Cerita Dewasa Bericnta Dengan Model
Cerita Sex Pengalaman Ku Memperkosa Leona Model Iklan Kenalin, namaku Joko. Nama kerenku Dodo, tetapi sebab gigiku yang tonggos mirip pelawak tahun 2000- an, teman- temanku meningkatkan nama Boneng dibelakangnya, jadilah namaku Dodo Boneng. Dikala ini usiaku telah 33 tahun, serta bekerja selaku bouncer di sebuahNight Club populer di Jakarta. Tau kan maksudnya bouncer? Ya, penjaga keamanan alias tukang jam. Modalku sesungguhnya cuma tubuh gede seperti gorila, dan… muka serem kayak… hmmm… gorila pula( tetapi gorila tonggos). Sebenernya saya tidak memiliki kemampuan apa- apa, baik bela diri, ataupun bela- bela yang lain.
Cuman umumnya dengan satu kerlingan gorila ku, para pemabuk yang berbuat onar langsung bagi. Saya ingin menggambarkan pengalamanku belum lama berselang. Pengalaman yang menurutku sih lumayan unik pula. Selaku tukang jam di suatu Night Club gaul, pekerjaanku senantiasa dikelilingi cewek- cewek menawan, yah PSK kelas besar, waitress, para penari sensual, maupun para wisatawan** Sinonim**
wisatawan
hadirin
tamu———-** Original**pengunjung wanita yang rata- rata anak gaul alias anak clubbers, apalagi dari golongan selebritis juga terdapat. Nah, salah satu seleb kita yang jadi langganan Night Club tempatku bekerja merupakan Leona Alexandra Arimbi Kairupan. Bisa jadi namanya gak begitu sering di dengar yah?
Yah kalo gak salah gitu deh. Oh doski pula kerap bintangin sinetron serta main film, tetapi yang gak begitu hits gitu. Ohh yang sangat mantap, ia jadi cover majalah Playboy! Trus banyak foto- fotonya yang buat deg- deg crott deh. Emang sih dari gosip yang saya dengar, ni wanita lumayan“ bandel” pula, tidak hanya seseorang clubbers sejati, dia kerap kembali mabuk, serta hmm, kerap berbuat gak senonoh ama pacarnya di wc Night Club, luas parkir, mobil, apalagi di balik gerobak nasi gorengnya sang Jamal( kata ia sih, tetapi ia mah tidak hanya tukang Nasgor, pula nyambi jadi tukang bo’ ong), tetapi seluruh itu hanya gosip yang gak tentu kebenaranya. Lagipula walaupun iya pula gak apa- apa saya tidak hirau, soalnya saya bener- bener suka banget ama nih wanita. Buat sedangkan, saya lumayan puas dengan melihatnya dari jauh- dekat, serta abis itu umumnya diiringi dengan hand job sendiri di kamar mandi. Tetapi lama kelamaan( hingga tangan ku jadi alus banget seperti model serta wangi sabun permanen sebab mayoritas coli) saya tidak tahan lagi. Akupun memutuskan buat menempuh seluruh metode biar dapat menikmati badan lembut Leona chayank. Jadi… begini ceritanya.
Termotivasi dari sebagian cerita di web KBB( cerita Beauty& Beast) favoritku, metode terbaik memperkosa artis merupakan dengan memerasnya lewat potret- potret ataupun video seronok, pokoknya yang dapat buat orang- orang berjenggot kebakaran jenggot, serta yang gak berjengot? Yah kebakaran isi celananya. Jadi diam- diam saya memasang kamera mini yang saya pinjam dari temanku Budi Han, masih inget kan juru foto yang dipenjara cuman gara- gara ngerekam plester( tetapi plesternya nempel di toketnya Rachel Maryam), nah sang Budi ini orangnya. Dengan bekal yang kudapat dari hobiku mengotak atik mobil tamiya, akupun memasang kamera mini itu di wc Night Club tempatku bekerja, serta membiarkannya semalaman.
Malam itu Leona semacam biasa tiba ke Night Clubku, tetapi kali ini saya membiarkannya saja, pasti saja sembari berdoa mudah- mudahan Leona berbuat yang nggak- nggak di toliet. Pendek kata, malam juga berubah pagi, serta jam kerjaku usai. Saya lekas berangkat ke wc perempuan serta mempreteli kamera tersembunyi itu. Sesampainya di rumah, saya lekas mentransfer video image dari kamera itu ke pc berprosesor AMD Moron 1650 milikku. Dan… hore! Terdapat rekaman waktu Leona lagi berkemih, trus yang hebohnya… terdapat pula rekaman waktu ia cipokan trus fingering ama pacarnya di wc. Akupun tertawa terbahak- bahak,“ Hua- ha- ha- ha dengan ini kau tentu hendak jadi milikku Ha haha!” teriakku, hingga tiba- tiba…
“ He tonggosss! Berisik banget sih lu! Ingin gue kikir tuh gigi ampe abis!” istriku membentakku dari dalam kamar.
“ Ehmm iya Mona sayang, maafin abang say” kataku.
“ Sayang, sayang, mendingan luh mencuci tuh pakain kotor, trus masak masakan yang lezat! Gue ingin makan!” teriak istriku lagi.
“ Iya sayang” kataku lagi.
Hmm, sori, bukannya saya khawatir ama istriku, cuman aja… ehmm, dia… anu… buat saya ngeri… hiiiii.
2 malam setelah itu saya memandang Leona lagi, ia baru saja turun dari mobilnya serta hendak mengarah pintu masuk Night Club. Saya yang waktu itu kebetulan lagi berjaga di pintu masuk langsung memakai peluang ini, saya bergegas menghampirinya.
“ Maaf non Joan, jika boleh aku ingin bicara sebentar” kataku sopan.
Dia memandangku sejenak, dengan tatapan curiga.
“ Kalian satpam disini kan? Siapa, hmm Boneng yah?! Ingin apa Neng” katanya setelah itu.
Rasa yakin diriku yang berkobar- kobar sedikit padam, tidak hanya sebab dia nyatanya tidak khawatir dengan tampang gorilaku, pula sebab dia baru saja memanggilku“ neng”, emangnya saya wanita ABG?!
“ Ehmm ini, aku memegang rahasia non Joan, serta kalo non pengen aku tutup mulut…” kataku terencana menyudahi ditengah jalur, buat menaikkan ketegangan.
“ Rahasia apaan iktikad lu?!” nada kekhawatiran nampak jelas dari suaranya.
Dengan senyum kemenangan, saya mengulurkan amplop berisi potret- potret snapshot video yang kurekam waktu itu. Terdapat gambar Leona yang lagi berkemih serta memperlihatkan celana dalam serta sedikit isinya, kemudian terdapat pula gambar dia lagi berciuman dengan pacarnya, serta tangan pacarnya lagi menyelusup kebalik rok yang dikenakan Leona.
Leona sejenak melihat- lihat isi potret- potret tersebut. Dia membolak- balik nya dengan tampang geram. Hua ha ha, ini ia saatnya! Teriakku dalam hati, saya yakin diri kalau dengan potret- potret ini, Leona tentu hendak jatuh dalam pelukkanku…
“ Segini doang?…”
Hmmpp, persoalan itu langsung menghapus senyum kemenangan diwajahku.
“ Apa non?” kataku kebimbangan.
“ Ini yang lu iktikad rahasia gue?” katanya santai.
“ Ehhh.. iya…” kataku gagap.
“ Ya elah, kirain apaan?! Kalo segini doang sih belum apa- apa, masih banyak potret- potret gue yang lebih parah lagi. Kalo lu ingin ntar gue kirimin ke rumah lu” katanya sembari mendorongkan amplop berisi potret- potret itu kedadaku, kemudian berjalan melewatiku mengarah pintu Night club.
Saya bengong, rahangku jatuh sehingga mulutku terbuka, sedangkan amplop itu jatuh ke dekat kakiku.
Bukan respon semacam ini yang saya harapkan.
Huaaaa nyatanya wajib ubah rencana nih!
Saya sesungguhnya tidak mau mengenakan metode ini, tetapi metode ini kayaknya yang sangat jitu serta terkenal( bagi KBB sih), ialah penculikan serta perkosaan dengan ancaman kekerasan. Jadi sebagian malam setelah itu saya mempersiapkan suatu kupluk yang menutupi nyaris segala wajah, kecuali kedua mata serta mulutku. Saya pula coba mencari pisau lipat buat mengecam Leona, tetapi sebab tidak terdapat, saya kesimpulannya meminjam pisau pramuka kepunyaan anakku. Pagi itu( jam 1 dini hari), saya mengintai kala Leona yang separuh mabuk baru saja keluar dari Night Club serta berjalan mengarah mobilnya yang terparkir di lapangan parkir. Saya memandang ke sekitar, hening sekali, peluang yang amat bagus. Saya juga mengenakan kupluk yang kubawa serta bergegas mendatangi Leona yang lagi membuka pintu mobilnya. Tetapi dia bisa jadi mendengar langkah kakiku yang sedikit terburu- buru, sehingga belum pernah saya meraihnya, dia telah membalikkan tubuh menghadapku. Sekejap dia nampak kaget serta ketakutan melihatku, jadi akupun menghasilkan pisau pramuka anakku, serta menghasilkan ancaman yang telah kulatih didepan kaca seharian ini.
“ Jangan bergerak, jangan teriak! Kalo nona bagi, aku gak hendak sakitin nona” kataku diseram- seramkan.
Leona nampak membungkuk semacam hendak masuk kedalam mobil, akupun bergegas menghampirinya saat sebelum dia pernah kabur, tetapi Leona kembali turun dari mobil, serta tanggannya menggenggam sebatang kunci Inggris yang panjang serta besar. Langkahku juga terhenti.
Entah kenapa ekpresi wajah Leona membuatku ngeri. Warnanya saya melupakan aspek pengaruh alkohol dalam kalkulasiku, Leona warnanya hendak melawan! Saya langsung membalikkan tubuh serta berupaya kabur, saya lari sekuat tenaga, tetapi Leona warnanya mengejarku.
“ Heh bangsat ingin kemana lu!” teriakknya.
Saya menoleh serta melihatnya masih mengejarku sembari mengacungkan kunci inggris ditangannya. Sialan kenceng pula larinya. Saya juga kembali memandang kedepan serta berlari sekuat bisa jadi. Sayangnya dikala itu saya tidak memandang gimana Leona melemparkan kunci Inggris itu sekuat tenaga kearah kepalaku. Saya memanglah tidak melihatnya, tetapi saya merasakannya. Bleettaakk! Kunci inggris itu mendarat pas di bagian balik kepalaku. Pandanganku langsung nanar, diiringi bintang- bintang kecil yang menari- nari. Lariku terhenti serta saat ini cuma dapat jalur sempoyongan seperti orang mabok. Pandanganku langsung hitam serta saya pingsan dengan berhasil. Tetapi, lho kok! Saya serasa memandang Rhoma Irama, lengkap dengan selendang serta gitarnya, dengan asik menyanyi lagu Judi.
“ kenapa seluruh yang asyik- asyik, itu diharamkan
Kenapa seluruh yang enak- enak, itu yang dilarang”
Waduh kepalaku rasanya seperti baru keinjek gajah. Minum bodrex sekarung bisa jadi baru dapat ngobatin nih sakit. Saya membuka mataku serta memandang kesekeliling. Saya warnanya masih terbaring di jalanan di dekat Night Club. Kupluk masih melekat di kepala, kayaknya identitasku masih belum terungkap. Saya bangkit duduk serta mengusap- usap bagian balik kepalaku, terdapat tonjolan segede telor angsa disitu, hasil
“ ciuman” kunci inggris sialan! Saya bangkit dengan sedikit sempoyongan, kulihat matahari telah mulai terbit tanda- tanda pagi menjelang.
Ahh sialan! Bakal kena semprot bini nih!
Sebagian malam setelah itu Leona kembali ke Night Club. Dia tiba sendiri sedangkan sahabatnya sudah menunggunya di salah satu meja. Leona nampak berikan isyarat pada waitress yang melalui, ciri dia hendak memesan minuman. Saya lekas mendatangi Tini sang waitress yang baru saja mengantarkan pesanan Leona pada bartender.
“ Tin, itu non Joan mesen apa barusan?” kataku keras- keras berupaya menanggulangi bisingnya musik yang terus berdentum.
“ Long Island Iced Tea. Napa emang?” Tanyanya balik.
Web Bandar Ceme Online Terpercaya Peluang! Pikirku. Saya memanglah telah menggambarkan nyaris seluruh trik ku, tetapi terdapat satu yang belum. Saya buru- buru mengeluakan satu bungkusan dari saku celanaku; Obat Tidur Cap Kuda Kelenger, yang dapat buat semaput gajah sekalipun. Begitu sang bartender meletakkan pesanan Leona diatas meja bar, saya lekas menyambar gelas itu saat sebelum Tini. Saya cepat- cepat menuangkan obat tidur itu kedalamnya serta mengaduknya biar larut. Sebab tidak percaya dosisnya, saya memasukkan seperempat bungkus saja, Leona kan bukan gajah.
“ Eh apaan tuh Bon? Lu jangan macem- macem yah!” hardik Tini kala memandang perbuatanku.
“ Udah lu tenang aja. Ini cuman obat biasa kok, buat sakit panu. Non Joan katanya lagi panuan tuh” kataku asal.
Tini masih menatapku curiga.
“ Apaan sih ngeliatin gue seperti gitu?! Udah situ kasih nih pesenan. Udah nunggu tuh orangnya!” kataku dengan nada mengecam.
“ Oke, tetapi awas lu yah, kalo terdapat apa- apa, nama gue jangan dibawa- bawa” kata Tini sembari beranjak membawakan pesanan Leona.
Saya langsung mengawasi kearah meja Leona, memandang gimana Dia meminum Long Island Iced Tea yang sudah kucampuri obat itu. 30 menit selanjutnya semacam tidak terdapat pengaruh, dia masih tertawa- tawa serta bercanda dengan sahabatnya. Apa bisa jadi dosis obatnya kurang? Pikirku dalam hati. Tetapi seketika senyumnya lenyap, matanya separuh terpejam serta dia memijat pelipisnya. Dia nampak menggeleng- gelengkan kepalanya, serta kesimpulannya Leona bangkit dari duduknya serta berjalan mengarah wc. Jalannya nampak sempoyongan semacam orang mabok. Saya langsung berjalan serta menunggu didepan pintu wc, menunggu dia keluar. Tidak lama setelah itu Leona juga keluar serta nyatanya masih pusing berat. Saya lekas berdiri menghadangnya.
“ Mengapa non?” kataku pura- pura lugu.
“ Tau nih, kok kepala gue pusing banget, trus ngantuk ini. Tolong panggilin taksi dong, gue kayaknya gak kokoh nyetir nih” katanya sembari terus menggosok- gosok pelipisnya.
Saya terus berdiri disitu.
“ Lho kok malah diem. Sana…” Leona tidak pernah menuntaskan kalimatnya. Dia langsung jatuh tersungkur, serta langsung kusambar badannya saat sebelum terbanting ke lantai.
Sebagian kali mengguncang badannya, buat mengetes sepanjang mana obat tidur itu mempengaruhinya. Sehabis percaya, saya kemudian mengangkut badan mungil itu serta membopongnya keluar melalui pintu balik, terus sampai hingga ke jalur. Sebagian pegawai pernah menanyakan apa yang terjalin, jadi kujawab aja kalo non Leona pingsan sebab mayoritas minum, serta ingin saya anterin pake taksi. Di luar, saya menyetop taksi yang melalui serta menyuruhnya berangkat ke penginapan XY. Pengelola penginapan kelas kambing itu merupakan temanku, dia tidak hendak banyak tanya kepadaku, sebab memanglah mayoritas pelanggannya merupakan orang- orang yang tidak suka orang yang banyak tanya serta banyak omong. Seluruhnya berjalan atas asas“ saya ketahui kalian ketahui, telah jangan bilang siapa- siapa” Pendek kata saya hingga di penginapan yang kutuju serta langsung mengarah meja resepsionis.
“ Pen, gue perlu kamar” kataku pada Pendi sang penjaga penginapan yang lagi asik menyaksikan siaran bola di lobby.
Dia melirik kearahku, kemudian kearah Leona yang masih terletak di boponganku. Dengan lagak tidak acuh dia mencapai kunci dari rak kunci serta menyerahkannya kepadaku.
Akupun mengambil kunci itu dari tangannya serta berjalan mencari no kamar yang tertera di gantungan kuncinya.
Hingga di dalam kamar saya meletakkan badan Leona keatas tempat tidur, jantungku berdetak keras, saking kencangnya hingga terasa semacam bedug. Lama- lama saya duduk dipinggir tempat tidur serta membelai wajah menawan Leona yang lagi terlelap, kalo lagi semacam ini dia nampak amat menawan serta innocent, lenyap telah image anak gaul serta dugem yang sepanjang ini menempel padanya. Tanpa sadar saya terus menerus membelai pipi halus itu. Saya kemudian membuka kaus hijaunya dengan sedikit sulit payah, sampai kesimpulannya saya sukses menariknya lepas, kaus itu langsung saya lemparkan kesudut ruangan. Nyatanya Leona tidak mengenakan apa- apa lagi dibalik kausnya, sampai terpampanglah 2 gundukan bukit buah dada yang putih lembut serta amat indah ditatap. Saya tanpa sadar menahan napas memandang keelokan itu, ughhh sangat cocok dengan yang saya bayangkan sepanjang ini. Dengan tangan sedikit gemetaran, saya mengulurkan tanganku. Satu jariku memegang puting payudaranya yang bercorak coklat kemerahan, saya memutar- mutarkan jariku sebentar, kemudian telapak tanganku langsung mencapai bukit payudaranya, saya mengusapkan telapak tanganku serta menikmati lembut serta kenyalnya buah dada Leona. Kesimpulannya saya memakai kedua tanganku, serta lama- lama memijati kedua bukit buah dada Leona, Kenyal, lembut, halus, putih. Tanganku gemetaran, rasanya saya dapat merasakan detak jantung Leona. Saya juga dengan lama- lama meremas bukit kenyal itu, sedangkan jempol tanganku menekan serta memutar puting payudaranya.
Tanganku saat ini mencapai pinggang Leona serta menarik rok mini jeans yang dia kenakan, dengan sedikit mengangkut pantatnya, dengan gampang celana pendek itu meluncur lembut melewati kedua kaki Leona. Saya melemparkan celana itu begitu saja. Saat ini Leona tiduran pasrah didepanku, dengan cuma menggunakan celana dalam mini berenda bercorak gelap saja. Ouuuhh so sexy. Saya mendekatkan mulutku sampai hinggap di paha Leona yang putih lembut, wangi semerbak saat ini menusuk hidung, saya menciumi serta menjilati paha lembut itu, sampai kesimpulannya mulutku hinggap di pangkal paha Leona, mulutku saat ini menciumi selangkangan yang masih tertutup celana dalam itu, saya menjilati belahannya dari balik celana dalam sampai sedikit basah.
Kedua tanganku saat ini mencapai celana dalam itu serta menariknya menyusuri kaki indah Joan, betis, melalui pergelangan, serta terlepas, kulepaskan begitu saja sampai terjatuh diatas ranjang. saya kemudian mencapai kedua lutut Leona, kemudian mementangkannya lebar- lebar. Hmmppp, saya tercekat, mataku melotot seolah hendak meloncat keluar dari tempatnya, mulutku ternganga. Belum sempat saya memandang panorama alam seindah ini lebih dahulu. Miss V Leona sedikit gendut serta kemerahan, belahannya masih rapat serta amat tipis, rambut- rambut halus yang lumayan rimbun menghiasi bagian atas vaginanya, sedangkan belahannya sendiri bersih apik.
Seketika Leona mengerang pelan, tetapi lumayan buat menghentikan detak jantungku sesaat. Dampak obatnya tentu telah menipis. Dengan sedikit panik saya berlarian sekitar ruangan, berupaya mencari suatu yang dapat saya gunakan selaku tali pengikat. Tetapi sebab tidak terdapat tali, saya kemudian merobek- robek salah satu sarung bantal diatas tempat tidur itu. Saya membaginya jadi 3 serta sedikit memilinnya. Dengan terburu- buru saya mengikat kedua tangan jadi satu serta kaki Leona ke ke 2 ujung ranjang besi tersebut, sehingga kedua tangan serta kakinya terpentang lebar membentuk huruf Y terbalik. Untung dahulu saya sempat jadi pembimbing pramuka, jadi soal ikat mengikat saya cukup pakar. Tidak kurang ingat saya mengenakan kupluk yang telah kusiapkan. Kupluk itu menutupi nyaris segala wajahku, kecuali kedua mata serta mulutku Pas kala saya berakhir mengikat kedua tangan serta kakinya, Leona membuka matanya.
” Udah bangun non?” kataku
Dia memandang sekitar ruangan, nyatanya masih pening akibat dampak obat yang kuberikan.
“ Dimana nih? Lu siapa? Ehhh! Apaan nih, mengapa pake ngiket- ngiket seluruh?!” Dia langsung panik serta meronta- ronta kala dia menyadari kalau dirinya terikat erat.
“ He he he, tenang aja non, asal non tenang serta bagi. Non tidak hendak aku apa- apakan, malahan ingin dikasih lezat nih non” kataku dengan suara diseram- seramkan.
Serta sukses, dia nampak ketakutan sekali melihatku. Dia juga kayaknya langsung menyadari apa yang hendak kulakukan.
Seketika raut ketakutan Leona menghilang, dia malah mengernyit melihatku.
“ Lah warnanya lu! Ingin lu apa sih?!” katanya separuh berteriak.
“ Eh, siapa iktikad non?” kataku kaget separuh mati.
“ Lu satpam edan itu kan? Boneng kan? Gangguin gue terus, apa sih ingin lu, uang?” katanya geram.
“ Satpam apaan? Non salah orang. Nama aku Rhomi” kataku ngawur sebab gugup.
“ Rhomi? Rhomi Irami?!, heh pake topeng sih pake, tetapi itu gigi gondrong lu masih nongol!” katanya setelah itu.
Waduh sialan! Gue kurang ingat, kupluk ini tidak dapat menutupi karakteristik khasku, ialah gigi tonggosku.
“ Bawah, gorila tonggos… awas… lu kalo ngapa- ngapain gue… gue rontokkin… gigi gondrong lu!
Lepasin gak? Kalo gak gue teriak nih.. hmmppppp.. hmm.. hmppp”
Sebab panik, saya lekas membenamkan celana dalam Leona kedalam mulutnya sendiri. Saya tidak ingin ambil efek jika terdapat yang mendengar teriakan Leona. Sebab identitasku telah ketahuan, akupun membebaskan kupluk yang kupakai. He he he, saat ini seluruh urusan telah beres, saatnya berpesta! Saya lekas membuka segala pakaianku, tercantum celana dalamku, serta saya lekas duduk didepan selangkangan Leona yang terkangkang, sedangkan yang memiliki selangkangan lagi meronta- ronta berupaya membebaskan jalinan pramuka milikku.
Saya mengulurkan tanganku lama- lama, jariku kesimpulannya memegang vaginanya dari bagian dasar, kemudian menyusuri belahannya, naik keatas lama- lama, kemudian kembali turun cuma saja kali ini jariku terbenam agak dalam. Leona menegakkan kepalanya, dia melotot memandang jariku yang menyusuri vaginanya,
Iapun alihkan pemikirannya serta melotot mengecam padaku, diiringi sedikit gumaman tidak jelas, sebab mulutnya tersumpal celana dalam miliknya sendiri. Jari tengah tangan kananku saat ini terbenam kian dalam, serta dalam, sedangkan jari- jari tangan kiriku membuka bibir Miss V Leona selebar bisa jadi, sampai kesimpulannya segala jari tengahku amblas masuk kedalam vaginanya. Leona memekik kecil, sedangkan saya mendiamkan tanganku, menikmati jepitan bilik Miss V yang berdenyut denyut itu. Lama- lama saya memaju mundurkan tanganku, kemudian sedikit demi sedikit tingkatkan kecepatanku, sampai kesimpulannya jari tengahku bergerak dengan liarnya keluar masuk Miss V Leona yang lama- kelamaan mulai basah.
Gumaman Leona saat ini kian keras, hmm dia tentu lagi memaki- maki saya, bisa jadi nyumpahin biar saya impoten ataupun mandul. Rontaan Leona pula kian keras, badannya berguncang- guncang keras, begitu pula kedua payudaya putih mulusnya, mental- mental indah sekali. Tidak tahan saya melihatnya, saya langsung menindih badannya, mulutku langsung mencaplok salah satu puncak payudaranya, rasa lembut itu saat ini penuhi mulutku, bercampur harum wangi badan yang kian memabukkan, lidahku langsung memainkan puting buah dada dalam mulutku, kupilin, kemudian kuisap, serta kugigit lama- lama buah dada itu beserta putingnya.
Sembari terus menggerakkan jariku keluar masuk liang vaginanya, saya mengulum serta meremas buah dada wanita itu lama- lama, terasa membusung lembut, putih serta kenyal. Tarian lidahku diputing susunya yang kecil kemerahan itu mulai membuat puting itu berdiri serta membeku. Erangan keras keluar dari mulutnya, pinggulnya bergoyang- goyang tidak jelas, entah berupaya membebaskan diri ataupun malah menyongsong gerakan jariku. Tetapi nyatanya dia merasakan kenikmatan yang amat sangat, karena saat ini yang keluar dari mulut Jessi bukan lagi teriakan- teriakan terpendam, namun erangan- erangan pendek yang tertahan.
“ Egh. egh.. egh. egh…” begitu seterusnya
Gerakan kami berdua kian lama kian keras serta kilat, hinggga akhirnya… saya merasakan tanganku disemprot oleh cairan hangat yang muncrat dari dalam Miss V Leona. Dia juga nampak terengah- engah, dadanya turun naik dengan kilat, sedangkan gerakan badannya terhenti.
“ He he he ngecrot yah non? Sementara itu baru jari aku lho” kataku menggodanya.
Leona masih tiduran terengah- engah, matanya nampak separuh terpejam.
Detak jantungku kembali berdegup kilat. Gundukan bukit kecil yang bersih, dengan bulu- bulu yang tidak begitu rimbun itu nampak berkilatan di depanku. Tanganku kembali memegang vaginanya, saat ini saya membuka bibir Miss V itu selebar bisa jadi, sampai kian merekah indah serta memperlihatkan isinya yang bercorak merah muda, sangat mengundang memohon ampun.
Kudekatkan kepalaku supaya pemandangannya lebih jelas. Serta memanglah indah sekali. Saya tidak dapat menahan lagi, lekas kudekatkan mulutku serta kulumat Miss V itu dengan bibir serta lidahku. Rakus sekali lidahku menjilati tiap bagian liang Miss V Leona, rasanya tidak mau saya menyia- nyiakan peluang. Serta masing- masing lidahku memencet keras ke bagian yang menonjol di pangkal liang kewanitaannya, dia mengelinjang kegelian serta dia juga sebagian kali mengejangkan kakinya. Saya tidak hirau hendak semerbak bau yang khas penuhi seputar mulutku. Malah membuat lidahku bergerak kian edan, kukeluarkan jurus- jurus andalanku,“ Jilatan Badai Berbalik” serta“ Jilatan Tanpa Bayangan”, efeknya amat dashyat, Leona saat ini telah tidak dapat memahami diri lagi, nafasnya juga telah tidak terkendali, terengah- engah serta berat. lidahku terus masuk ke dalam liang vaginanya serta menari- nari di dalamnya.
Mengait- ngait kesana- kemari, menjilat- jilat segala bilik Miss V Leona. Iapun menggelinjang- gelinjang semacam kesurupan, menggeliat kesana- kemari, tentu sebab merasakan kegelian bercampur dengan kenikmatan yang amat sangat. Dengan jariku saya membuka bibir Miss V itu, kemudian disorongkan sedikit ke atas. Saya mengincar klitorisnya, menjulurkan lidah, kemudian kujilat serta kujepit klitorisnya dengan bibirku. Badan Leona melonjak- lonjak semacam kesetrum, sebab itu memanglah bagian badan wanita yang sangat sensitif( tidak hanya hatinya pasti saja, he3x).
Saya melirik kearah wajah Leona. Wajah cantiknya saat ini sudah dihiasi cucuran keringat, sorot matanya sayu memandangku, rona pipinya memerah. Ekspresi horny telah jelas terbayang dari mukanya, nafsuku saat ini terus menjadi menggebu- gebu. Saya menegakkan tubuhku serta mengambil posisi semacam merangkak diatas badan Leona, dia tertegun dikala saya terletak di atasnya dengan penis yang tegak berdiri. Oh iya, cerita- cerita ginian kan umumnya suka dijelasin panjang pendeknya serta wujudnya“ sang otong” yah? Jadi saya gambarin aja“ sang otong” ku; Panjangnya 20 centimeter serta diameternya tebel…
Apaan?… Bo’ ong? He he he, emang iya! Oke deh jujur panjangnya 17 cm… hmmm iya deh ngaku, cuman 13 centimeter kok, tetapi diameternya emang tebel lho, trus uratnya pula gede- gede seperti bodybuilder, kalo yang ini saya gak bohong. Sembari bertumpu pada lutut serta siku, saya mencabut celana dalam yang kusumpalkan pada mulut Leona. Saya mengira dia hendak berteriak- teriak memohon tolong, ataupun paling tidak memaki- maki saya, tetapi nyatanya sunyi- sunyi aja tuh. Dia malah menatapku dengan mulut separuh terbuka seolah memohon dicium, serta emang langsung kucium. Bibirku melumat, mencium, serta kadangkala menggigit kecil bibirnya. menjelajahi segala badannya. lidah ku lekas menyusup tanpa perlawanan masuk kedalam mulut nya, lidahku kemudian memijati lidah Leona, sehingga lidah kami kemudian silih membelit.
Yeah, the permainan is on! Dia telah nefsong berong! air liur kami juga silih bercampur serta berlepotan di dekat bibir kami. Lama- lama kugesekan- gesekan ujung penisku ke bibir vaginanya kulakukan dengan hati- hati. Miss V itupun kian membasah. Kesimpulannya kudorong sedikit pantatku, serta kepala“ sang otong” juga melongok kedalam“ gua antik” itu, entah apa yang“ sang Otong” amati didalam situ, yang jelas dia amat betah didalamnya serta enggan keluar.
“ aauuhh…, Boneng…, tunggu dahulu”, pinta Leona sembari mengoyang- goyangkan pantat sebisanya.
Tetapi saya mana mendengar, secara lama- lama sesenti demi sesenti kudorongkan penisku merambah gua yang kecil tersebut, kurasakan penisku terasa hangat dikala menembus lubang vaginanya. Serta Leona juga meringis menahan laju penisku di vaginanya dan…, Bles…, goyangan terakhir lumayan kokoh serta sukses membenamkan sebagian besar penisku pada vaginanya yang nampak penuh sebab penisku terbenam didalamya.“ Bleeeess…, blesssess”,“ Akhh…, akhh”, sangat luar biasa, sangat nikmat sekali vaginanya, Saya mendiamkannya sesaat serta merasakan jepitan bilik vaginanya yang berdenyut- denyut semacam memijat penisku
BACA JUGA : Cerita Dewasa Akibat Berobat Ke Dukun
kala penisku telah masuk seluruh ke dalam vaginanya, kemudian kuangkat lagi serta kubenamkan lagi sembari kugoyangkan lama- lama ke kanan kiri serta ke atas serta dasar, gemetar badanku merasakan nikmat yang sebetulnya yang diberikan oleh Miss V Leona ini, aneh sangat luar biasa, vaginanya sangat menggigit lembut, menghirup pelan serta meremas senjataku dengan lembut. Betul- betul Miss V yang luar biasa, lain dari yang sempat kurasakan lebih dahulu.
Kemudian dengan lebih semangat lagi saya“ mendayung” dengan goyangan serta gerakan ciptaanku; pertama- tama goyang gergaji, kemudian goyang ngecor, terakhir goyang poco- poco… Kesimpulannya senjataku kubenamkan habis ke bawah vaginanya yang lembut, habis kutekan penisku dalam- dalam, nikmat luar biasa. Kulihat sekujur badan Leona mengencang, mata indahnya amat sayu menatapku serta napas bagaikan kuda pacu diiringi keringat mengalir disekujur badannya, rontaannya saat ini bukan buat membebaskan diri, tetapi malah buat menyongsong tiap goyangan serta gempuranku.
“ Oh yes, yesss… oh.. oh nomor, oh nomor” desahnya plin- plan.
Serta tidak hingga 5 belas menit setelah itu, kulihat matanya terbelalak keatas dengan kepala mendongak ciri dia lagi menikmati klimaks.
“ aduh…aduh sialan… gila… oh shiitt….” Serta sederet kata mutiara yang lain merentet keluar dari mulut Leona. Cairan hangat juga keluar dari vaginanya, menyiram penisku yang masih menggenjotnya.
Akupun sesungguhnya telah nyaris keluar, tetapi sebab tidak mau kilat kilat berakhir, saya menghentikan gerakanku serta mencabut penisku dari Miss V Leona. Suatu ilham menghantamku keras sekali seperti tinju Chris John, saya membuka jalinan kaki kiri Leona serta memiringkan badan bagian dasar Leona, sehingga badannya semacam terpuntir. Dan… itu ia yang kucari, lubang anusnya.
Saya menjilati telunjukku sampai lumayan basah, kemudian mulai ku usap- usap pada liang anusnya, kumasukkan telunjukku lama- lama pada lubang anusnya.
“ Eh mengapa lu! Eh gila… edan, jangan disana monyo…hmppp” Saya langsung membungakam mulutnya kembali dengan CD andalan.
Wajah Leona nampak pucat kala menyadari maksudku, iapun menggeleng- gelengkan kepalanya dengan pemikiran meminta. Sejenak saya pernah merasa tidak tega, tetapi mahluk bertanduk 2 serta berekor di sebelah kiriku terus menyorakiku buat maju terus, jadi“ mahluk bertanduk satu” inipun melakukan ajakannya. Saat ini nyaris segala telunjukku masuk kedalam anusnya, tubuhnya bergetar hebat diiringi dengan suara geraman marah dari Leona, diiringi rontaan yang lumayan keras. Tetapi saya tidak hirau serta terus melanjutkan niatku. Saya lekas mencabut telunjukku, serta selaku gantinya saya melekatkan“ sang Otong” di bibir anus itu. Kali ini“ sang Otong” terpaksa melongok isi gua yang lebih“ antik” lagi daripada yang tadi. Saya terus berupaya memasukkan batang penisku ke dalam anus Leona, tetapi sulit bukan main. Saya ingat kata orang kalo sulit masuknya, hingga kepalanya wajib diludahi dahulu, jadi saya meludahi tanganku serta mengusapkannya ke kepalaku( walaupun pernah heran pula apa ikatan antara sulit masukin penis ama ngeludahin kepala yang memiliki penis). TOGEL TERBAIK DI TAHUN 2026
Saya juga meneruskan perjuanganku, dan… sukses! Mulanya memanglah cuma kepalanya saja, kemudian lama- lama, senti demi senti batang penisku itu tenggelam masuk ke anus itu. Rontaan Leona saat ini kian merajalela, dia mengejan, dampaknya jepitan anusnya terus menjadi keras, sialan, cukup sakit pula. Tetapi saya pantang mundur serta meneruskan serbuanku, sampai kesimpulannya segala batang penis itu masuk. Leona cuma dapat merintih serta mengerang tertahan, matanya nampak berkaca- kaca, tentu sebab merasakan sakit yang amat sangat kala batang penisku itu mendesak masuk ke liang anusnya yang kecil. Saya istirahat sejenak, saat sebelum mulai bergerak keluar masuk. Kembali Leona menjerit- jerit tertahan serta meronta keras.
Tangan kiriku kemudian menyelusup mencari liang vaginanya, serta sehabis kutemukan saya lekas memasukan 2 jariku serta mengocoknya dengan kilat, sembari sesekali menyikat clitorisnya. Kupikir ini bisa jadi dapat sedikit menolong Leona meredam rasa sakit yang dia rasakan pada anusnya. Saya kembali bergerak, malahan batang penisku saat ini bergerak keluar masuk dengan kilat. Entah sebab kehilangan tenaga, ataupun sebab sadar kalau melawan juga tidak terdapat manfaatnya, rontaan Leona seketika terhenti, serta badannya juga cuma terguncang- guncang sebab sodokanku.
Sialan! Anus ini kecil banget, sangat kecil malah. Sampai tidak lama setelah itu, saya mulai merasakan desakan yang luar biasa kokoh pada batang penisku, semacam ingin rusak saja rasanya. Deru nafasku kian memburu serta jantungku secara hendak rusak sebab saking kerasnya berdetak. Kupercepat gerakanku naik turun, serta kuhujamkan penisku dalam- dalam pada anusnya.
“ Ahh.. oohh.. ohh.. aaaahh!”, saya merintih rintih panjang mengarah puncak kenikmatan. Serta saya juga menggapai orgasme, penisku seolah hendak meledak sebab tekanan dari dalam tubuhku, serta kesimpulannya penisku menyemburkan mani hangat ke dalam anus Leona.
Saya pernah kasihan pula pada jutaan sel spermaku yang bisa jadi bakalan pusing muter- muter nyari rahim, eh malah ketemu usus besar J Akupun menjatuhkan diriku ke kasur serta tiduran miring dibelakang Leona, tangan kiriku masih mengobok- obok vaginanya sedangkan bibirku mencium tengkuk serta lehernya, hmm abis digarap serta keringatan aja, badannya masih wangi banget. Sejenak saya menikmati atmosfer itu, kalo tidak begini triknya supaya nunggu sampe kepalaku ubanan pula, gak hendak dapat saya menikmati badan artis secantik Leona Alexandra. Sejenak saya tergoda buat memejamkan mata serta tidur begitu saja. Tetapi saya kemudian bangkit serta mengenakan pakaianku lagi, Leona kembali menggeram marah jadi saya membuka sumpalan di mulutnya.
“ Boneng udah dong, buka nih ikatannya, pegel nih” katanya jengkel.
“ He he, ntar dahulu atuh non kalo aku lepasin saat ini ntar non lapor polisi lagi. Ntar aja kalo aku udah kabur nanti aku lepasin” kataku.
“ Busyet, mikir dong! Kalo lu kabur duluan, siapa yang lepasin gue? Gue ingin dibiarin seperti ini ampe nenek- nenek?!” katanya marah.
” Udah lepasin aja, gue gak bakalan lapor polisi kok, gue pula mesti mikirin nama baik serta karir gue pula dong. Mana bisa jadi gue buka permasalahan ini ke publik” katanya lagi.
Bener pula! Pikirku dalam hati. Jadi akupun membebaskan seluruh ikatannya, iapun nampak bersungut- sungut sembari mengusap- usap pergelangan tangan serta kakinya.
“ He he he, makasih atas servicenya yah non. Saat ini aku pamit dahulu, bini tentu udah nungguin di rumah. Ntar kapan- kapan kita main lagi” kataku sembari berputar serta beranjak kabur.
Seketika“ Braakk” terdengar bunyi suatu yang rusak, serta kepalaku sakit banget rasanya, pecahan guci pajangan nampak berjatuhan diiringi tumbangnya badanku ke lantai, gawat! pandanganku mulai hitam. Dan… mbah Rhoma Irama kembali timbul dari kegelapan itu, dia menggeleng- gelengkan kepalanya sembari mengatakan.“ keledai aja gak hendak jatuh kelubang yang sama 2 kali“
Sialan, apa ini maksudnya saya lebih goblok dari keledai?! Auk ah hitam, saya ingin pingsan dahulu.
Aduuhh duh duh, sakit banget kepalaku rasanya semacam abis dijadiin trampolin ama kuda nil. Saya membuka mataku serta memandang sekitar dan… nyatanya saya lagi terbaring di trotoar di suatu jalur besar, hmm kayaknya tahu nih jalur. Saya bangkit duduk berupaya mengingat- ingat. Dikala itu sebagian anak wanita SMP berjalan melewatiku mereka nampak silih berbisik- bisik kemudian tertawa cekikikan sembari melalui. Kemudian sebagian ibu- ibu yang melalui pula melihatku dengan pemikiran aneh, emangnya terdapat yang aneh dengan diriku? Saya memandang sekujur tubuhku dan… Whoaaa shiiitt saya nyatanya telanjang bundar tanpa sedikit benang juga! Saya panik, berdiri sembari celingukan mencari pakaianku, tetapi tidak terdapat dimanapun.
Ahrggg ini tentu pembalasan dendam dari Leona! Saya bayangkan dikala ini dia lagi cekikikan puas membayangkan perbuatannya ini. Tetapi saya tidak marah padanya, dia memanglah berhak membalas dendam apalagi yang lebih parah dari inipun dia berhak, saya memanglah telah bersalah padanya. Saya lekas lari terbirit- birit mengarah rumahku, untungnya saya mengidentifikasi jalur ini, ialah Jalan. Kapten Tsubasa, kalo saya belok didepan situ saya dapat memotong jalur melalui pasar serta dari sana cuma 10 menit jalur kaki mengarah rumahku. Tetapi satu yang saya lupa… dipasar kan banyak orang! Mana saat ini lagi jam belanjanya ibu- ibu. Saya memantapkan mentalku serta berjalan separuh berlari melewati pasar, sialnya terdapat sebagian“ anak pasar” yang mengikut dibelakangku sembari bernyanyi- nyanyi.
BACA JUGA : Cerita Dewasa Bercinta Bersama Office Boy
“ Orang gila… orang gila… orang edan” senandung mereka.
“ Kasihan yah, tonggos- tonggos kok edan” kata seseorang bunda yang kulewati.
Walah, emang orang tonggos gak boleh edan! Eh saya kan gak edan! Saya memesatkan lariku serta mempergunakan jurus Pek In Gin- kang( ilmu meringankan badan awan putih) yang dahulu diajarkan Bu Eng Sin Yok Ong( Raja Tabib Sakti Tanpa Bayangan) sewaktu saya masih kecil. Tubuhku berkelebat kilat serta pendek kata sampailah saya dirumahku.
Semenjak dikala itu, Leona tidak sempat lagi timbul di Night Club tempatku bekerja. Saya sedikit pilu pula sebab tidak dapat lagi memandang wajah cantiknya yang umumnya menghiasi malamku. Tetapi kukira saya tidak boleh meringik, walaupun bagaimanapun saya dapat dibilang amat beruntung. Tidak cuma sukses menikmati badan Leona, saya pula masih leluasa dari penjara, tempat dimana saya sepatutnya meringkuk dikala ini. Entah mengapa Leona tidak melaporanku, bisa jadi sebab lebih banyak ruginya daripada untungnya bila dia melaporkanku, tetapi yang jelas belum terdapat laki- laki cepak berjaket kulit yang menjemputku ke hotel prodeo.
