Cerita Sex Kisah Dosen Lenny Yang Kesepian

 

 

 

Cerita Sex Kisah Dosen Lenny Yang Kesepian

Cerita Sex kali ini diberikan dari cerita seseorang Dosen Menawan yang membagi cerita yang sangat panjang, jadi ditentukan dikala membaca seluruh rasa tercampur aduk ayo ikuti ceritanya

Namaku Lenny, seseorang perempuan berumur 28 tahun yang sudah menikah serta dikaruniai seseorang anak. Saya mempunyai badan yang kerap dipuji teman- temanku selaku proporsi sempurna, dengan besar 173 centimeter, berat 55 kilogram, kulit putih, serta penampilan yang mereka bilang mirip model. Banyak laki- laki yang berupaya menggodaku sebab fisikku, tetapi saya senantiasa berupaya melindungi batas.

Dikala ini, saya menikmati karier yang brilian selaku dosen di suatu akademi besar negara ternama di Bandung. Saya jadi kesukaan mahasiswa, bukan cuma sebab ilmu yang kubagikan, tetapi pula sebab penampilanku yang katanya menarik. Apalagi, saya sempat viral di media sosial selaku“ dosen menawan”.

Suamiku, seseorang pengusaha mapan berumur 30 tahun, lumayan tampan serta berpenghasilan lebih dari lumayan buat keluarga kami. Awal mulanya, kehidupan kami harmonis serta senang. Tetapi, belum lama ini, seluruhnya berganti. Dia terus menjadi padat jadwal dengan pekerjaannya, tidak sering kembali ke rumah, serta komunikasi kami juga mulai tersendat.

Kebutuhanku, baik secara emosional ataupun modul, kerap kali tidak terpenuhi. Saya mulai merasa iri memandang teman- temanku yang kerap memamerkan keharmonisan keluarga serta beberapa barang elegan yang dibelikan suami mereka. Sedangkan saya, jangankan membeli benda branded, duit bulanan juga terbatas sebab suamiku lagi fokus meningkatkan bisnisnya.

Buat menanggulangi rasa frustrasiku, saya mulai kerap berangkat bersama sahabat. Saya lebih banyak menghabiskan waktu di luar rumah, apalagi sesekali menerima ajakan makan siang ataupun jalur dari laki- laki lain, semata- mata buat mengusir kebosanan. Semenjak itu, banyak yang bilang saya berganti. Style berpakaianku yang dahulu sopan serta konservatif sebab profesi selaku dosen saat ini jadi lebih berani. Saya mulai mengenakan baju ketat yang menonjolkan lekuk tubuhku, semacam rok mini serta atasan yang memperlihatkan belahan dada. Dengan dimensi bra 36C serta rok pendek, saya kerap menarik atensi laki- laki, serta jujur, itu memberiku kepuasan tertentu.

Sesuatu hari, suamiku memintaku menemui calon kliennya, Ikbal, seseorang laki- laki generasi Arab berumur 40 tahun, buat mengantarkan proposal kerja sama bisnis. Suami lagi terletak di luar kota, jadi saya yang menggantikannya. Saya sempat berjumpa Ikbal di kegiatan perkawinan kedekatan suamiku, serta dikala itu saya merasa tatapannya kepadaku sedikit berbeda, seakan dia tertarik.

Terpikir olehku buat menggunakan suasana ini demi kelancaran proposal suamiku. Proyek ini besar, serta keberhasilannya dapat menguntungkan kami. Saya juga menghubungi Ikbal buat membuat janji. Dia terdengar bersemangat dikala ketahui akulah yang hendak menemuinya. Kami setuju berjumpa di kantornya, tetapi di hari H, dia mengganti posisi ke suatu restoran ternama buat makan siang. okewla.com

Saya berdandan dengan sangat hati- hati: rok pendek di atas lutut yang memamerkan kakiku yang jenjang, dipadukan dengan blus putih ketat berbelahan rendah yang menonjolkan lekuk tubuhku. Sesampainya di restoran, Ikbal telah menunggu. Tatapannya menjelajahi penampilanku dari ujung kepala sampai kaki, serta saya ketahui saya sukses menarik perhatiannya.

Kami mengobrol ringan, dia bertanya tentang suamiku serta kegiatannya. Dikala mangulas bisnis, saya menyadari dia sesekali mencuri pandang ke arah dadaku serta kakiku. Saya membiarkannya, sebab itu bagian dari strategiku. Di akhir pertemuan, dia mengajakku berjumpa lagi di hari Sabtu buat makan siang, dengan alibi butuh mendiskusikan proposal lebih lanjut dengan penasihatnya. Saya sepakat, walaupun curiga itu cuma alibi buat berjumpa lagi.

2 hari setelah itu, kami berjumpa kembali. Kali ini, Ikbal lebih santai serta terbuka. Dia memanggilku“ Dek” serta memintaku memanggilnya“ Mas” supaya lebih akrab. Dia mulai berbagi cerita individu, kalau dia seseorang duda yang kesepian walaupun mempunyai banyak harta. Saya berupaya senantiasa handal, menanyakan jenis perempuan idamannya, berharap alihkan topik. Dengan cerdik, dia memujiku, berkata kalau perempuan semacam akulah yang sempurna menurutnya. Saya tersenyum, berupaya tidak terpancing, serta melindungi obrolan senantiasa ringan.

Kami banyak mengobrol, dari hobi sampai hal- hal yang lebih individu. Entah kenapa, saya mulai merasa aman berdialog dengannya. Dia pandai menyanjung serta berlagak sopan, membuatku sedikit lengah. Di akhir pertemuan, dia bertanya kapan dapat berjumpa suamiku. Saya menarangkan kalau suamiku hendak ke luar pulau sepanjang sebulan mulai lusa. Dia juga menganjurkan pertemuan lagi di kantornya pada Senin pagi buat mangulas kontrak kerja sama.

Senin pagi, saya datang di kantornya yang elegan serta berkelas. Kami mangulas kontrak dengan sungguh- sungguh sampai menjelang tengah hari. Ikbal mengajakku makan siang, serta saya menerimanya, berpikir ini merupakan bagian dari proses perundingan. Pertemuan itu berjalan mudah, tetapi saya mulai merasa terdapat ketertarikan yang lebih dari semata- mata bisnis di pihak Ikbal.

Saya diantar oleh sopirnya, duduk di sofa balik bersama Ikbal di sedan Jerman elegan miliknya. Selama ekspedisi, dia menceritakan tentang bisnis- bisnisnya yang luar biasa. Kami melewati lebih dari 10 industri miliknya, serta saya tidak dapat menahan rasa kagum. Tetapi, di balik kekayaannya, saya pula merasakan sedikit iba. Betapa sepinya mempunyai harta melimpah tanpa seorang buat berbagi.

Kami datang di restoran elegan serta eksklusif buat makan siang. Ikbal memesan ruang privat, membuat atmosfer terasa lebih seksual. Dikala berbincang, dia seakan dapat membaca kegelisahan di hatiku.“ Dek, kalian nampak gundah dikala membicarakan keluargamu. Terdapat permasalahan dengan rumah tanggamu?” tanyanya lembut.

Saya tidak dapat menahan diri. Kuceritakan seluruh kegelisahanku tentang hubunganku dengan suami yang saat ini terasa hambar. Ikbal mencermati dengan penuh atensi, menjawab tiap keluhanku dengan bijaksana, membuatku terus menjadi kagum padanya.“ Dek, kapan juga kalian perlu sahabat cerita, Mas senantiasa terdapat. Kapan saja,” katanya tulus.

“ Terima kasih, Mas. Mas baik sekali ingin mencermati ceritaku,” jawabku, merasa tersentuh. Sehabis makan, dia menawarkan buat mengantarku kembali. Dia pula mengendalikan supaya mobilku yang tertinggal di kantornya diantar stafnya ke rumahku. Tanpa ragu, saya menerima tawarannya.

Dalam ekspedisi kembali, dia mengajakku mampir ke suatu mal. Di situ, dia membawaku ke gerai mode elegan dari merk Italia ternama.“ Dek, tas mana yang kalian suka?” tanyanya. Saat sebelum saya pernah menanggapi, dia mengambil tas yang kusebut bagus serta langsung membelinya untukku. Saya kaget.“ Mas, ini sangat mahal!” protesku.

Dia tersenyum,“ Ini hanya perkataan terima kasih sebab kalian ingin mencermati cerita Mas. Suatu yang telah lama tidak Mas rasakan.” Saya kesimpulannya menerimanya, berpikir kalau menurutnya, ini bisa jadi tidak seberapa. Lagipula, tas ini dapat jadi suatu buat kupamerkan ke teman- temanku.

Sesampai di rumah, Ikbal mengajakku makan malam pada Kamis malam. Saya menyanggupi, terlebih suamiku masih di luar kota. Toh, kerja sama ini hendak menguntungkan suamiku pula, pikirku. Pada hari yang dijanjikan, saya berdandan dengan tank top mini dress gelap yang ketat, menonjolkan lekuk tubuhku dengan sempurna.

Saya memilah naik taksi sebab masih merasa sungkan bila dia menjemputku. Sesampai di restoran, saya terpana. Dia memilah restoran elegan di rooftop dengan panorama alam kota Bandung yang indah di malam hari. Sangat opsi yang berkelas.

Dikala makan malam, Ikbal tidak henti- hentinya memujiku.“ Dek, saya sangat mengagumimu. Semenjak awal kali kita berjumpa di kegiatan perkawinan itu, saya telah tertarik. Terus menjadi kukenal kalian, terus menjadi kokoh keinginanku buat memilikimu,” katanya seketika. Saya terdiam, perasaan bercampur aduk. Rumah tanggaku lagi tidak harmonis, serta di hadapanku terdapat laki- laki yang kagumi melaporkan perasaannya. Tetapi, saya masih memikirkan anakku.

Memandang kebingunganku, dia mengatakan,“ Dek, Mas tidak memohon jawaban saat ini. Mas ketahui kalian tentu bimbang. Mas hanya memohon peluang buat meyakinkan intensitas Mas.” Sehabis berpikir sejenak, saya menanggapi,“ Baiklah, Mas. Jika hanya begitu, saya dapat.”

Selama ekspedisi kembali, Ikbal terus menjadi mesra. Anehnya, saya malah merasa aman, bisa jadi sebab dia membuatku merasa dicermati. Di depan rumahku, dia membagikan suatu iPhone baru.“ Dek, ini biar kita dapat komunikasi lebih bebas tanpa takut ketahuan suamimu,” katanya. Saya menerimanya, walaupun ragu.

Semenjak itu, komunikasi kami terus menjadi intens. Dia kerap mengirimkan perkata mesra, serta saya mulai terbawa atmosfer. Sesuatu hari, dia mengajakku ke rumahnya buat menuntaskan kontrak kerja sama. Saya terencana berdandan seksi dengan hot pants serta tank top, sedikit bernazar menggodanya.

Rumahnya luar biasa elegan, membuatku terus menjadi kagum. Sehabis urusan kontrak berakhir, kami duduk santai di kursi. Dia mulai menggodaku, serta saya membalas dengan centil. Lama- lama, dia mendekat.“ Dek, kalian menawan banget hari ini,” katanya.“ Makasih, Mas,” jawabku tersenyum.

“ Jika kalian berpakaian begini, Mas jadi pengen macam- macam sama kalian,” candanya.

“ Macam- macam seperti apa, Mas?” tantangku.

“ Jadi pengen meniduri kalian, Dek,” ucapnya blak- blakan.

“ Emang Mas berani?” balasku, mulai terpancing.

Dia merangkulku,“ Jika Mas berani, gimana? Nanti kalian ketagihan, lho.” Saya tertawa,

“ Emang Mas dapat buat saya ketagihan?” Seketika, dia memusatkan tanganku ke kemaluannya sembari mengatakan,

“ Mas generasi Arab, Dek. Ini besar.” Saya kaget dikala merasakan ukurannya. Benak bandel timbul: gimana rasanya bila itu masuk ke dalam diriku? Gairahku mulai bangkit.

Dia mencium pipiku, kemudian bibirku. Saya membalas ciumannya, serta kami berpagutan penuh gairah. Tangannya meraba payudaraku, membuatku mengerang,“ Erhh… pelan- pelan, Mas.” Dia terus menjadi liar, meraba pahaku sampai selangkanganku. Saya mulai basah, gairahku tidak tertahankan. Dikala dia hendak membuka tank topku, saya berbisik,

“ Ke kamar aja, Mas. Saya malu jika di mari, nanti terdapat yang amati.”

Dia menggendongku ke kamarnya. Kami kembali berpagutan. Dia membuka tank top serta braku, menyanjung keelokan payudaraku sembari menciumnya. Saya membalas, membuka kaus serta celananya. Penisnya nyatanya lebih besar dari yang kubayangkan. Saya menjilatinya, buatnya meracau kenikmatan.“ Kalian pintar banget, Dek. Nikmat sekali,” pujinya.

Sehabis puas dengan oral, dia membaringkanku di ranjang. Dia menjilati payudaraku, kemudian turun ke vaginaku dengan ganas. Saya mengerang,“ Ih… lezat banget, Mas. Terus…” Jarinya masuk ke vaginaku, serta saya orgasme buat awal kalinya cuma dari oral sex.

Setelah itu, dia memusatkan penisnya ke vaginaku. Lama- lama, dia masuk, serta saya merasakan kenikmatan luar biasa.“ Besar banget, Mas. Terusin…” pintaku. Dia mulai menggenjotku, terus menjadi kilat. Saya meracau,“ Ah… terus, Mas. Gede banget… lezat!” Sampai kesimpulannya, saya orgasme lagi. Dia memposisikanku menungging, kemudian menggenjotku dari balik. Saya orgasme buat ketiga kalinya. okewla.com

Dia membaringkanku lagi, merebahkan badannya di atasku, serta kembali menggenjot.“ Dek ingin kerap digenjot Mas?” tanyanya.“ Ingin, Mas… ooh,” jawabku. Kesimpulannya, kami orgasme bertepatan. Dia menciumku, mengatakan,“ Mas sayang kalian, Dek.” Saya membalas,“ Adek pula, Mas.”

Pengalaman itu luar biasa. 4 kali orgasme dalam satu waktu, suatu yang belum sempat kurasakan. Semenjak itu, saya serta Ikbal terus menjadi mesra, semacam 2 sepasang yang dimabuk asmara. Kami kerap melaksanakan video call mesra, serta saya mengiriminya potret- potret seksi, apalagi telanjang.

Kami pula kerap berjumpa di rumahnya buat memadu kasih. Sesuatu kali, dia mengajakku menginap di villanya di Lembang. Saya beralasan terdapat aktivitas kampus. Pagi itu, dia menjemputku. Selama ekspedisi, kami bercumbu mesra di sofa balik, tidak hirau sopirnya.

Villa Ikbal sangat indah, besar, dengan kolam renang serta panorama alam lembah yang luar biasa. Tidak lama sehabis datang, dia mengajakku berendam di jacuzzi. Saya masuk dengan cuma sehelai handuk yang kulepas dikala masuk. Kami berpagutan, dia meremas payudaraku, serta saya terus menjadi bergairah. Jemarinya menari di vaginaku, membuatku mengerang,“ Lezat, Mas… terus.”

Saya mengocok penisnya yang terus menjadi keras. Tidak tabah, saya duduk di atasnya, memasukkan penisnya ke vaginaku.“ Ooh…” nikmatnya tidak terbayangkan. Saya bergerak naik- turun, serta tidak lama, saya orgasme. Dia kemudian memposisikanku menungging serta menggenjotku dari balik. Saya orgasme lagi, serta dia juga menggapai klimaks di dalamku.

Sehabis puas bermain di jacuzzi, kami menikmati makan siang bersama. Selama hari, saya cuma menggunakan lingerie seksi yang spesial dibelikan Ikbal untukku. Menjelang sore, kami terletak di balkon lantai 2, memandangi panorama alam matahari terbenam yang indah. Seketika, Ikbal memelukku dari balik, mulai mencium leherku dengan penuh gairah. Dengan penuh nafsu, dia memintaku berdiri mengangkang serta sedikit menungging, kemudian menjilati vaginaku dengan liar.

Saya kembali basah, serta Ikbal lekas memasukkan penis besarnya ke dalam vaginaku. Sensasi melaksanakan ikatan seksual di tempat terbuka membuat adrenalinku terpacu, bercampur dengan rasa khawatir jika terdapat yang memandang.“ Mas… saya malu, nanti terdapat yang lihat… ooh,” racauku di tengah kenikmatan.“ Perkenankan saja, Dek. Supaya mereka iri melihatku menggagahimu,” jawabnya penuh yakin diri. Kami terus melaksanakannya lumayan lama sampai kesimpulannya orgasme bertepatan.

Selama waktu di villa itu, kami tidak henti- hentinya bercinta—di dapur, ruang tamu, sampai pinggir kolam renang. Rasanya semacam tidak terdapat kata letih. Saya betul- betul ketagihan dengan Ikbal, menikmati tiap momen seksual dengannya. Keesokan harinya, kami kembali dengan perasaan puas yang tidak terucapkan. Saya mau terus merasakan sensasi ini.

Baru sebulan kurang kami dekat, tetapi cerita seksual kami telah begitu banyak. Nyaris tiap hari kami berjumpa serta bercinta, walaupun kadangkala cuma sebentar di kantornya buat quickie. Saya terus menjadi terobsesi dengan seks, tidak dapat satu hari tanpa memikirkannya. Sesuatu hari, Ikbal mengantarku ke kampus tempatku mengajar. Di parkiran, kami pernah bercumbu.“ Mas, saya lagi pengen makan hotdog nih,” godaku sembari meraba penisnya. Kubuka celananya, menjilati penisnya dari pangkal sampai ujung, kemudian memasukkannya ke mulutku.

“ Lezat banget, Dek. Kalian terus menjadi pintar, Mas kian sayang,” pujinya. Saya terus menghirup sampai dia orgasme, spermanya mengalir hangat di tenggorokanku.“ Makasih, sayang,” ucapnya sembari mencium keningku. Kerutinan ini terus bersinambung tiap kali dia mengantarku mengajar.

Sesuatu sore, dikala Ikbal menjemputku dari kampus di tengah hujan deras, kami kembali tidak kuasa menahan gairah. Di parkiran, kami bercumbu sampai kesimpulannya bercinta di dalam mobil. Saya duduk di pangkuannya, menggoyangkan tubuhku dikala penisnya masuk ke vaginaku.“ Ooh… lezat banget, Mas. Gede banget…” racauku, menikmati tiap genjotannya. Tidak lama, saya orgasme lagi.

Kami memiliki Kerutinan baru: merekam tiap tahap bercinta kami seakan kami bintang film porno. Menyaksikan ulang video- video itu senantiasa menaikkan keseruan. Apalagi, sebagian kali saya memamerkan video tersebut ke teman- temanku, mau menampilkan betapa perkasa Ikbal dikala bercinta denganku. |rayuanjanda.com

Sesuatu hari, Ikbal menawarkan suatu yang berbeda: threesome dengan sopirnya, Ahmad, laki- laki berumur akhir 40- an yang masih nampak fresh serta tegap dengan kulit gelap bersih. Saya ketahui Ahmad diam- diam menaruh hasrat padaku, serta saya sendiri penasaran dengan sensasi threesome. Saya juga menyetujui. Kami berangkat ke suatu hotel elegan di pusat kota Bandung.

Di kamar hotel, cocok instruksi Ikbal, Ahmad mulai mendekatiku.“ Neng, Kang Ahmad boleh nyobain ngewe sama Neng, ya?” katanya sembari meraba payudaraku lembut. Saya mengangguk, serta Ikbal menyemangati,“ Mari, Mad, gosok!” Kami berpagutan, bertukar ciuman yang panas. Ahmad nyatanya lihai bermain lidah. Tidak lama, dia membuka mini dress serta celana dalamku.“ Badan Neng indah banget, Kang Ahmad senantiasa penasaran,” katanya sembari menanggalkan pakaiannya.

Penisnya yang gelap serta perkasa nampak di atas rata- rata, walaupun tidak sebesar kepunyaan Ikbal. Saya membayangkan kenikmatan dihujam 2 penis besar. Ahmad mulai menjilati putingku, membuatku mengerang,“ Ooh… lezat, Mad…” Jemarinya yang agresif menjelajahi vaginaku, membuatku terus menjadi bergairah.“ Neng, Kang Ahmad pengen tititnya diisep,” pintanya. Saya bagi, menjilati penisnya dari pangkal sampai ujung, kemudian menghisapnya.“ Aah… lezat banget, Neng. Pantesan Ayah ketagihan,” pujinya.

Sehabis itu, dia memposisikanku menungging serta memasukkan penisnya lama- lama, kemudian menggenjotku terus menjadi kencang.“ Lezat banget, Neng. Memek Neng kecil banget,” katanya. Saya meracau,“ Terusin, Mad… ooh…” Dikala seperti itu Ikbal bergabung, memusatkan penisnya ke mulutku. Sensasi dihujam dari 2 sisi sangat luar biasa.

Sehabis puas dengan posisi menungging, Ahmad membaringkanku serta terus menggenjot dengan ganas, sedangkan saya menghirup penis Ikbal.“ Ooh… Ahmad ingin keluar, Neng…” katanya.“ Di dalam aja, Mad…” pintaku, merasakan orgasme mendekat. Kami juga orgasme bertepatan.“ Gimana, Mad, lezat tidak?” tanya Ikbal.“ Nikmat banget, Pak. Memek Neng Lenny luar biasa,” jawab Ahmad bersemangat.

Mereka bergantian menggarapku, serta saya tidak terhitung berapa kali orgasme hari itu. Pengalaman itu sangat tidak terlupakan, serta pasti saja kami merekamnya. Saya pula memamerkan video itu ke teman- temanku. Sehabis itu, saya kerap menggoda Ahmad, kadangkala meremas penisnya dikala berjumpa. Tetapi, Ikbal tidak sempat lagi mengajakku threesome dengan Ahmad. Bisa jadi dia merasa sedikit cemburu bila saya terus“ dipakai” Ahmad.

Kehidupan seksualku bersama Mas Ikbal terus menjadi intens. Hubunganku dengan suamiku sendiri malah terus menjadi tidak sering, apalagi saya tidak sempat lagi mengambil inisiatif buat berhubungan seksual dengannya. Sebabnya simpel: suamiku telah tidak sanggup lagi penuhi hasratku yang makin menggebu.

Tetapi, berita mengejutkan tiba di bulan ketiga hubunganku dengan Mas Ikbal. Dia terkena jantung dikala bekerja di kantor serta wafat dunia dalam ekspedisi ke rumah sakit. Saya betul- betul terpukul. Bukan cuma sebab dia sudah mengambil alih kedudukan suamiku dalam penuhi kebutuhan seksualku, namun pula sebab sokongan modul yang sepanjang ini dia bagikan.

Rasa kehabisan itu mendorongku buat mencari pelampiasan baru. Saya mulai membuka diri lagi pada pria- pria yang berupaya mendekatiku, menerima ajakan mereka buat makan malam ataupun semata- mata mengobrol. Tidak tidak sering, pertemuan itu berakhir dengan petualangan satu malam. Saya melaksanakannya sebab dorongan hasrat yang begitu kokoh, yang lebih dahulu senantiasa terpenuhi oleh Mas Ikbal.

Sesuatu malam, dikala suamiku lagi dinas ke luar kota, saya berangkat clubbing bersama sahabat. Di situ, 2 laki- laki yang lumayan tampan mendekatiku. Mereka memperkenalkan diri selaku Anton serta Teddy. Umur mereka kayaknya lebih muda dariku, serta saya berpikir,“ Boleh pula nih, main sama cowok- cowok muda tentu seru.” Kesimpulannya, kami memutuskan buat melanjutkan malam itu di suatu hotel.

Sesampainya di kamar hotel, saya kaget. 2 laki- laki lain, Joni serta Rendi, telah menunggu di situ. 4 orang sekalian? Saya pernah ragu, tetapi hasratku telah terlanjur membara. Anton serta Teddy mulai mendekat, menciumku dengan penuh gairah. Joni serta Rendi tidak ingin ketinggalan; tangan mereka mulai menjelajahi tubuhku, meremas serta memainkan payudaraku. Saya merasakan gelombang birahi yang terus menjadi kokoh.

“ Wow, ini jackpot malam ini!” kata Rendi sembari memandangi tubuhku dengan penuh kekaguman.“ Santai, kita nikmati pelan- pelan supaya puas,” timpal Anton. Joni serta Rendi terus menjadi liar, memainkan putingku dengan lidah mereka, sedangkan saya cuma dapat mendesah,“ Ohh… enak…”

Anton dengan kilat melepas rok serta baju dalamku.“ Wah, terpelihara banget ini,” ucapnya sembari mulai menjelajahi vaginaku dengan lidahnya. Saya mendesah terus menjadi keras, tubuhku bergetar menikmati tiap sentuhan. Cairan pelumas mengalir deras, ciri saya telah siap buat langkah selanjutnya.

“ Udah becek banget, gua duluan ya,” kata Anton sembari memposisikan dirinya. Penisnya, walaupun tidak sangat besar, terasa begitu hidup dengan urat- urat yang menonjol serta ujung yang tebal.“ Ohh… kecil banget, lezat!” erangnya sembari mulai menggerakkan pinggulnya.|rayuanjanda.com

Sedangkan itu, Teddy, Joni, serta Rendi pula tidak tinggal diam. Mereka melepas baju mereka, memperlihatkan badan yang atletis serta penis yang, walaupun rata- rata ukurannya, lumayan membuatku penasaran. Reza memintaku buat menjilati penisnya, sedangkan Teddy serta Joni memohon tanganku buat mengocok kepunyaan mereka. Saya merasa semacam terletak di pusat kenikmatan yang luar biasa.

Anton mengganti posisiku, memintaku buat memeluknya dari atas. Saya menggoyangkan pinggulku, merasakan penisnya memegang tiap sudut sensitifku.“ Oh my God, lezat banget!” erangnya. Di dikala yang sama, Reza menyodorkan penisnya ke mulutku. Saya menghisapnya dengan penuh semangat, buatnya mengerang,“ Edan, sedotannya mantap banget!”

Seketika, saya merasakan suatu memegang lubang anusku. Terdapat cairan dingin—mungkin gel pelumas—yang membuatku sedikit kaget. Tidak lama, saya merasakan barang tumpul masuk lama- lama. Itu Teddy. Dia menyudahi sejenak sehabis masuk, kemudian mulai menggerakkan pinggulnya dengan pelan. Saya tidak dapat berpikir jernih lagi. Tubuhku semacam diserbu dari seluruh arah—vagina, anus, serta mulutku penuh dengan kenikmatan.

“ Ehh… ohh…” Saya mendesah tidak terkontrol, hingga kesimpulannya orgasme pertamaku datang.“ Ia udah klimaks, tentu keenakan banget!” pendapat Reza sembari tersenyum.

10 menit lalu, Anton menggapai klimaksnya. Saya merasakan cairan hangat mengalir di dalam vaginaku. Tidak lama, Reza pula memuncratkan spermanya di mulutku, membuatku sedikit tersedak sebab volumenya yang begitu banyak. Teddy menyusul, mengisi anusku dengan cairannya. Saya merasakan aliran hangat dari kedua sisi tubuhku.

Tanpa memberiku waktu buat istirahat, Joni mengambil alih. Dia menggenjotku dari balik dengan penuh semangat. Saya kembali mendesah,“ Ohh… uhmm…” Kenikmatan itu membawaku ke orgasme kedua. Ketiga temannya cuma menyaksikan kali ini, seakan menikmati panorama alam.

Malam itu bersinambung sampai pagi. Mereka bergantian menikmatiku, serta saya juga larut dalam kenikmatan yang tidak sempat kurasakan lebih dahulu. Kami kesimpulannya tertidur sebab keletihan.okewla.com

Pagi harinya, mereka mengantarku kembali. Kami tidak bertukar no telepon, tetapi saya tidak sangat memikirkannya. Masih banyak laki- laki lain di luar situ yang dapat kujelajahi. Rasanya, malam itu jadi titik dini petualangan seksualku yang terus menjadi liar.

Sesuatu hari, suamiku wajib berangkat ke luar negara buat urusan bisnis, meninggalkanku sendirian sepanjang 2 pekan. Saya tidak sempat turut campur dengan urusan pekerjaannya, jadi hari- hariku kuhabiskan dengan jalan- jalan ke mal, berangkat ke salon, ataupun menjajaki kelas senam buat mengisi waktu.

Tetapi, kesepianku berganti ekstrem sebab suatu peristiwa tidak terduga yang mengaitkan supirku, Bobby. Hari itu, sehabis kembali dari kelas senam, saya tidak menyangka apa yang hendak terjalin. Semacam biasa, begitu datang di rumah, saya membuka pintu mobil serta langsung masuk, melangkah menaiki tangga melingkar mengarah kamar utama di lantai 2.

Di dalam kamar, saya melontarkan tas ke sofa dekat pintu serta mulai melepas baju senamku yang bercorak gelap, sampai cuma tinggal bra serta celana dalam. Dikala melintas di depan kaca meja rias, saya terhenti sejenak. Saya memandangi tubuhku sendiri—betis yang masih kencang, pinggul lebar berupa semacam gitar dengan pinggang kecil, serta bokong yang masih kencang menonjol. Saya menyamping, mencermati lekuk tubuhku, kemudian memandang buah dadaku yang masih terbungkus bra, nampak penuh serta padat.

Seketika, saya tersentak.“ Ouh, mengapa kalian di mari?!” seruku, kaget, dikala memandang bayangan kepala Bobby di kaca. Warnanya, dia berdiri di ambang pintu kamar yang kurang ingat kututup.“ Jangan amati! Keluar, kilat!” bentakku sembari buru- buru menutupi tubuhku. Tetapi, alih- alih bagi, Bobby malah melangkah masuk, mendekat dengan tatapan tajam.

“ Bobby, keluar saat ini!” bentakku lagi, mataku melotot marah.“ Silakan teriak sekuatnya, Bu. Hujan di luar hendak menutupi suara Bunda,” katanya dengan nada menantang. Saya melirik ke jendela di sampingku. Hujan memanglah turun deras, serta dedaunan di luar bergoyang diterpa angin. Kamar ini kedap suara, membuatku terus menjadi takut.

Langkah Bobby terus menjadi dekat, serta jantungku berdegup kencang. Saya mundur lama- lama, tetapi kaki kesimpulannya tersandung pinggir ranjang.“ Mas, jangan!” ucapku dengan suara gemetar. Seketika, Bobby menerjangku. Tubuhku terpental ke ranjang, serta dalam sekejap, badannya yang perkasa menindihku. Saya meronta, menendang serta mendorongnya dengan kedua tangan serta kakiku, tetapi tenagaku tidak sebanding. Dia kewalahan sejenak, tetapi kesimpulannya saya sukses membebaskan diri, berputar, serta merangkak menghindar.

Tetapi Bobby lebih kilat. Dia menarik celana dalamku sampai robek, membuatku terseret kembali ke pinggir ranjang. Saya terus merangkak, berupaya menghindar, tetapi dia menangkapku lagi. Seketika, saya merasakan beban berat di pinggulku, membuatku tidak dapat bergerak.“ Bobby, jangan… tolong!” isakku, air mata mulai mengalir.

Bobby seakan tidak mendengar. Dengan kilat, dia mengikat kedua tanganku ke balik dengan tali entah dari mana. Kemudian, dia menarik kakiku, mengikat pergelangan kakiku sampai saya tidak dapat bergerak leluasa.“ Saya mau mencicipi Bunda,” bisiknya di telingaku.“ Semenjak awal kali melamar jadi supir, saya telah membayangkan momen ini.” Napasnya terdengar memburu.

“ Tetapi saya majikanmu, Ben!” protesku, berupaya mengingatkannya.“ Betul, Bu, tetapi itu dikala jam kerja. Saat ini telah jam 7 malam, saya leluasa tugas,” balasnya sembari melepas tali bra yang kukenakan. Saya merinding dikala dia mendengus di dekat telingaku, melepas pakaiannya sendiri, kemudian membalikkan tubuhku sampai saya telentang.

Saya dapat memandang badan atletisnya yang telanjang. Tidak lama, dia menarik kakiku sampai pahaku melekat pada perutku, kemudian mengikatnya lagi dengan tali. Dia menggendongku ke sudut ranjang, mendudukkanku di pangkuannya, semacam bapak memeluk anak wanita. Tangannya yang agresif mulai meraba pinggul, paha, serta bokongku, sedangkan tangan yang lain menahan pundakku sampai kepalaku bersandar di dadanya yang bidang.

“ Bobby, tolong, jangan!” ucapku berulang- ulang, suaraku terbata- bata. Tetapi dia tidak hirau. Tangannya terus menjelajahi tubuhku, membuatku merinding. Dikala jemarinya memegang belahan pahaku, saya mengencang, merasakan sensasi semacam tersengat listrik.“ Ohh…” desisku tanpa sadar dikala jarinya mulai mengusap bibir vaginaku dengan lembut, naik- turun, sampai saya merasakan denyutan serta gatal yang tidak tertahankan.

Birahiku mulai naik, terlebih telah lama suamiku tidak menyentuhku. Entah gimana, bibirku seketika berjumpa dengan bibirnya. Kami berciuman penuh gairah, silih menjilat serta menghirup.“ Lenny, wajahmu begitu menggoda,” bisiknya dengan nafas terengah. Kemudian, dia menarik tubuhku sampai buah dadaku terletak di depan mukanya. Mulutnya langsung memagut putingku, mengisap serta menggigit kecil, membuatku mendesah panjang,“ Ohh… Mas…”

Perasaanku campur aduk—takut, jengkel, tetapi terdapat kenikmatan yang tidak dapat kuingkari. Seketika, dia membebaskan tubuhku sampai saya terhempas ke ranjang. Tidak lama, mulutnya melumat bibir vaginaku dengan buas, membuatku menggelinjang serta mengerang keras.“ Bobby… cukup… ohh!” rintihku, tubuhku mengejang menahan sensasi geli serta nikmat yang luar biasa.

Jarinya mulai menjelajahi lorong vaginaku, mengeduk dengan lembut tetapi tentu.“ Tabah, sayang, saya suka sekali dengan badanmu,” gumamnya sembari terus menjilat. Sehabis puas, dia mendekat ke wajahku, meremas buah dadaku.“ Bu Lenny, saya masuk saat ini, ya,” bisiknya. Saya cuma dapat memejamkan mata dikala kurasakan penisnya yang keras menekan masuk ke dalam vaginaku.

“ Aah… sakit!” jeritku, merasakan ngilu yang luar biasa. Tetapi dia bergerak pelan, seakan menikmati tiap gesekan. Gerakannya terus menjadi kilat, membuat tubuhku berguncang hebat. Seketika, kami bersama mengerang keras. Saya merasakan orgasme yang luar biasa, diiringi oleh Bobby yang terhempas di sampingku, napasnya tersengal.

“ Sialan kalian, Bob!” geramku, memecah kesunyian. Sehabis sebagian dikala, napasku mulai tenang.“ Kalian edan, Ben! Kalian memperkosa istri majikanmu!” kataku dengan nada jengkel.“ Gimana jika saya berbadan dua?” tanyaku lagi, takut.

“ Tenang, Bu. Saya telah mengombinasikan kapsul antihamil di air putih yang Bunda minum tiap pagi sepanjang 2 hari ini,” jawabnya dengan tenang. Saya kaget.“ Jadi, kalian telah merancang ini?!” bentakku. Dia cuma tersenyum. |rayuanjanda.com

“ Gimana, Bu? Tadi lezat, kan?” tanyanya sembari membelai rambutku. Wajahku memerah. Dalam hati, saya tidak dapat menyangkal kalau saya menikmati kenikmatan itu, apalagi merasakan orgasme 2 kali.“ Lepasin talinya, Ben!” gerutuku, tanganku telah pegal.

“ Nanti dahulu, kita mandi dahulu,” katanya sembari menggendongku ke kamar mandi. Dia meletakkanku di lantai keramik di dasar pancuran shower, kemudian menyalakan air. Tubuhku basah, serta dia mulai menyikat tubuhku dengan sabun cair, dari pinggul sampai buah dadaku. Tangannya yang agresif terasa lembut dikala meremas putingku, membuatku kembali mendesah.

Sehabis memandikanku, dia menggendongku kembali ke ranjang, masih basah.“ Saya ambilkan santapan, ya,” katanya, kemudian berangkat dengan handuk melilit pinggangnya. Saya termenung. Telah lama saya tidak merasakan kehangatan semacam ini sebab suamiku yang senantiasa padat jadwal. Walaupun saya jengkel serta malu, terdapat perasaan lega yang susah kujelaskan.

Bobby kembali dengan nasi goreng serta segelas minuman favoritku.“ Supaya saya suapin, Bu,” katanya lembut. Saya mencicipi makanannya, serta nyatanya lumayan lezat.“ Kalian yang masak, Ben?” tanyaku.“ Iya, siapa lagi? Kan hanya kita di rumah,” jawabnya.

“ Bu, boleh saya panggil Mbak Lenny? Supaya lebih akrab,” pintanya.“ Terserah,” jawabku.“ Jika gitu, panggil saya Bang Bobby, ya,” celetuknya. Saya cuma mengangguk, masih merasa campur aduk.

“ Masih kokoh, Mbak?” tanyanya dengan senyum bandel, tangannya kembali meraba tubuhku. Saya menunduk, tidak menanggapi. Dalam hati, saya ketahui saya tidak rela, tetapi kenikmatan tadi membuatku tidak dapat menolak seluruhnya. Malam itu, saya semacam kembali merasakan gairah yang sudah lama lenyap.