Cerita Sexku Awal Jadian Sama Cewek

Cerita Sexku Awal Jadian Sama Cewek
Cerita Sexku Awal Jadian Sama Cewek. Perkenalkan nama panggilanku Feby. Aku baru berusia 18 tahun (SMA kelas II). Tinggiku luFebyn sekitar 168 cm dan warna kulitku kuning bersih. Rambutku pendek sebahu, dan dadaku tidak terlalu besar dan tidak terlalu kecil juga.
Sangat proporsional antara tinggi dan berat badanku.
Kata orang-orang aku sangat cocok untuk seorang model. Dan aku belum mempunyai pacar. Aku anak ke 3 dari 4 bersaudara dan semua perempuan. Kakak-kakakku semua sudah mempunyai pacar, kecuali adikku yang paling kecil kelas dua SMP.
Pengalaman ini terjadi sekitar awal bulan Februari tahun 2001. Bukan karangan tapi berdasarkan cerita asli yang kualami. Ceritanya begini. Bermula saat aku berkenalan dengan seorang cowok, sebut saja namanya Justin. Orangnya tampan, tinggi sekitar 170 cm, dan tubuhnya atletis. Pokoknya sesuai dengan pria idamanku. Perbedaan umur kami sekitar 8 tahun, dan dia baru saja lulus dari universitas swasta terkenal di Jakarta.
Kami kenalan pada saat aku sedang mempersiapkan acara untuk perpisahan kelas II di SMA-ku. SMAku di kawasan Jakarta Barat. Dan pada saat itu Justin sedang menemani adiknya yang kebetulan panitia perpisahan SMA kami. Pada saat itu Justin hanya melihat-lihat persiapan kami dan duduk di ruangan sebelah.
Akhirnya pada saat istirahat siang, inilah pertama kalinya kami ngobrol-ngobrol. Dan pada saat kenalan tersebut kami sempat menukar nomor telepon rumah. Kira -kira tiga hari kemudian, Justin menelepon ke rumahku.
“Hallo selamat sore, bisa bicara dengan Feby, ini dari Justin.”
“Ada apa, kok tumben mau nelepon ke sini, aku kira sudah lupa.”
“Gimana kabar kamu, mana mungkin aku lupa. Hmm, Feb ada acara nggak malam minggu ini.”
Aku sempat kaget Justin mengajakku keluar malam minggu ini. Padahal baru beberapa hari ini kenalan tapi dia sudah berani mengajakku keluar. Ah, biarlah, cowok ini memang idamanku kok.
“Hmmm… belum tau, mungkin nggak ada, dan mungkin juga ada,” jawabku.
“Kenapa bisa begitu,” balas Justin.
“Ya, kalaupun ada bisa dibatalin seandainya kamu ngajak keluar, dan kalo batal acaranya aku bakalan akan nggak terima telpon kamu lagi,” balasku lagi.
“Ooo begitu, kalau gitu aku jemputnya ke rumahmu, sabtu sore, kita jalan-jalan aja. Di mana alamat rumahmu.”
Kemudian aku memberikan alamat rumahku di kawasan Maruya.
Dan ternyata rumah Justin tidak begitu jauh dari rumahku. Ya, untuk seukuran Jakarta, segala sesuatunya dihitung dengan waktu bukan jarak.
Tepat hari sabtu sore, Justin datang dengan kendaraan dan parkir tepat di depan rumahku. Setelah tiga puluh menit di rumah, ngobrol -ngobrol dan pamitan dengan orang rumah, akhirnya kami meninggalkan rumah dan belum tahu mau menuju ke mana. Di dalam mobil kami berdua, ngobrol sambil ketawa-ketawa dan tiba-tiba Justin menghentikan mobilnya tepat di lapangan tenis yang ada di kawasan Jakarta Barat.
“Feb, kamu cantik sekali hari ini, boleh aku mencium kamu,” bisik Justin mesra.
“Tin, apa kita baru aja kenalan, dan kamu belum tau siapa aku dan aku belum tau siapa kamu sebenarnya, jangan-jangan kamu sudah punya pacar.”
“Kalo aku sudah punya pacar, sudah pasti malam minggu ini aku ke tempat pacarku.”
“Tin, terus terang semenjak pertama kali melihat kamu aku langsung tertarik.”
Tiba-tiba tangan Justin memegang tanganku dan meremasnya kuat -kuat.”Aku juga Feb, begitu melihat kamu langsung tertarik.”
Dan Justin menarik tanganku hingga badanku ikut tertarik, lalu Justin memelukku erat-erat dan mencium rambutku hingga telingaku. Aku merinding dan tiba-tiba tanpa kusadari bibir Justin sudah ada di depan mataku. Dan pelan-pelan Justin mencium bibirku. Pertama-tama, sempat kulepaskan. Karena inilah pertama kali aku dicium seorang laki-laki. Dan tanpa pikir panjang lagi, aku yang langsung menarik badan Justin dan mencium bibirnya. Ciuman Justin sepertinya sudah ahli sekali dan membuatku begitu bernafsu untuk menarik lidahnya. Oh.. betapa nikmatnya malam ini. Dan, lama-kelamaan tangan Justin mulai meraba sekitar dadaku.
“Jangan Tin, aku tidak mau secepat ini, lagi pula kita melakukannya di depan jalan, aku malu Tin,” jawabku.
Sebenarnya aku ingin dadaku diremas oleh Justin karena aku sudah mengidam-idamkan dan sudah membayangkan apa yang akan terjadi berikutnya.
“Feb, bagaimana kalau kita nonton aja. Sekarang masih jam setengah delapan dan film masih ada kok.”
Akhirnya aku setuju. Di dalam bioskop kami mencari tempat posisi yang paling bawah. Justin sepertinya sudah sangat pengalaman dalam memilih tempat duduk. Dan begitu film diputar, Justin langsung melumat bibirku yang tipis. Lidah kami saling beradu dan aku membiarkan tangan Justin meraba di sekitar dadaku. Walaupun masih ditutupi dengan baju.
Tiba-tiba Justin membisikkan sesuatu di telingaku, “Feb, kamu membuat nafsuku naik.”
“Aku juga Tin,” balasku manja.
Dan Justin menarik tanganku dan mengarahkan tanganku ke arah penisnya. “Astaga,” pikirku. Ternyata diluar dugaanku, penis Justin sudah sangat tegang sekali. Dan aku tidak menyia-nyiakan kesempatan yang pertama kali ini. “Teruskan Feb, remas yang kuat dan lebih kuat lagi.” Tak lama kemudian, tangan Justin sudah berhasil membuka bajuku. Kebetulan saat itu aku memakai kemeja kancing depan. Sehingga tidak terlalu susah untuk membukanya. Kebetulan aku memakai BH yang dibuka dari depan.
Akhirnya tangan Justin berhasil meremas susuku yang baru pertama kali ini dipegang oleh seseorang yang baru kukenal. Justin meremasnya dengan lembut sekali dan sekali-kali Justin memegang puting susuku yang sudah keras.
“Teruskan Tin, aku enak sekali..” Dan tanpa sengaja aku pun sudah membuka reitsleting celananya, yang pada saat itu memakai celana kain. “Astaga,” pikirku sekali lagi, tanganku dibimbing Justin untuk memasuki celana dalam yang dipakainya. Dan sesaat kemudian aku sudah meremas-remas penis Justin yang sangat besar. Kami saling menikmati keadaan di bioskop waktu itu. “Teruskan Tin, aku enak sekali..” Tidak terasa film yang kami tonton berlalu dengan cepat. Dan akhirnya kami keluar dengan perasaan kecewa.
“Kita langsung pulang ya Feb sudah malam,” pinta Justin.
“Tin, sebenarnya aku belum mau pulang, lagian biasanya kakak-kakakku kalau malam mingguan pulangnya jam 11:30 malam, sekarang masih jam 10:15, kita keliling-keliling dulu ya.” bisikku mesra.
Sebenarnya dalam hatiku ingin sekali mengulang apa yang sudah kami lakukan tadi di dalam bioskop. Namun rasanya tidak enak bila kukatakan pada Justin. Mudah-mudahan Justin mengerti apa yang kuinginkan.
“Ya, sudah kita jalan-jalan ke senayan aja, sambil ngeliat orang-orang yang lagi bingung juga,” balas Justin dengan nada gembira.
Sampai di senayan, Justin memarkirkan mobilnya tepat di bawah pohon yang jauh dari mobil lainnya. Dan setelah Justin menghentikan mobilnya, tiba-tiba Justin langsung menarik wajahku dan mencium bibirku. Kelihatannya Justin begitu bernafsu melihat bibirku. Sebenarnya inilah waktu yang kutunggu-tunggu. Kami saling melumat bibir dan permainan lidah yang kami lakukan membuat gairah kami tidak terbendung lagi.
Tiba-tiba Justin melepaskan ciumannya. “Feb, aku ingin mencium tetekmu, bolehkan..” Tanpa berkata sedikit pun aku membuka kancing kemejaku dan membuka kaitan BH yang kupakai. Terlihat dua gundukan yang sedang mekar -mekarnya dan aku membiarkannya terpandang sangat luas di depan mata Justin. Dan kulihat Justin begitu memperhatikan bentuk bulatan yang ada di depan matanya. Memang susuku belum begitu tumbuh secara keseluruhan, tapi aku sudah tidak sabar lagi untuk dicium oleh seorang lelaki.
“Feb, apa ini baru pertama kali ada yang memegang yang menciumi tetekmu,” bisik Justin.
“Iya, Tin, baru kamu yang pertama kali, aku memberikan ke orang yang benar -benar aku inginkan,” balasku manja.
Tak lama kemudian, Justin dengan lembutnya menciumi susuku dan memainkan lidahnya di seputar puting susuku yang sedang keras. Aduh enak sekali rasanya. Inilah waktu yang tunggutunggu sejak lama. Nafsuku langsung naik pada saat itu.
“Jangan berhenti Tin, teruskan ya… aku enak sekali..” Dan tanganku pun dibimbing Justin untuk membuka reitsleting celananya. Dan aku membukanya. Kemudian Justin mengajak pindah tempat duduk dan kami pun pindah di tempat duduk belakang. Sepertinya di belakang kami bisa dengan leluasa saling berpelukan. Baju kemejaku sudah dilepas oleh Justin dan yang tertinggal hanya BH yang masih menggantung di lenganku.
Resleting celana Justin sudah terbuka dan tiba-tiba Justin menurunkan celananya dan terlihat jelas ada tonjolan di dalam celana dalam Justin. Dan Justin menurunkan celana dalamnya. Terlihat jelas sekali penis Justin yang besar dan berwarna kecoklatan. Ditariknya tanganku untuk memegang penisnya. Dan aku tidak melepaskan kesempatan tersebut. Justin masih terus menjilati susuku dan sekali-kali Justin menggigit puting susuku.
“Tin, teruskan ya… jilat aja Tin, sesukamu..” desahku tak karuan.
Sementara aku masih terus memegang penis Justin. Dan sepertinya Justin makin bernafsu dengan permainan seksnya. Akhirnya Justin sudah tidak tahan lagi.
“Feb, kamu isap punyaku ya… mau nggak?”
“Isap bagaimana..”
“Tolong keluarin punyaku di mulutmu.”
Sebenarnya aku masih bingung, tapi karena penasaran apa yang dimaui Justin, maka aku menurut saja apa permintaannya. Dan Justin merubah posisi duduknya, Justin menurunkan kepalaku hingga aku berhadapan langsung dengan kontol Justin.
“Tin, besar sekali punyamu.”
“Langsung aja Feb, aku sudah tidak tahan..”
Aku langsung mengulum pelan-pelan kontol Justin.
Inilah pertama kali aku melihat, memegang dan mengisap dalam satu waktu. Aku menjilati dan kadang kutarik dalam mulutku kontol Justin. Sekali-kali kujilati dengan lidahku. Dan sekali-kali juga kujilati dan kuisap buah kontol Justin. Aku memang menikmati yang namanya penis. Mulai dari atas turun ke bawah. Dan kuulangi lagi seperti itu. Dan kepala penis kontol Justin aku jilatin terus. Ah… benar-benar nikmat.
Sekitar lima menit aku menikmati permainan punya Justin, tiba-tiba, Justin menahan kepalaku dan menyuruhku mengisap lebih kuat. “Terus Feb, jangan berhenti, terus isap yang kuat, aku sudah tidak tahan lagi..” Dan tidak lama setelah itu, Justin mengerang keenakan dan tanpa sadar, keluar cairan berwarna putih dari penis Justin.
Apakah ini yang namanya sperma, pikirku. Dalam keadaan masih keluar, aku tidak bisa melepaskan penis Justin dari mulutku, aku terus mengisap dan menyedot sperma yang keluar dari penis Justin. Ah… rasa dan aromanya membuatku ingin terus menikmati yang namanya sperma. Aku pun tidak bisa melepaskan kepalaku karena ditahan oleh Justin.
Aku terus melanjutkan isapanku dan aku hanya bisa melebarkan mulutmu dan sebagian cairan yang keluar tertelan di mulutku. Dan Justin kelihatan sudah enak sekali dan melepaskan tangannya dari kepalaku.
“Feb, aku sudah keluar, banyak ya..”
“Banyak sekali Tin, aku tidak sanggup untuk menelan semuanya, karena aku belum biasa.”
“Tidak apa-apa Feb..”
Kemudian Justin mengambil cairan yang terbuang di sekitar penisnya dan menaruh ke susuku. Aku pun memperhatikan kelakuan Justin. Dan Justin mengelus-elus susuku. Akhirnya jam sudah tepat jam 11 malam. Dan aku diantar oleh Justin tepat jam 11 lewat 35 menit. Karena besoknya kami berjanji akan ketemu lagi. Malamnya entah mengapa aku sangat sulit sekali tidur. Karena pengalamanku yang pertama membuatku penasaran, entah apa yang akan kulakukan lagi bersama Justin esoknya.Dan, malam itu aku masih teringat akan penis Justin yang besar dan aroma sperma serta ingin rasanya aku menelan sekali lagi. Ingin cepat-cepat kuulangi lagi peristiwa malam itu.
Besoknya dengan alasan ada pertemuan panitia perpisahan, aku akhirnya bisa keluar rumah.Akhirnya sesuai jam yang sudah ditentukan, Justin menjemputku dan Justin membawaku ke suatu tempat yang masih teramat asing buatku.
“Tempat apa ini Tin,” tanyaku.
“Feb, ini tempat kencan, daripada kita kencan di mobil lebih bagus kita ke sini aja, dan lebih
aman dan tentunya lebih leluasa. Kamu mau.”
“Entahlah Tin, aku masih takut tempat seperti ini.”
“Kamu jangan takut, kita tidak keluar dari mobil. Kita langsung menuju kamar yang kita pesan.”
Dan sampai di garasi mobil, kami keluar, dan di garasi itu hanya ada satu pintu. Sepertinya pintu itu menuju ke kamar. Benar dugaanku. Pintu itu menuju ke kamar yang sudah dingin dan nyaman sekali, tidak seperti yang kubayangkan. Terlihat ada kulkas kecil, kamar mandi dengan shower, dan TV 21, dan tempat tidur untuk kapasitas dua orang.
“Feby, kita santai di sini aja ya… mungkin sampai sore atau kita pulang setelah magrib nanti, kamu mau..” pinta Justin.
“Aku setuju saja Tin, terserah kamu.”
Setelah makan siang, kami ngobrol-ngobrol dan Justin membaringkan badanku di tempat tidur. “Feb, kamu mau kan melakukannya sekali lagi untukku.” Aku setuju. Sebenarnya inilah yang membuatku berpikir malamnya apa yang akan kami lakukan berikutnya. Justin berdiri di depanku, dan melepaskan kancing kemejanya satu persatu, dan membuka celana panjang yang dipakainya.
Terlihat sekali lagi dan sekarang lebih jelas lagi kontol Justin daripada malam kemarin. Ternyata kontol Justin lebih besar dari yang kubayangkan. Dan, dalam sekejap Justin sudah terlihat bugil di depanku. Justin memelukku erat-erat dan membangunkanku dari tempat tidur. Sambil mencium bibirku, Justin menarik ke atas baju kaos ketat yang kupakai.
Dan memelukku sambil melepaskan ikatan BH yang kupakai. Pelan-pelan tangan Justin mengelus susuku yang sudah keras. Lama -kelamaan tangan Justin sudah mencapai reitstleting celanaku dan membuka celanaku. Dan menurunkan celana dalamku. Aku masih posisi berdiri, dan Justin jongkok tepat di depan memeku. Justin memandangku dari arah bawah. Sambil tangannya memeluk pahaku.
“Feb, bodi kamu bagus sekali.”
Justin sekali lagi memperhatikan bulu-bulu yang tidak terlalu lebat dan menciumi aroma memeku.
“Feb, seandainya hari ini perawanmu hilang, kamu bagaimana.”
“Terserah kamu Tin, aku tidak peduli tentang perawanku, aku ingin menikmati hari ini, denganmu berdua, dan aku kepengen sekali melakukannya denganmu..”
Akhirnya aku pasrah apa yang dilakukan oleh Justin. Kemudian Justin meniduriku yang sudah tidak memakai apa-apa lagi. Kami sudah sama-sama bugil. Dan tidak ada batasan lagi antara kami. Justin bebas menciumiku dan aku juga bebas menciumi Justin. Kami melakukannya sama-sama dengan nafsu kami yang sangat besar. Baru pertama kali ini aku melakukannya seperti hubungan suami istri.
Justin menciumi seluruh tubuhku mulai dari atas turun ke bawah. Begitu bibir Justin sampai di memeku yang sudah sangat basah, terasa olehku Justin membuka lebar memeku dengan jari-jarinya. Ah… nikmat sekali. Seandainya aku tahu senikmat ini, ingin kulakukan dari dulu. Ternyata Justin sudah menjilati klitorisku yang panjang dan lebar.
Dengan permainan lidahnya di memeku dan tangan Justin sambil meremas susuku dan memainkan putingku, aku rasanya sudah sangat enak sekali. Sepertinya tidak kusia-siakan kenikmatan ini tiap detik. Justin sekali-kali memasukan jarinya ke memeku dan memasukkan lidahnya ke memeku.
Akhirnya dengan nafsu yang sudah tidak bisa kutahan lagi, kukatakan pada Justin. “Tin, masukkan punyamu ke punyaku ya… masukannya pelan -pelan,” pintaku. Justin lalu bangkit dari arah bawah. Dan menciumi bibirku. “Feb, kamu sudah siap aku masukkan, apa kamu tidak menyesal nantinya.” “Tidak Tin, aku tidak menyesal. Aku sudah siap melakukannya.”Lalu Justin melebarkan kakiku dan terlihat jelas sekali punya Justin yang sangat besar sudah siap-siap untuk masuk ke punyaku.
memeku sudah basah sekali. Dan kubimbing penis Justin agar tepat masuk di lubang memeku. Pertama-tama memang agak sakit, tapi punyaku sepertinya sudah tidak terasa lagi akan sakit yang ada, lebih banyak nikmatnya yang kurasakan. Dengan dorongan pelan dan pelan sekali, akhirnya punya Justin berhasil masuk ke dalam lorong kenikmatanku.
“Oh… enak sekali,” jeritku.
Terasa seluruh lorong dan dinding memeku penuh dengan penis besar kontol Justin. Dengan sekali tekan dan dorongan yang sangat keras dari penis Justin, membuat hari itu aku sudah tidak perawan lagi. Justin membisikkan sesuatu di telingaku, “Feb, kamu sudah tidak perawan lagi.”
“Ngga apa-apa Tin, jangan dilepas dulu ya…”
“Terus Tin, goyang lebih kencang, aku enak sekali..” Dengan posisi aku di bawah, Justin di atas, kami melakukannya lama sekali. Justin terus menciumi susuku yang sudah keras, penis Justin masih terbenam di memeku. Akhirnya puncak kenikmatanku yang pertama keluar juga.
“Justin sepertinya aku sudah tidak tahan lagi… aku mau keluar.”
“Keluarin terus Feb, aku tidak akan melepaskan punyaku.”
“Tin, aku tidak tahan lagi… a..ahh… aaahh.. aku keluar Tin, aku keluar.. keluar Tin..enaak sekali, jangan berhenti, teruskan… aaaa… aaaa..” Pada saat orgasme yang pertama, Justin langsung menciumi bibirku. Oh… benar -benar luar biasa sekali enaknya. |rayuanjanda.com
Akhirnya aku menikmati kehangatan punya Justin dan aku masih memeluk badan Justin. Walaupun udara di kamar itu sangat dingin, tapi hawa yang kami keluarkan mengalahkan udara dingin.
“Feb, aku masih mau lagi, tidak akan kulepaskan… sekarang aku mau posisi enam sembilan. Kamu isap punyaku dan aku isap punyamu.”
Kemudian kami berubah posisi ke enam sembilan. Justin bisa sangat jelas mengisap punyaku. Dan kelihatan kliotorisku yang sangat besar dan panjang.
“Feb punyamu lebar sekali.”
“Isap terus Tin, aku ingin mengeluarkan sekali lagi dan berkali-kali.”
Aku terus mengisap punya Justin sementara Justin terus menjilati memeku dan kami melakukannyasangat lama sekali. Penis Justin yang sudah sangat keras sekali membuatku bernafsu untuk melawannya. Dan permainan mulut Justin di memeku juga membuatku benar-benar terangsang dan sepertinya saat-saat seperti ini tidak ingin kuakhiri.
“Tin… aku mau keluar lagi… aku tidak tahan lagi honey…”
“Tahan sebentar Feb, aku juga mau keluar..”
Tiba-tiba Justin langsung merubah posisi. Aku di bawah dan dia di atas. Dengan cepat Justin melebarkan kakiku, dan oh.. ternyata Justin ingin memasukkan penisnya ke memeku. Dan sekali lagi Justin memasukkan penisnya ke memeku. Walaupun masih agak sulit, tapi akhirnya lorong kenikmatanku dapat dimasuki oleh penis Justin yang besar.
“Dorong yang keras Tin, lebih keras lagi,” desahku. Justin menggoyangan badannya lebih cepat lagi.
“Iya Tin, seperti itu… terus… aaa..aaa… enak sekali, aku mau melakukannya terusmenerus denganmu..”
“Feb, aku sudah tidak tahan lagi… aku mau keluar…”
“Aku juga Tin, sedikit lagi, kita keluar sama -sama ya… aaa..”
“Feb… aku keluar..”
“Aku juga Tin… aaa… aa… terasa Tin, terasa sekali hangat spermamu..”
“Aduh, Feb… goyang terus Feb, punyaku lagi keluar…”
“Aduh Tin… enak sekali…”
Bibirku langsung menciumi bibir Justin yang lagi dipuncak kenikmatan. Tak lama kemudian kami sama-sama terdiam dan masih dalam kehangatan pelukan. Akhirnya kami mencapai kenikmatan yang luar biasa. Dan sama-sama mengalami kenikmatan yang tidak bisa diukur.
“Feb… spermaku sekarang ada di dalam punyamu.”
“Ia Tin…”
Tidak lama kemudian, Justin membersihkan cairan spermanya di memeku.
“Feb, kalo kamu hamil, aku mau bertanggungjawab.”
“Iya Tin..” jawabku singkat.
Akhirnya kami mandi sama-sama. Di kamar mandi kami melakukannya sekali lagi, dan aku mengalami kenikmatan sampai dua kali. Sekali keluar pada saat Justin menjilati memeku dan sekali lagi pada saat Justin memasukkan penisnya ke memeku. Justin pun mengalami hal yang sama.
Sorenya kami melakukannya sekali lagi. Kali melakukannya berulang kali. Dan istirahat kami hanya sebentar, tidak sampai satu jam kami sudah melakukannya lagi. Benar-benar luar biasa. Aku pun tidak tahu kenapa nafsuku begitu bergelora dan tidak mau berhenti. Kalau dihitunghitung dalam melakukan hubungan badan, aku sudah keluar 8 kali orgasme. Dan kalau hanya sekedar diisap oleh Justin hanya 3 kali. Jadi sudah 11 kali aku keluar. Sementara Justin sudah 7 kali.
Malamnya tepat jam 8.30 kami keluar dari penginapan. Padahal jika dipikir-pikir, hanya dalam waktu dua hari saja aku sudah melepaskan keperawananku ke seseorang. Dan sampai sekarang hubunganku dengan Justin bukan sifatnya pacaran, tapi hanya bersifat untuk memuaskan nafsu saja. Dan, baru kali ini aku bisa merasakan tidur yang sangat pulas sesampainya di rumah. Besoknya aku harus sekolah seperti biasa dan tentunya dengan perasaan senang dan ingin melakukannya berkali-kali. Seperti biasa setiap tanggal 20, aku datang bulan. Dan kemarin (tanggal 20 Februari 2001) ini aku masih dapat. Aku langsung menelepon Justin sepulang dari sekolah.
“Tin, aku dapat lagi, dan aku tidak hamil.”
“Iya Feb… syukurlah…”
“Tin, aku ingin melakukannya sekali lagi, kamu mau Tin..”
Dan, ternyata kami bisa melakukannya di mana saja. Kadang aku mengisap penis Justin sambil Justin menyetir mobil yang lagi di jalan tol. Dan setelah cairan sperma Justin keluar yang tentunya semua kutelan, karena sudah biasa, setelah itu tangan Justin memainkan memeku.
Kadang juga sebelum pulang aku tidak lagi mencium bibir Justin, tapi aku mengisap kontol Justin sebelum turun dari mobil, hanya sekitar 2 menit, Justin sudah keluar. Dan aku masuk rumah masih ada sisa-sisa aroma sperma di mulutku.
Di tiap pertemuan kami berdua selalu saling mengeluarkan. Jika kami ingin melakukan hubungan badan, biasanya kami menyewa penginapan dari siang sampai sore dan hanya dilakukan tiap hari sabtu karena pada saat itu sepulang sekolah Justin langsung mengajakku ke penginapan.