memegang klitorisnya.

“ Sshh.. aahh..!” cuma desisan saja yang jadi jawaban atas perlAkuanku itu.

Sehabis itu kami berdua bersama lemas. Kami silih berpkamukan sepanjang kira- kira satu jam sembari meraba- raba.

Kemudian dia mengatakan kepadAku,“ Hen, mudah- mudahan kita dapat bersatu semacam ini Hen, Saya sangat sayang pada kalian.”

Saya diam sejenak, kemudian kubilang begini,“ Saya pula sayang kalian, tetapi kalian mesti janji tidak boleh meladeni paman Saya kalo ia nyari- nyari kalian.”

“ Oke bossss, siap laksanakan perintah..!” katanya sembari memkamukku lebih erat.

Semenjak dikala itu, kami jadi sangat lengket, masing- masing malam pekan senantiasa kami bertingkah semacam suami istri. Tidak cuma di apartmentnya, kadangkala Saya tiba ke tempat kerjanya serta melaksanakannya bersama di Toilet, pasti saja sehabis seluruh orang telah kembali. rayuanjanda.com

Kadangkala dia pula ke tempat kerjAku buat memohon jatahnya. Katanya pamanku telah tidak sempat mencarinya lagi, soalnya masing- masing kali Lia ditelpon, yang menjawabnya merupakan mesin penjawabnya, kemudian tidak sempat dibalas Lia, bisa jadi kesimpulannya pamanku jadi bosan sendiri.

Saya Dengan Calon Istri Pamanku kerap jalan- jalan ke Mal- Mal, untungnya tidak sempat berjumpa dengan pamanku itu. Hingga dikala ini Saya masih jalur bersama, tetapi kala kutanya hingga kapan ingin begini, dia tidak menjawabnya. Saya mau sekali menikahinya, tetapi kayaknya dia bukan jenis wanita yang mau memiliki keluarga. Tetapi lambat- laun kupikir, tidak apalah, yang berarti Saya bisa enaknya juga